Minggu, 21 Juli 2013

138. Teror dari dalam Pasifik

Judul film: Pacific Rim


Pada suatu masa, bumi diserang secara masif oleh monster laut dari planet di luar bumi yang masuk melalui Lubang Terobosan-semacam wormhole. Bumi digambarkan di ambang kehancuran, di saat kekuatan militer tak dapat berbicara banyak, manusia membuat robot raksasa (jaeger) yang dikendalikan oleh dua pilot dengan sistem saraf yang terhubung ke mesin robot-untuk melawan kaiju (bhs jepang, monster raksasa). Berhasil. Namun masalah belum selesai saat otoritas meminta proyek Jaeger dihentikan krn dianggap gagal-memakan banyak korban pilot dan Kaiju pun berevolusi semakin kuat. Maka opsi terakhir adalah membangun dinding pertahanan, mencegah serangan kaiju dari laut. Proyek dinding pertahanan juga gagal karena kaiju mampu menghancurkan dinding itu juga. Akhirnya proyek jaeger kembali dihidupkan.


Dengan teknologi canggih dari Industrial Light and Magic milik Lucas film, yang juga membuat seri film Star Wars, pertarungan antara Kaiju dan jaeger terlihat nyata dan menakjubkan. Gedung gedung pencakar langit remuk bak wafer. Citra keagresifan kaiju juga terekam dengan baik. Namun sayang semua itu terasa hambar ketika segmen drama, yang menyorot pergolakan batin para pilot di balik jaeger , kurang tergarap, meski memakan 1/3 bagian film dan hamnpir menjenuhkan. Sesi kilas balik Mako Mori (Rinko Kikuchu) mengingat memori masa kecilnya saat orangtuanya tewas akibat serangan kaiju cukup memberi ruang drama miris.


Tokoh utama film, Raleigh Becket (Charlie Hunnam), juga digambarkan sangat klise: tentara US berbadan tegap. Hanya tokoh Mako dan ilmuwan dr Newston (Charlie Day) dan Stacker Pentecost (Idris Elba) yang menarik disimak.


Bagi penggemar film robot, mungkin Pacific Rim mampu menyegarkan dahaga visual akan pertarungan dahsyat antara robot dan alien.


Sejak rilis 12 Juli lalu di US, film ini belum pernah bertengger di puncak box office, selalu diselak Despicable Me 2.