Selasa, 17 Desember 2013

142. Kehancuran oleh Smaug

Bilbo Bagins bersama 12 kurcaci dan penyihir Gandalf kembali meneruskan perjalanan ke timur ke Lonely Mountain dengan tujuan Kerajaan Erebor, tempat di mana negeri para kurcaci pernah direbut. Perjalanan tentu tak semudah pergi ke taman safari, banyak aral melintang, mulai dari teror Pasukan Orc yg mengabdi untuk Yang Agung, demi membunuh para kurcaci, dikurung elf di gua, serta serangan laba-laba raksasa di hutan Mirkwood.


Sutradara: Peter Jackson
Penulis naskah: Fran Walsh (screenplay), Philippa Boyens (screenplay)
Pemain: Ian McKellen, Martin Freeman, Richard Armitage, Orlando Bloom
Studio: Warner Bros


Dalam keadaan terpojok, Bilbo (Martin Freeman), kerap memakai cincin yang dicurinya dari Gollum. Ia bisa menghilang atau tak terlihat. keadaan ini sangat membantunya menghajar kawanan laba-laba haus darah dan membebaskan teman-temannya saat ditawan elf/peri di gua. Namun ketika ia ingin mengaku telah memiliki cincin sihir itu pada Gandalf (Ian McKellen), "Aku telah menemukan sesuatu dalam perjalanan ini." Katanya sembari ingin mengeluarkan cincin itu dari sakunya. "Apa itu?" - "Keberanian," cincinnya ia kembalikan ke sakunya lagi.


Di film kedua ini, Bilbo telah berubah dari seorang hobbit rumahan menjadi pemberani. Juga instalasi kedua ini lebih powerful dengan intens pertarungan yang lebih sengit dan banyak, lihat saja serunya duel antara para elf, kurcaci, dan orc di sungai deras, juga kerjasama yg kuat para kurcaci melawan Smaug yang sangar dan kejam.


Lantas, berhasilkan para kurcaci merebut tanah kelahirannya dari cengkeraman Smaug? Lalu bagaimana nasib Gandalf yg sengaja menyerahkan diri ke gunung Dul Gordur, markas orc, makhluk jelek dan beringas itu?


The Hobbit: Desolation of Smaug telah rilis internasional sejak 13 Desember silam.


Dolby Atmos

Menikmati The Hobbit dengan Dolby Atmos (sistem suara inovasi terbaru dari Dolby Digital) seperti semua adegan, khususnya suara, masuk ke semua sudut ruangan. Bener 360 derajat. Beda banget dengan Dolby Digital Surround 7.1, di mana audio hanya bolak-balik di kanan-kiri. Auditorium Dolby Atmos saluran speaker-nya terpasang puluhan di langit-langit (bioskop biasa hanya ada lampu-lampu di langit2). bener-bener maksimal. Bagi yg mau mengalaminya mampir aja ke Epicentrum XXI di Epiwalk, di samping Bakrie Tower. HTM mulai 25.000 sampai 35.000 (weekend). Cobalah...

Selasa, 29 Oktober 2013

141. Saat Wabah Flu Menjadi Bencana



Judul: The Flu
Genre: Drama-thriller, disaster
Sutradara : Kim Seong Su
Penulis Naskah : Kim Seong Su
Pemain :
Jang Hyeok, Soo Ae, Park Min Ha, Yoo Hae Jin, Ma Dong Seok, Kim Ki Hyeon
Studio: CJ Entertainment

Dua petugas pemadam kebakaran menemukan segerombolan imigran tewas dalam peti kontainer di pelabuhan Bundang (halo-halo Bundang, eh?). Ternyata masih ada satu imigran Filipina yang selamat dan terjangkit flu burung. Sialnya dia kabur saat akan digelandang ke kantor imigrasi.

Tak pelak, virus dengan cepatnya mewabah dalam kurun 36 jam. Semua warga terjangkit, mulai dari polwan yang sedang bertugas hingga mempelai wanita yang akan menikah, hingga mereka ambruk dengan mulut bersimbah darah. Demi upaya meredam wabah, Pemerintah mengisolasi Bundang dan melarang warganya untuk keluar. Sontak semua warga menjadi rusuh; supermarket dijarah, warga bentrok dengan aparat, dan kota kacau balau. Seorang pemadam kebakaran, Kang Ji-Koo (Jang Hyuk), termasuk yang dikarantina demi menyelamatkan Dr Kim In-Hae (Soo-Ae) yang anaknya, Mirre (Park Min-Ha) telah terjangkit. Mereka berdua dikejar-kejar waktu demi mencari antibodi dan tentu menyelamatkan anaknya agar tidak dimusnahkan aparat. "Dimusnahkan" merujuk pada sinematografi saat ribuan warga sekarat dibuang bak sampah ke stadion dan akan dibakar. Sebuah gambar yang cukup meremas hati penontonnya.

Film Korea tema disaster-virus pernah dirilis tahun 2006 (The Host) yang sempat menjadi box office. Dengan mengangkat virus flu burung, film ini mencoba menggambarkan bagaimana sebuah kota dan negara sangat panik menghadapi virus yang telah bermutasi dan tak ada obatnya itu. Keadaan semakin pelik saat sekutu Korsel yaitu USA ikut campur dan membuat geram presiden Korea (diwujudkan dengan presiden pria, ganteng, harusnya presiden Korea kan perempuan).

Flu menjadi salah satu film terbaik tahun ini. Nggak rugi kalaupun saya harus bayar 100.000 per tiket. Padahal saya pesan tiket jam diskon wkwkwkwk. Film ini sudah diputar sejak 9 Oktober di jaringan blitzmegaplex.

Selasa, 24 September 2013

140. Tarian Pemanggil UFO

Abu Sudar


Kawan-kawanku bilang kalau aku inigila karena pernah mengaku melihat UFO. Lantas apakah harus kutukar kedua mataku ini ke mata mereka agar mereka percaya bahwa makhluk luar angkasa itu ada dan sedang melancong ke planet biru ini. Jika ucapanku sekadar angin kentut, aku sudi terjun dari gedung sekolahku yang tiga lantai ini.

*


Aray, teman semejaku, menyenggol lenganku. Rambutnya yang kribo memang mirip brokoli yang dijajakan di Pasar Mayestik. Ia tidak mengolok-olok atas pengakuanku melihat UFO. Namun ia selalu bertanya perihal benda janggal itu.



“Mike, Sandy,juga Hardy pengen menantang lu gan,” ujarnya bermimik serius. Jerawat dijidatnya nyaris meledak.

“Terus?”

“Kalau elu bisa membuktikan UFO ituke mereka, maka motor mereka bertiga bakal di jual dan duitnya disebar kelapangan untuk lu ambil gan.”



Wuih, sungguh menantang danprovokatif. Aku langsung saja mengiyakan taruhan itu tanpa berpikir macam-macam.Aku benar-benar di atas angin. Kedua tanganku terlipat di dadaku. Dalam sekedipanmata, aku kanjadi jutawan muda hasil judi. Ya hanyauntuk orang-orang yang membayar terlalu mahal akalnya yang mundur, lalu merekaakan berlutut di depan bokongku.


Galih Subroto. Itu namaku yang terukir di sebuah kartu peserta ujian akhir semester. Aku benar-benar tak bisa konsentrasi untuk belajar sementara pikiranku terus saja berjumpalitan.Bagaimana membuktikan ke tiga preman ingusan itu bahwa pesawat itu pernah melintas di atas rumahku. Saat itu aku sedang berdansa di balkon diiringi Blackor White-nya Michael Jackson. Pupilku membesar. Aku turun, lantas mengejar benda berwarna merah itu yang mendarat di pinggir kali tak jauh dari rumahku.Aku bersembunyi di balik belukar kering, memastikan apakah ada seorang alien atau bahkan makhluk jadi-jadian berkuping panjang mirip Yoda. Barangkali jenis Nordics yang mirip manusia itu.Ternyata cuma UFO ukuran mini yang mendarat. Aku tak mau terjadi ini-itu, begini-begitu, sehingga aku mengibrit ke rumah.


Di ruang laboratorium IPA, Sandy mendekatiku. Minyak wanginya mirip aroma om-om. Mungkin ia memakai milik kakaknya.


“Hey kumis kucing, UFO itu cuma pesawat teknologi Jerman yang dirancang Schriever, Habermohl, Mierth, dan Bellanzo pada Perang Dunia II,” Sandy bersungut-sungut menyebutku kumis kucing dengan telunjuk menempel di kumis puberku yang masih tipis.

“Hah? Ente percaya hoax?” sergahku mencengkram tangannya. Kami memang jawara kelas sejak dulu—antara 1 atau2—hingga memasuki program IPA di SMA favorit ini. Dia adalah sahabat kecilku.Dan dalam satu dekade terakhir, baru kali ini kami berseberangan lantaran kesaksianku melihat UFO yang ditolaknya.


“Andaipun itu hoax, ane lebih percaya itu daripada mengamini alam pikiran si kumis kucing macam ente!”lecehnya.

*


Aku, Aray, dan ketiga preman ingusan sudah ada di city car milikku tak jauh dari TKP tatkala aku memandang UFO tempo hari. Tak ada crop circle tepat pesawat itu berpijak sebab mungkin kontur tanah di sini keras dan ukuran UFO itu yang lebih mini, sekitar berdiameter 5 m. Jadi aku tak bisa membuktikan pada mereka jejaknya. Pun mereka membantah usai nonton video Alien Autopsy berdurasi 17 menit itu. Itu hanyalah rekayasa belaka, sebagaimana kita hanyut pada cerita fiksi-ilmiah semacam Jurasic Park dan The X Files, kilah mereka keras.


Langit malam ini cerah semringah, namun tak dengan suasana jiwaku yang kalut. Bisakah aku buktikan pada mereka akan pesawat gemblung itu mendarat di sini. Hah, kampretlah!! Tetapi masih ada segumpal keyakinan bahwa pesaswat itu bakal muncul walau hanya melintas kerlap-kerlip di langit yang gelap.


“Malam yang bikin bosan,” keluh Michael atau Mike, ”Lu punya gulali nggak, Lih?”

Aray melempar sekeping biskuit kewajahnya. Ia kaget, terperanjat lalu mengambil biskuit yang nemplok dijidatnya, lantas ia caplok.


“Sebentar lagi kita akan melihat sikumis kucing ini terjun dari gedung sekolah bermodalkan parasut. Parasut yang mengembang oleh geloranya, hahahahaha,” kali ini Hardy yang mengungkit-ungkit hadiah sayembara itu.


“Woi, lihat itu!!!” suaraku merobek angkasa, menyumbat bacot Hardy yang masih menganga.

Kami bangkit dan secara serentak keluar mobil melihat benda bersinar di langit berwarna oranye itu. Kami memandangi benda itu dari jarak jauh atau istilah ufologinya Noctural Lights. Yang mana UFO itu terbang cepat kemudian berbelok dan raib terselimuti awan malam.


“Wah, apa itu?” Sandy tercekat dan tercengang mungkin.

“Ah, itu cuma bola api terbang kiriman dukun!” tingkuh Hardy, senyumnya melecehkan.

“Itu cuma kunang-kunang raksasa!!! Kita ingin UFO sungguhan, mendarat di sini lalu kita terbang ke seluruh alam semesta, hahay!” Mike tertawa lebar, serpihan biskuit menghitamkan giginya.

*


Aku lelah. Aku belum mandi sedari sekolah. Ingin ke Planetarium malam ini, melihat angkasa. Barangkali ada UFO melayang di sana berputar-putar turun ke bumi. Aku berbaris bersama kaum yang percaya fantasi melawan kaum yang haus logika. Andai saja alien ada di kitab suci. Mereka akan percaya meski tak pernah melihatnya. Seperti malaikat yang gaib. Mengapa mereka percaya. Ah itu cuma agar mereka tak dianggap kafir!


Aha! Aku punya gagasan cemerlang untuk memancing UFO dan ufonot itu. Usai penampakan di langit tiga hari lalu yang kurang memuaskan kami, tekadku kuat untuk memanggil UFO itu. Bukan dengan sandi morse ataupun telepon seluler. Ya,aku teringat tarian pemanggil hujan. Dan bilamana itu sukses, betapa puasnya aku bermandi jutaan rupiah sementara para pecundang berlutut di depanku.

*


Ini menggelikan sekaligus menyeramkan,manakala aku mesti menari di bantaran kali untuk memancing pesawat siluman itu dengan gaya Michael Jackson. Ya mungkin UFO menyukai musik pop ala MJ hingga aku bertemu dengannya untuk pertama kali di balkon. Dan di sini aku meletakkan mini compo yang memutarkan cakram padat album MJ. Hentakannya yang rancak bikin aku menari-nari. Sensual. Tubuh remajaku yang ranum sangat seksi dalam remang ini. Aduhai….


Kami berlima suntuk dalam mobil. Jenuh. Kantuk menjadi tamu keenam di antara kami. Setelah mereka puas mengolok-olok tarian suramku, aku tentu belum puas tanpa kehadiran piring melayang itu. Aku kan bayar janjiku: terjun dari gedung sekolah. Oh Galih Subroto… kau masih muda.Janganlah keras kepala. Kau pasti menyesal.


“Ya sudahlah, ayo pulang!” Sandy mengajakku pulang. Dia yang kalah atau aku yang kalah?

“Tak ada yang perlu dibayar, ya kan bro?” serunya ke anak-anak yang lain. Dan mereka setuju.

“Wow, kita mundur?” tandasku sambil meremas setir mobil.

“Ya, mundur untuk maju.”


Aku bergeming. Aku membeku selama 30 menit. Mungkin diundur 30 menit bisa menciptakan peluang bertemu target kami.


“Baru kali ini kita menjauh kan, hanya karena hal misteri: UFO brengsek,” ia memegang tanganku, hangat, dan bergetar. “ Ane pengen besok kita bersatu lagi, main futsal bareng, main Angry Birds, dan saingan dapat juara.’


DUKK!!!

Belum sempat aku mencerna uneg-unegnya, aku dan mereka dikejutkan oleh suara dan guncangan. Horor. Menggoyang mobilku ke kanan-kiri. Meteorit jatuh? Kami saling tatap dengan muka sepucat kuntilanak.


Mike beranjak dan melihat apa yang terjadi. Ia kembali dengan muka sedingin salju.

“UFO!!!”


Spontan kupacu sedanku mengebut. Kukeluarkan jurus berakselerasi bak Sebastian Loeb. Mulus, lancar, tanpa hambatan. Kami selamat.


“Lu berhalusinasi kali Mike!” tanya Hardy penasaran.

“Mana mungkin UFO! Aneh, ente. Ya mobil Galih hancur! Dodol ente!” sanggah Sandy jumawa.

“Ya kan kata Galih UFO-nya mini.Barangkali dia cuma menempel, tidak menekan mobil,” bela si saksi, Mike dengan amat yakin.


Kecuali aku, mereka bertiga masih saja menampik dan mementahkan pengakuan Mike. Gaduh sekali. Perang diplomasi malam ini.


“DIAM SEMUA!!!” hardikku panik.

“Lihat, mobil gue terbang kan, nggak napak aspal.”


Kami sungguh ketakutan, anjlok suhu tubuh kami pada malam kelabu ini. Mencekam, karena makhluk itu datang terpancing tarianku. Tarian Michael Jackson tepatnya.

“Kita diangkat UFO, alien reptoid.”Sandy percaya itu. Aku menang. Tapi tidak! OhTuhan, tolong kami.

“Kita diculik alien gan, hu huhu…,” rengek Aray. Ia menangis. Mereka bertiga berpelukan seperti hendak disembelih. Sementara Sandy meremas tanganku. Aku terpukul, darahku mogok mengalir.


Semakin tinggi, melayang, berputar-putar. Entah bagaimana, bagaikan ada daya magnet yang mengangkat mobilku. Sekejap saja pasti mobilku akan dihempaskan ke bumi oleh alien keparatitu.


“Lima detik lagi kita mati brooooo…!!!” lirih Mike. Jigongku kecut sudah. Lepas sudah separuh nyawaku.


Makhluk bajingan! Mereka telah membuat teman-temanku mengkerut. Mereka gemetar kedinginan. Tidak! Kami terhimpit oleh kesialan yang mendadak. Tanpa permisi lewat depan mobilku.


BLITZ!!!

Sekonyong-konyong kilat merah menghalangi pandanganku. Tubuhku ringan dan terungkit ke atas. Aku mengapung dalam lautan merah. Ya Tuhan, aku sudah di neraka. Ke mana mobilku? Ke mana kawan-kawanku? Aku terombang-ambing di antara buih-buih cahaya yang menyilaukan netraku. Bingung, ngeri, dan cemas bercokol dari kepala hingga jempolku. Kaos biruku kuyup oleh peluh. Jinsku kian lisut mencekik kulitku.


Obsesiku bertemu UFO terkabul. Makhluk ajaib itu sanggup bikin aku merasakan sensasi yang menakjubkan. Aku bisa melayang tanpa tali, tanpa sayap. Luar biasa! Takkan mampu kulupakan. Ini lebih monumental daripada mencium gadis di bawah umur, di bawah pohon, di bawah sinar rembulan bulan Februari.


Tidak! Aku tetap saja bingung, ngeri, dan cemas. Di mana mobilku? Kado jerih payahku menggapai juara umum. Di mana pula keempat temanku. Kami diculik. Kami akan disandera, dibunuh, otak kami disedot. Kecerdasanku akan dicuri. Mereka bakal merampok ilmu manusia,seperti ilmu fisika, yang ditemukan oleh James Joule, Einstein, Galileo,Pascal, Archimedes, dan banyak lagi. Mereka hendak menguasai dunia. Kurang ajar. Kurang asem! Takkan kubiarkan.


“Aray!” panggilku pada ruang kosong yang pengap.

“Galih!” suara itu menyahut. Suarasi rambut brokoli. Hanya suara.

“Mike!”

“Galih, di mana elu?” balasnya parau. Masih suara saja. Paling tidak mereka masih hidup. Beruntung.

“Hardy!”

“Woi, gue di sini!”

Ya Tuhan, puji syukur, kawan-kawnku masih bernyawa.

“Sandy!”

Sepi.

Sahabat kecilku belum menjawab.

“Sandy!”

Ke mana dia? Di mana dia? Bagaimana dia?

SANDYYYY…!!!”


Jeritanku menghantam sisi-sisi selaput cahaya merah ini. Semakin berpendar, lalu berubah semakin pucat, mengerucut membentuk spot di atas kepalaku. Aku berpijak di lantai putih yang dinginnya mengopek kulit, menembus ketsku. Di mana aku? Dimensi apa ini? Aku diteleport ke planet mana?


Ada sosok tinggi mendekatiku. Ini alien Nordics sepertinya. Mirip di film Battlefield Earth, namun lebih bagus perawakannya. Nordics itu membawa pasukannya. Prajurit kadal! Sebentar lagi aku akan dipancung. Seram…!!!


“Hey boy!” suaranya dalam bahasa Inggris, bahasa manusia. Dia diam-diam kursus di EF. Ya, mereka sungguh mencuri ilmu kami.

“Yes I am.” Matanya biru, rambutnya jingga, tampan. Inikah the fallen angel?

“How are you, boy?”

“I’m bad! Why you did kidnap me, us?!”bentakku sok jagoan. (Buruk! Kenapa kau menculikku, kami).

“No abduction. You all ask forexploring the universe with me, right?” (Tak ada penculikan. Kamu meminta menjelajah alam semesta denganku, kan?)


Kami hanya ingin melihat, dan kalaupun diajak mengarungi luar angkasa tak keberatan. Tapi ini terlalu pagi, masih syok melihat pesawat alien ini yang memiliki gaya sentrifugal terbang secara vertikal. Apalagi mengangkat mobilku tanpa ketuk pintu.

“Yes, then where all four of myfriends?” (Ya, lalu di mana keempat kawanku?)

“One of them jumped from your vehicle,” ucapnya memegang bahuku. (Salah satunya lompat dari kendaraanmu)


Aku tersungkur ke lantai ini. Cakarku menggoresnya, perih hatiku. Air mataku berhamburan, mengristal dan terhampar di sini. Aku berlutut di tempat ini. Aku bersujud di depan bokongku sendiri. Keras sekali kepalaku. Aku menyesal.


Helai per helai air mata ini mengguyur kemarau di sukmaku. Kian lama membasahi dan menggenangi mataku. Tiap pagi, tiap petang, tiap malam, dan tiap kusebut namamu. Aku tak berharap reda. Aku tak berharap melupakan namamu, duhai sahabatku



____

Pernah dimuat di majalah Story nomor 47


Minggu, 21 Juli 2013

139. Peramal Fiksi

Cerpen ini pernah diikutsertakan pada lomba akhir tahun Pena Nusantara, dan menyandang gelar 10 besar.


Oleh: Abu Sudar


Nino mengguncang bahuku, berkata seperti menggenapi tiap keganjilan yang aku sangkal belakangan ini. Namun tetap saja aku masih tercenung di antara percaya dan skeptis. Apa yang ia beberkan bagai pasal-pasal KUHP yang tak mau kudengarkan, tapi wajib kuterima. Ah, itu tak mungkin. Aku mesti memilih skeptis. Sekali lagi Nino menegaskan kalimatnya, “Apa kamu tak percaya bahwa kamu bisa meramal masa depan, Atika?”


Aku memang belum terlalu lama tenggelam dalam dunia sastra profesional. Baru 2 tahun. Selama kuliah karya-karyaku harus puas terpampang di media online tanpa bayaran. Sebukit latihan dan segenggam keberuntungan yang akhirnya mempersilakan secarik cerpenku yang terbuat dari tinta air mata tembus ke koran nasional terpandang. Di mana saat ratusan penulis lain yang berambisi karyanya masuk koran tersebut harus tersisih oleh aku yang baru pertama kirim, dan langsung dimuat dalam masa tunggu 2 bulan.


Pemuatan perdana itulah yang memacu dan memicu aku untuk terus berkarya bahkan mengebut dengan puluhan cerpenku yang terpajang di berbagai media. Akan tetapi kesah dan bimbang yang terdeteksi olehku diamini oleh Nino. Semangat dan nyaliku untuk terus menari dengan pena seolah-olah akan terbis ke kubangan ketakutan yang tak beralasan. Akan tetapi, aku berlanjut kendati kusulam benang-benang aksara yang basah lantaran gundah.


“Bukankah waktu cerpenmu yang ‘Putus Masa’ itu terbit, akibatnya seminggu kemudian ada kasus gantung diri siswi SMP sebab tak lulus ujian nasional,” terangnya berkobar.

“Itu cuma kebetulan kok, sayang.” Aku menolaknya dengan tegas meski galau tak mampu kuhalau.

“Tokoh dalam cerpenmu kan juga siswi SMP, gantung diri. Faktanya?” Ia menggantung ucapannya, memaksa aku untuk menyetujui hal yang masih aku sangsikan.

“Sekali lagi, itu cuma fiksi!” Suaraku berat dan merendah.


“Mirip novel Futility karya Morgan Robertson itu kan? 14 tahun sebelum Titanic berlayar, dalam novelnya ia mengisahkan sebuah kapal bernama Titan yang tenggelam karena menabrak gunung es. Lalu kamu bilang itu sekadar fiksi yang hiperdramatis, Atika?” Ia masih saja ngotot.

“Nino.” Aku memanggilnya, mengajaknya menutup topik abu-abu ini.

“Titan yang fiksi dan Titanic yang nyata ada kemiripan. Titan berat kotor 70 ribu ton, Titanic 66 ribu ton. Dan pemilik Titan dan Titanic keduanya orang yang pongah!”


Tanganku meremas pundaknya. Dahiku kusandingkan ke dagunya. Aku membaui lehernya yang beraroma artemisia bercampur musk. Kupejamkan mataku. Kusandarkan jiwaku pada kekasihku tersayang yang tengah berusaha mencintaiku apa adanya. Membuatku takut dan kalut. Cemasku tiada terkira bila mesti kehilangan dirinya. Namun aku juga berat bila mesti gantung pena. Apa pun itu, semua cuma kebetulan semata.

*


J.B Rhine. Aku menemukan nama itu usai melempar umpan “melihat masa depan/prekognisi” ke lautan siber yang tak berbatas. Peneliti dari Duke University, USA, ini, memelopori teknik penelitian prekognisi sebelum Perang Dunia II. Bagaimana aku harus hanyut dengan alam pikiran orang Barat yang konon modern itu. Apa mereka begitu fasik dan tak percaya pada misteri ilahi yang takkan tersibak. Kalaupun tersibak, apa mungkin bisa terkuak oleh ilmiah yang bersarang di perguruan-perguruan tinggi di Barat.


Itu hiperbolik. Bagiku dunia parapsikologi tak ubahnya dari santet, pelet, sihir, jimat pusaka yang bermarkas di pondok-pondok dukun yang komat-kamir dihiasi bunga tujuh rupa dan asap kemenyan juga dupa. Lebih baik dan efisien bila negeri ini membangun lembaga-lembaga akademis jurusan budi pekerti dan toleransi.


Aku menggulung layar browser, aku melemahkan power komputer sebelum mematikannya. Barang-barang telah aku rapikan dan kumasukkan ke tas kulit reptil. Aku beranjak, berjalan menjauhi ruang kerjaku. Kantor hampir sepi pada senja yang gerimis ini.


Seperti biasa, kutunggu Nino di halaman parkir. Taburan hujan menggenangi aspal berlubang. Tak dinyana, 20 menit merayap cepat di pos satpam tempatku berteduh. Nino belum juga tampak.


TIN!

Klakson itu memanggil penantianku. Dia keluar dan membukakan pintu untukku. Rinai gerimis mempercepat gerakannya. Senyum ekstra manisnya berujar minta maaf. Aku membalasnya. Dia mendekat, menempelkan bibirnya ke pipiku. Romantis sekali.


“Ada relasi antara cerpenmu yang tempo waktu dimuat di koran itu dengan berita di koran yang sama hari ini.” Nadanya diendapkan. Koran itu mendarat di pangkuanku. Aku sudah tahu itu. Gemetar sekali tanganku.

“Atika!” Serunya, mengajakku berdiskusi.

“Nino, aku lelah!” Aku menyergah dengan jengah. Kubuang wajahku ke luar. Aku sudah berpikir logis bahwa kasus tenggelamnya lima anak di waduk itu adalah tulisan takdir, sementara andaipun cerpen ramalanku itu benar, hanyalah salinan teks takdir dalam bingkai fiksi yang ambigu. Tetapi dari mana aku mendapatkan ide-ide untuk menyulam alur cerita yang ternyata akan berubah nyata? Di sini letak kebimbangan dan keraguanku yang melahirkan sangkalan-sangkalan yang membenturkan tiap-tiap opini Nino.


“Berhenti saja menulis. Cerpenmu membawa sial!” Dengan entengnya dia memuntahkan ejekan ke mukaku.

“Kamu yang gila, Nino! Pikiranmu terlalu konyol dan klenik!”

“Lantas para ilmuwan di Universitas Duke bahkan Universitas Edinburg adalah pribadi-pribadi yang konyol dan klenik?” Ia meningkuh tak mau kalah.

“Sayang… itu bukan ilmu eksakta dan kita masih punya sikap demokratis untuk percaya atau tidak.”


Sedan telah ia singkirkan di tepi jalan. Dibelinya 12 linting tembakau kering. Dibakarnya rajangan tembakau itu sampai lumat. Kepul-kepulnya menyeruak di udara.

“Maka tulislah hal-hal yang indah dan positif.” Dia memerintah. Dia bertitah.

“Aku tak sanggup. Kegelisahan, kesunyian, nestapa, dan kekalahan adalah raga-raga suci dalam sastra yang siap dimasuki roh-roh para pembaca yang menyelami dan memahami maksud persoalan mereka sendiri,” paparku puitis.


“Demi aku.” Tatapannya melekat. Dia menempelkan dahinya ke dahiku. Kami saling menghirup napas membaui desah dan lenguh. Kubasahi bibirnya yang kering. Kulancipkan dagunya yang tumpul.

“Bagaimana jika prekognisi buruk datang lewat media mimpi. Aku tak sanggup menghadangnya.”

“Lakukan saja yang mampu kamu kontrol.”


Nino telah memojokanku ke ujung pilihan yang berat: sastra atau cinta. Aku tak mampu memilih mana yang mesti aku tinggalkan karena aku tak mau memilih.Tetapi masih ada pilihan ketiga: pengorbanan.

Pengorbanan punya kuasa untuk memilih apa yang tak mau kupilih. Akhirnya aku memilih cinta pertamaku. Cinta yang sudah kutiduri dan beranak-pinak berbagai kesenangan dan kepuasan yang tak tertakar. Sebuah dunia yang melingkupiku yang berdampingan dengan pria-pria yang singgah dan pergi. Dua hal yang berbeda dan tak sebanding untuk dipilih di antaranya lalu dilepas atas nama ketidakpantasan. Namun, pengorbanan berbicara lain.


“Kalau begitu, aku punya kontrol untuk memilih.” Aku memutuskan usai seperempat jam merenung. Nino menoleh. Ketampanannya membiru dibalut kekeraskepalaannya. Egosentris.

“Kalau kamu tak mau menerima aku seutuhnya, aku memutuskan selesai. Titik!” Kalimat klise itu teramat mudah dilafalkan, oh sungguh berat untuk ditekadkan. Di sini waktu membeku dan kami terpaku.

“Okay!!!” Hardiknya. Matanya menyemburkan api. Bibirnya gemetar. “Aku tak suka dengan perempuan keras kepala yang maunya menang sendiri. Suatu saat pegang ucapanku itu. Dan… terima kasih atas keindahannya selama ini. Paham?”

Argumennya dilanjutkan dengan tekanan suara yang tinggi walau rasa getir terbaca di bibir.


Aku bangkit, membuka pintu, dan bergegas menjauhinya.

“Atika….” Suaranya khas, lembut nan sendu. Aku menoleh, menatap sekilas, lalu aku segera masuk rumah.

Kubanting tubuhku ke kasur pegasku. Aku dicengkram kuku-kuku emosi. Dengan gunting amarah kutebas pita-pita keputusan. Senja ini angin merajuk sentimentil. Air mata menggenang di ceruk bantal. Punggung bergetar digelayuti sesal.


Aku belum juga beranjak dari ranjang. Bulir-bulir amis keringat tak juga kubasuh. Malam datang sesuai jadwal. Kemuraman wajah Nino bersemayam di otakku. Dirinya menangis. Namun semua hanya ilusi. Dia takkan pernah menangis akibat perbuatannya sendiri.


Malam ini hendak kufiksikan kisahku. Gulungan kertas imajiner telah terhampar. Akan kurancang cerita dengan tokoh utama pria yang tewas lantaran mencampakkan kekasihnya hanya untuk idealisnya. Lantas akan kubuktikan pada ilmuwan-ilmuwan Barat bahwa gejala-gejala di lingkup hidupku akhir-akhir ini sekadar dua hal yang bergulir hampir bersamaan: fiksi dan nyata. Bukan pertanda awal yang menandakan kejadian berikutnya, melainkan kesamaan yang berjalan beriringan dengan hanya disekat waktu yang tipis; sekarang dan esok, siang dan malam, juga detik dan menit. Lagi pula aku bukan Nostradamus, yang dengan sajak-sajaknya dia lihai meramalkan kelahiran manusia sebesar Bung Karno, perpecahan Katolik, Revolusi Bolshevik, dan peristiwa seakbar Perang Dunia I dan II.


Namun belum kutemukan dari mana mesti kuurai cerita ini. Dari kekeraskepalaannya, kasih sayangnya, atau teduh tampan pesonanya? Air hujan menderas, kalimatku menetes. Kutenggak mililiter demi mililiter bir pilsener. Kupacu deru napas yang tersengal-sengal demi melahirkan kisah penuntas dendam. Kutimang-timang semakhluk prosa yang konon mampu berkuasa. Kutitipkan dirinya di meja redaksi koran edisi Minggu.


Pagi yang menjelang, tubuhku belepotan oleh alkohol dan keringat. Dendamku padanya bukan untuk mencelakainya, tetapi sekadar membuktikan bahwasanya semua itu jelas bohong. Lantas, ketika “ramalan”-ku yang tak kusengaja itu berubah nyata, akankah yang disengaja ini pun akan sama. Maka jangan salahkan aku dan Morgan Robertson bila ternyata sang fiksi yang kami bangunkan berjalan berdampingan dengan kenyataan.


“Toloooonngg….” Lirih suara seorang pria berasal dari depan rumah. Jam 3 pagi saat kulirik arloji. Hujan memudarkan suara itu lamat-lamat. Aku meniti anak tangga dengan terhuyung. Penasaran sekali, siapa yang mohon tolong pada Sabtu dini waktu.


Aku mendapati pria tak berdaya tergeletak di luar pagar. Tubuhnya kuyup oleh darah dan guyuran hujan. Aku sangat panik. Kudekati, kusentuh, kutolong dirinya yang sekarat. Darah menggumpal di jantungku.

“Kamu kenapa?” Alih-alih lekas menolong, aku malah bertanya pada nyawa yang nyaris terbang ke langit. Aku bimbang, apa yang harus kuperbuat.

“Saya habis dirampok.” Sepotong nyawanya dikumpulkan untuk berbicara patah-patah. Kaos merahnya menjadi pekat terendam darah.

“Kamu yang membunuhku!” Tuduhnya. Segera ia bangkit dan mencekik leherku. Aku berontak, gelagapan. Mengapa dia justru menyerangku dan menuduh aku membunuhnya sementara ia belum mati. Ini gila. Apa dia zombi?


“Lepaskan!” Aku menjerit, melawan. Aku terlepas tapi kuku zombi itu berhasil mencakar dadaku. Tanganku meraih pagar. Naasnya pagar terkunci mendadak. Jerit histerisku meledak. Suasana mencekam. Kengerian menggurita di sekujur ruang.

“Atika….” Dia tahu namaku, menangkapku, memelukku dari belakang.

“Jangan....” Aku menangis terisak.

*


Kubuka kelopak mata tiba-tiba. Kucermati apa pun di depanku. Kucerna sekelumit memori di kepala. Ternyata aku baru saja keluar dari alam mimpi.


Sang surya merangkak tinggi. Cericit burung pemanggil pagi telah lama pergi. Ragaku payah. Otakku masih saja memutar ulang adegan mimpi yang hampir meredup tersaput kesadaran. Yang jelas aku mengenal ciri khas kala ia memanggil namaku. Siapa dia?


Ponselku berdering. Endang, kakak sulung Nino, memanggilku. Malas rasanya berhubungan dengan keluarganya lagi.


“Halo, Mbak!”

“Atika…” Suaranya rintih nan perih. Seperti sebiji gejolak tersedak di kerongkongan.

“Kenapa, Mbak?”

“Nino….” Disebutlah nama lelaki itu dengan irama parau. Tetapi dia tak kuat melanjutkan sekilas berita siang hari ini. Sambungan terputus. Firasatku jelek.


Aku menerawang keburukan. Otakku mencari-cari sisa ingatan mimpi yang seperti tersambung ke sepotong kabar yang tak tuntas. Kutengok ke selembar cermin. Kuselidik bayanganku.


Di dada bagian atas ada luka cakaran segar, tergores oleh cakar mimpi. Aku menangis sepuas-puasnya. Aku mengerang sebulat-bulatnya. “Nino…!!!” Teriakku bergemuruh dengan pikiran yang rusuh.


Apakah Nino mati dirampok? Pelan-pelan aku memercayainya. Pelan-pelan pandanganku kabur. Dan perlahan-lahan dia merengkuhku dari belakang.

“Atika….” (*)





138. Teror dari dalam Pasifik

Judul film: Pacific Rim


Pada suatu masa, bumi diserang secara masif oleh monster laut dari planet di luar bumi yang masuk melalui Lubang Terobosan-semacam wormhole. Bumi digambarkan di ambang kehancuran, di saat kekuatan militer tak dapat berbicara banyak, manusia membuat robot raksasa (jaeger) yang dikendalikan oleh dua pilot dengan sistem saraf yang terhubung ke mesin robot-untuk melawan kaiju (bhs jepang, monster raksasa). Berhasil. Namun masalah belum selesai saat otoritas meminta proyek Jaeger dihentikan krn dianggap gagal-memakan banyak korban pilot dan Kaiju pun berevolusi semakin kuat. Maka opsi terakhir adalah membangun dinding pertahanan, mencegah serangan kaiju dari laut. Proyek dinding pertahanan juga gagal karena kaiju mampu menghancurkan dinding itu juga. Akhirnya proyek jaeger kembali dihidupkan.


Dengan teknologi canggih dari Industrial Light and Magic milik Lucas film, yang juga membuat seri film Star Wars, pertarungan antara Kaiju dan jaeger terlihat nyata dan menakjubkan. Gedung gedung pencakar langit remuk bak wafer. Citra keagresifan kaiju juga terekam dengan baik. Namun sayang semua itu terasa hambar ketika segmen drama, yang menyorot pergolakan batin para pilot di balik jaeger , kurang tergarap, meski memakan 1/3 bagian film dan hamnpir menjenuhkan. Sesi kilas balik Mako Mori (Rinko Kikuchu) mengingat memori masa kecilnya saat orangtuanya tewas akibat serangan kaiju cukup memberi ruang drama miris.


Tokoh utama film, Raleigh Becket (Charlie Hunnam), juga digambarkan sangat klise: tentara US berbadan tegap. Hanya tokoh Mako dan ilmuwan dr Newston (Charlie Day) dan Stacker Pentecost (Idris Elba) yang menarik disimak.


Bagi penggemar film robot, mungkin Pacific Rim mampu menyegarkan dahaga visual akan pertarungan dahsyat antara robot dan alien.


Sejak rilis 12 Juli lalu di US, film ini belum pernah bertengger di puncak box office, selalu diselak Despicable Me 2.


Jumat, 05 April 2013

137. Lupus di Era Go Green




Fenomena Lupus (novelnya pertama kali rilis tahun 86) hadir saat dunia tidak seriuh saat ini di mana segala informasi tumpek-blek. Tahun 90an tidak banyak pilihan program televisi yang melenakan. Dengan terbatasnya hiburan visual dan perlbagai aplikasi dari ponsel yang membuai, membaca menjadi salah satu cara mengisi waktu lengang. Hilman Hariwijaya menciptakan tokoh remaja cerdas dengan penampilan cuek. Hal yang berbeda dibanding saat ini di mana tokoh keren bak anggota boyband lah yang diidolakan. Namun masih ada saja saat ini orang yang berpenampilan cuek-urakan yang penting cerdas ala Lupus.

DATA FILM

Sutradara : Benni Setiawan
Produser : Eko Patrio
Penulis Naskah : Hilman Hariwijaya
Pemain : Miqdad Addausy, Acha Septriasa, Kevin Julio, Jeremy Christian, Alfie Alfandy, Fabila Mahadira, Mella Austen, Cici Tegal, Dedi Mizwar, Eko Patrio
Genre : Drama, Komedi
Durasi : 90 menit
Produksi : Komando Pictures
Tanggal rilis : 4 April 2013


Tidak berambut jambul tapi masih mengunyah permen karet

Bicara film Lupus 2013 dengan tajuk BANGUN LAGI DONG LUPUS mau tak mau kita teringat aktor/aktris yang pernah mendukung film dan sinetron terdahulunya; Ryan Hidayat, Oka Sugawa, Irgi Fahrezy, Firda Razak, Agnes Monica, dan Nurul Arifin. Tak ada lagi rambut jambul ala Duran Duran yang pernah disebut oleh Lulu dengan sarang burung. Penonton melihat Lupus dari bingkai masa kini dengan tetap mengunyah-menggelembungkan permen karet. Dan pasti, berangkat sekolah naik bus Transjakarta. Setelah pada era 80an Lupus naik bus kota. Era 90an awal dengan vespanya

Dengan cerita khas remaja yang abadi: cinta dan persabatan, Lupus diceritakan pindah ke sekolah baru-SMA Merah Puith. Di sana dia bertemu dengan Poppy dan dengan jaimnya menyimpan perasaan suka padanya, namun Poppy punya Daniel, pacarnya yang sok jagoan dan posesif. Di sekolah barunya dia bertemu dengan Gusur, anak yang bertutur dengan gaya sastra dan suka melukis tetapi ia punya masalah dengan kakak iparnya yang galak dan engkongnya (Didi Petet) yang pikun-akhirnya si engkong minggat karena terus diomeli. Juga Boim, yang tersandung masalah renteiner. Belum lagi Lupus harus menghadapi Daniel tiap kali bertemu dengan Poppy.

Masalah menuju klimaks saat Poppy tak bisa mengikuti lomba mading tingkat nasional karena miskin ide ditambah Lupus dkk hengkang dari tim saat terjadi salah paham antara Lupus dan Poppy, lagi pula Lupus dkk ingin ikut lomba Go Green yang diadakan Kementerian Kehutanan namun deadline amat mepet.

Apakah Poppy bisa megikuti lomba mading tingkat nasional? Berhasilkan Lupus dkk dengan lomba Go Green-nya? Bagaimana dengan nasib Gusur-Engkongnya dan Boim?

Dengan penampilan komikal ala Eko Patrio (Eman) yang menjadi guru olahraga yang terobsesi dengan tari poco-poco. Kenarsisan Pak Kepsek yang diperankan Dedy Mizwar yang ingin tampil di cover mading karya Poppy dkk. Juga Debby Sahertian yang tetap berbahasa gaulnya menjadi ibu kantin yang menagih Gusur agar "Bayangkara dulu cyynn" (bayar dulu).

Selasa, 05 Maret 2013

136. Manusia Berkostum Kelinci yang Terbelenggu

Watch out! Spoiler.



Alkisah, teror akan pembunuhan berantai di kota Jakarta-satu satunya klu bahwa setting di Jakarta adalah tulisan TAKSI JAKARTA; merek fiktif-meresahkan penduduk hingga tiap orang berhak mencurigai orang lain sebagai si pembunuh yang masih saja berkeliaran. Ciri si pembunuh yaitu memakai kostum kelinci. Targetnya para perempuan muda. Babak pembuka film terasa lambat dan senyap. Penonton digiring mengamati plot awal dari kacamata Elang (Abimana Aryasatya) bahwa si pembunuh adalah tetangganya sendiri (Guntur [Verdi Solaiman] suami Djenar yang posesif) setelah dia mencurigai dua hal: kostum kelinci yg digunakan suaminya Djenar dan dua mayat yang diseret dari rumahnya.



Elang kerap mengalami vision yg buruk dan mengerikan. Tentang Jingga (Imelda Therinne) pelacur misterius yang ia temui dalam mimpi dan diyakini sebagai titik terang di ujung jalan gelap atas teror pembunuhan berantai. Sampai pada satu kesempatan mereka berkenalan dan Jingga dengan tanpa canggung meminta tinggal di flatnya. Misi Jingga hanya satu: memanfaatkan Elang sebagai boneka untuk membalaskan dendam.





Setengah durasi film penonton percaya saja dengan sudut pandang Elang yang karakternya dingin, labil, dan pendiam. Penonton mulai curiga, apa dia sakit jiwa, dipengaruhi iblis, atau psikopatik? Namun setengah segmen berikutnya semua buyar perlahan. Itu akibat eksekusi cerita yg terburu-buru saat dua detektif polisi dipusingkan oleh kasus pembunuhan sadis terhadap 3 pria bengal yg dilakukan oleh Elang dan dimotori oleh Jingga. Sedangkan menurut narasumber yg digali oleh detektif Artur (Rifnu Wikana) dari Ibu Kebaya bahwa Jingga (nama Jingga dikorek dari database kepolisian bukan dari narasumber) sudah mati 2 tahun lalu-gantung diri. Lantas, siapakah Jingga itu sebenarnya? Siapa pula Djenar (Laudya Cynthia Bella) & Senja?(Avrilla)-anak Djenar yg disayangi oleh Elang. Siapa pula orang di balik kostum kelinci itu?









Dengan ambience film (genre) noir- istilah sinematik yang digunakan untuk menggambarkan gaya film Hollywood yang menampilkan drama-drama kriminal, khususnya yang menekankan keambiguan moral, dengan pencahayaan rendah yang berakar dalam sinematografi ekspersionis Jerman. Sinematografinya seksi dengan tonase warna yg suram dan redup. Penonton yg budiman wajib full concentration. No playing phonecell. No talking each other. Dan jika sering ke toilet bersiaplah kehilangan satu keping puzzle cerita yg berharga.





Endingnya tidak diselesaikan oleh sutradara (Mbak Upi). Penonton lah yang menyelesaikannya, khususnya bagi yang paham cara menyelesaikannya. Cuma bagian yg kosong melompong adalah ritual klenik yg dilakukan oleh Ibu Kebaya (Jajang C Noer) untuk memengaruhi/memperalat/menghipnosis Elang demi dendam kesumat Ibu Kebaya dan Jingga. Itu ritual macam apa ya, kok pakai acara nembang-nembang boso jowo segala? Maunya ambigu tapi jadi gaje ==a



Rating film 4/5.



Selamat menonton....

Kamis, 14 Februari 2013

135. 30.000

Sudah sembilan kali kaupandangi poster film di dinding mall yang berkibar tiap tertiup angin.Poster yang dibuat dengan cara dilukis tersebut selalu menggoda imanmu tiap kali kau melewatinya selepas pulang dan berangkat sekolah. Bukan kain poster itu yang kauincar, yang bisa kaujadikan tirai jendela rumahmu, menggantikan spanduk rokok kumal yang telah lama bertengger di jendela kawatmu. Kau ingin sekali menonton film 3 dimensi di bioskop itu. Amat ingin.



“Kamu sudah pernah menyaksikan film format tiga dimensi?” tanya sobatmu usai KBM.

“Hmm… belum. Nonton di bioskop pun belum pernah.” Balasmu pelan. Agak malu. Sebenarnya engkau pernah sekali, tapi cuma bioskop kelas melati. Kau enggan mengaku.

“Bagaimana bila kita berdua nonton bareng minggu depan. Minggu ini penontonnya masih banyak. Antri.”

“Bagaimana ya…?”

“Jika berkenan, akan kutraktir popcorn karamel. Atau rasa butter. Jus jeruk sunkist. Atau frapucino.”



Tawarannya sangat menggiurkan bagimu. Akan tetapi kau tak mampu menjawab ‘iya’ apabila meraba kantongmu. Pun kau tidak sudi berkata ‘tidak’ demi mimpimu. Mimpi kecil.

Selasa terik di selasar kelas kaugantung ajakan temanmu. Raut dia kurang puas. Walau begitu dia tetap melambaikan salam perjumpaan. Pergi bersama mobil jemputannya yang sejak setengah jam lalu parkir di lapangan berlantai blok.



Bagimu, mewujudkan mimpi bukanlah hal yang sukar ditakar dengan kehidupan susahmu. Paling tidak kauperlu berkorban. Kata yang terdengar menyeramkan. Meski yang tetap lebih menyeramkan ketika hantu-hantu mimpimu menggerayangi tidur malammu.

Manakala lampu kamar padam dan proyektor digital menyorotkan sinar ke layar perak. Memantul ke kacamata tiga dimensimu yang tak bisa ditekuk. Kemudian sinarnya jalan terus ke retinamu. Superheroberkostum ngejreng yang takkan pernah risau meskipun dihujani selusin ranjau. Yang suaranya meledak menggelegar dengan akustik yang indah. Serasa merobek gendang telingamu. Lantas dia terpental menembus dimensi persegi panjang. Tubuhnya terhempas menubruk tubuhmu. Keterkejutan menyadarkanmu. Tikuslah yang terjun dari atap nirplafon berkerangka bambu. Seperti itu terus sepanjang malam.



Kepulan uap nasi uduk terperangkap dalam kertas minyak. Kaubenamkan di tas merah. Aroma wanginya menyembul walau sekadar bertabur bawang goreng yang agak gosong. Bekal dari warung nasi uduk Ibumu. Satu-satunya pemasukan keluarga. Bapakmu kerja serabutan. Kadang proyek bangunan. Memulung barang bekas. Atau seremeh membabati kebun tetangga, diupahi sebungkus rokok dan uang yang cukup membuatnya tersenyum. Kali ini ia sedang tak berpenghasilan sama sekali.

“Bu, ini pemberitahuan ulangan semester ganjil.” Dia adikmu satu-satunya. Mengangsurkan selembar surat dengan kop khas SMP swasta.

“Enam puluh ribu!” Dirimu terperanjat sangat cepat. Ibu diam begitu dalam.

“Duit Ibu cuma setengahnya. Pinjam dulu masmu” Diamnya Ibu diam berpikir. Butir-butir darahmu bagai longsor ke lantai.

“Aku duit dari mana, Bu?”



Sudah sembilan kali kau berdusta padanya. Tatkala uang sakumu disalahgunakan untuk merokok. Berpacaran dengan alasan belajar kelompok. Pamit berdarmawisata walau faktanya keluyuran ke pantai selatan. Dan sisanya yang tak perlu kaugali lagi.

Dadamu berkecamuk.



Sudah lima kali kaumasukkan rupiah-rupiah pengorbanan pecahan 5000 ke dalam perut celengan ayam jago. Tembikar ayam bercat merah-hitam-kuning itu bagaikan hendak mematuk rupiahmu yang keenam. Enam lembar pengorbanan. Tak ada ketoprak. Mi ayam. Tak ada es kelapa muda. Jus alpukat disiram susu krimer. Cukup nasi uduk tanpa mendoan dan sebotol air tanpa soda. Demi mimpi kecilmu. Tetapi tiba-tiba saja segalanya runtuh dan luruh sewaktu Ibu tahu tentang tembikarmu.

Hatimu rela saja kalau enam lembar pengorbananmu dipindahtangankan pada Ibu tanpa bunga pinjaman. Kau hanya tak suka dengan adik perempuanmu yang bodoh dan tomboy. Masuk institusi swasta yang jelas tak ada kata gratis walau untuk sebatang kapur.

Seorang satpam tegap berseragam gelap membukakan pintu kaca untukmu. Kau bak tamu kehormatan. Kakimu menjejak hasta demi hasta karpet di lobbi nan sejuk. Bau popcorn karamel menyerbak. Gemericik jus jeruk jatuh ke gelas plastik. Ujung telunjukmu meraba poster film mandarin berbingkai kaca. Kaca yang dingin. Pupilmu berakomodasi maksimum mengamati aktor laga Donnie Yen. Bukan film itu. Yang kaudambakan film tiga dimensi buatan “mogul-mogul” Hollywood.

Bunyi bel. Rekaman suara perempuan muncul. Semacam pengumuman. Kau menyudahi, menuju pintu kaca. Sesaat kau menoleh ke perempuan cantik di meja loket dengan senyum formalitasnya. Seulas senyum yang mungkin mahal disunggingkan oleh pramugari kelas ekonomi. Namun bukan senyum pramugari yang kaudambakan. Suatu saat kau ingin membeli senyuman wanita penjaga loket bisokop itu.



Dalam perjalanan pulang, kaubuka lagi lembaran-lembaran kertas ulangan adikmu yang diserahkan tadi malam saat kau sedang asyik menonton bioskop televisi. Kau sampai membawanya ke sekolah. Kaupamerkan pada teman-teman bahwa dia mampu memenuhi persyaratan darimu. Syarat yang cukup berat bagi anak yang malas. Kau lumayan puas walau hasilnya tidak terlalu brilian. Dasar tomboy jenong, batinmu.

Kaulipat kertas kaulipat senyum sewaktu bus nomor 67 yang kautumpangi berhenti di lampu tiga warna. Lampu merah. Sudut fasad bangunan mal menuntun matamu ke sebuah poster. Sudah sembilan belas kali kau melihatnya. Poster bergambar pahlawan super tersebut murung, tamengnya melempem, topengnya kisut, telunjuknya menunjuk dirimu yang ada kursi di belakang sopir gendut yang gaya bicaranya aksen Batak kental. Di gedung itu temanmu tengah duduk di kursi 9 barisan tengah sembari mengunyah berondong jagung rasa karamel. (*)

Rabu, 09 Januari 2013

134. Info Lomba Cerpen Tema Sang Mantan Berhadiah Notebook

KETENTUAN LOMBA KISAH SANG MANTAN:

1. Karya berupa cerita pendek (cerpen) sepanjang 7 -10 halaman.
2. Cerpen diketik dengan format spasi ganda (2 spasi), font Time New Roman, dengan ukuran kertas A4, dan margin 4 -3 - 3 - 4
3. Tema cerita pendek adalah tentang MANTAN. Boleh kisah nyata, terisnpirasi dari kisah nyata teman, atau murni fiktif (rekaan).
4. Cerpen dikirim via email ke: lombadiva@gmail.com. Judul email atau subject: #kisahSANGMANTAN.
5. Format isi email adalah nama(spasi)judul karya dan biodata pengirim (alamat lengkap dan nomor yang bisa dihubungi)
6. Cerpen dikirimkan dalam "lampiran", jadi bukan di badan email
7. Peserta wajib LIKE facebook fanpage: Penerbit DIVA Press dan follow twitter @divapress01 (boleh pilih salah satu)
8. Lapor ke Admin DIVA Press dengan menulis status di fanpage dan mention twitter @divapress01 yang isinya kamu sudah ikut mengirimkan cerpen #KisahSANGMANTAN
9. Setiap peserta hanya boleh mengirimkan maksimal 5 naskah. Lama penjurian 2 bulan
10. Lomba cerpen #KisahSANGMANTAN berlangsung dari 15 Jan-15 Maret 2013, selambatnya pukul 18.00 WIB
11. Hadiah utama: 3 notebook Asus untuk 3 pemenang unggulan, 30 jaket DIVA, 30 paket buku, 30 sertifikat, dan cerpen kalian kami terbitkan.

Info-info lebih lanjut akan menyusul.