Kamis, 14 Februari 2013

135. 30.000

Sudah sembilan kali kaupandangi poster film di dinding mall yang berkibar tiap tertiup angin.Poster yang dibuat dengan cara dilukis tersebut selalu menggoda imanmu tiap kali kau melewatinya selepas pulang dan berangkat sekolah. Bukan kain poster itu yang kauincar, yang bisa kaujadikan tirai jendela rumahmu, menggantikan spanduk rokok kumal yang telah lama bertengger di jendela kawatmu. Kau ingin sekali menonton film 3 dimensi di bioskop itu. Amat ingin.



“Kamu sudah pernah menyaksikan film format tiga dimensi?” tanya sobatmu usai KBM.

“Hmm… belum. Nonton di bioskop pun belum pernah.” Balasmu pelan. Agak malu. Sebenarnya engkau pernah sekali, tapi cuma bioskop kelas melati. Kau enggan mengaku.

“Bagaimana bila kita berdua nonton bareng minggu depan. Minggu ini penontonnya masih banyak. Antri.”

“Bagaimana ya…?”

“Jika berkenan, akan kutraktir popcorn karamel. Atau rasa butter. Jus jeruk sunkist. Atau frapucino.”



Tawarannya sangat menggiurkan bagimu. Akan tetapi kau tak mampu menjawab ‘iya’ apabila meraba kantongmu. Pun kau tidak sudi berkata ‘tidak’ demi mimpimu. Mimpi kecil.

Selasa terik di selasar kelas kaugantung ajakan temanmu. Raut dia kurang puas. Walau begitu dia tetap melambaikan salam perjumpaan. Pergi bersama mobil jemputannya yang sejak setengah jam lalu parkir di lapangan berlantai blok.



Bagimu, mewujudkan mimpi bukanlah hal yang sukar ditakar dengan kehidupan susahmu. Paling tidak kauperlu berkorban. Kata yang terdengar menyeramkan. Meski yang tetap lebih menyeramkan ketika hantu-hantu mimpimu menggerayangi tidur malammu.

Manakala lampu kamar padam dan proyektor digital menyorotkan sinar ke layar perak. Memantul ke kacamata tiga dimensimu yang tak bisa ditekuk. Kemudian sinarnya jalan terus ke retinamu. Superheroberkostum ngejreng yang takkan pernah risau meskipun dihujani selusin ranjau. Yang suaranya meledak menggelegar dengan akustik yang indah. Serasa merobek gendang telingamu. Lantas dia terpental menembus dimensi persegi panjang. Tubuhnya terhempas menubruk tubuhmu. Keterkejutan menyadarkanmu. Tikuslah yang terjun dari atap nirplafon berkerangka bambu. Seperti itu terus sepanjang malam.



Kepulan uap nasi uduk terperangkap dalam kertas minyak. Kaubenamkan di tas merah. Aroma wanginya menyembul walau sekadar bertabur bawang goreng yang agak gosong. Bekal dari warung nasi uduk Ibumu. Satu-satunya pemasukan keluarga. Bapakmu kerja serabutan. Kadang proyek bangunan. Memulung barang bekas. Atau seremeh membabati kebun tetangga, diupahi sebungkus rokok dan uang yang cukup membuatnya tersenyum. Kali ini ia sedang tak berpenghasilan sama sekali.

“Bu, ini pemberitahuan ulangan semester ganjil.” Dia adikmu satu-satunya. Mengangsurkan selembar surat dengan kop khas SMP swasta.

“Enam puluh ribu!” Dirimu terperanjat sangat cepat. Ibu diam begitu dalam.

“Duit Ibu cuma setengahnya. Pinjam dulu masmu” Diamnya Ibu diam berpikir. Butir-butir darahmu bagai longsor ke lantai.

“Aku duit dari mana, Bu?”



Sudah sembilan kali kau berdusta padanya. Tatkala uang sakumu disalahgunakan untuk merokok. Berpacaran dengan alasan belajar kelompok. Pamit berdarmawisata walau faktanya keluyuran ke pantai selatan. Dan sisanya yang tak perlu kaugali lagi.

Dadamu berkecamuk.



Sudah lima kali kaumasukkan rupiah-rupiah pengorbanan pecahan 5000 ke dalam perut celengan ayam jago. Tembikar ayam bercat merah-hitam-kuning itu bagaikan hendak mematuk rupiahmu yang keenam. Enam lembar pengorbanan. Tak ada ketoprak. Mi ayam. Tak ada es kelapa muda. Jus alpukat disiram susu krimer. Cukup nasi uduk tanpa mendoan dan sebotol air tanpa soda. Demi mimpi kecilmu. Tetapi tiba-tiba saja segalanya runtuh dan luruh sewaktu Ibu tahu tentang tembikarmu.

Hatimu rela saja kalau enam lembar pengorbananmu dipindahtangankan pada Ibu tanpa bunga pinjaman. Kau hanya tak suka dengan adik perempuanmu yang bodoh dan tomboy. Masuk institusi swasta yang jelas tak ada kata gratis walau untuk sebatang kapur.

Seorang satpam tegap berseragam gelap membukakan pintu kaca untukmu. Kau bak tamu kehormatan. Kakimu menjejak hasta demi hasta karpet di lobbi nan sejuk. Bau popcorn karamel menyerbak. Gemericik jus jeruk jatuh ke gelas plastik. Ujung telunjukmu meraba poster film mandarin berbingkai kaca. Kaca yang dingin. Pupilmu berakomodasi maksimum mengamati aktor laga Donnie Yen. Bukan film itu. Yang kaudambakan film tiga dimensi buatan “mogul-mogul” Hollywood.

Bunyi bel. Rekaman suara perempuan muncul. Semacam pengumuman. Kau menyudahi, menuju pintu kaca. Sesaat kau menoleh ke perempuan cantik di meja loket dengan senyum formalitasnya. Seulas senyum yang mungkin mahal disunggingkan oleh pramugari kelas ekonomi. Namun bukan senyum pramugari yang kaudambakan. Suatu saat kau ingin membeli senyuman wanita penjaga loket bisokop itu.



Dalam perjalanan pulang, kaubuka lagi lembaran-lembaran kertas ulangan adikmu yang diserahkan tadi malam saat kau sedang asyik menonton bioskop televisi. Kau sampai membawanya ke sekolah. Kaupamerkan pada teman-teman bahwa dia mampu memenuhi persyaratan darimu. Syarat yang cukup berat bagi anak yang malas. Kau lumayan puas walau hasilnya tidak terlalu brilian. Dasar tomboy jenong, batinmu.

Kaulipat kertas kaulipat senyum sewaktu bus nomor 67 yang kautumpangi berhenti di lampu tiga warna. Lampu merah. Sudut fasad bangunan mal menuntun matamu ke sebuah poster. Sudah sembilan belas kali kau melihatnya. Poster bergambar pahlawan super tersebut murung, tamengnya melempem, topengnya kisut, telunjuknya menunjuk dirimu yang ada kursi di belakang sopir gendut yang gaya bicaranya aksen Batak kental. Di gedung itu temanmu tengah duduk di kursi 9 barisan tengah sembari mengunyah berondong jagung rasa karamel. (*)