Rabu, 26 Desember 2012

133. Film-film Bioskop yang Kutonton di Tahun 2012 (review)

Bikin catatan ini gak di rumah, mendadak aja, jadi biar aku ingat-ingat film apa aja yg sudah aku tonton di tahun ini. Kalau lagi di rumah ya aku cek karcis-karcis bioskopnya sehingga akurat. Tukang ngumpulin karcis hehehehe... :D



1. Mission Impossible: Ghost Protocol.

Film keempat franchise MI ini sebetulnya rilis akhir 2011. Aku baru nonton pas tahun baru 2012. Waktu itu sebetulnya aku mau nonton Spy Kid 3D tapi di bioskop itu lagi gak ada. Tanpa perencanaan--biasa kalo mau nonton harus direncanakan--mending milih MI. Ternyata filmnya bagus. Ada sense humornya, khususnya gaya komikal Simon Pigg. Aksinya keren lah (Hollywood abiz). Alur ceritanya aku gak ngerti. Intinya agen Ethan (Tom Cruise) dan ketiga temannya berjuang menghalau musuh yg punya kode peluncuran nuklir. Gambarnya indah. Syutingnya di Russia dengan Istana Kremlin yang aduhai kayak negeri dongeng. Di Finlandia. Di Dubai dengan kemegahan gedung Burj Khalifa-nya. Di India dengan khas Bollywood-nya. Kapan ya syuting di Kebayoran Lama hahahah. Lebih keren daripada MI 1 dan 2. Yang ketiga aku gak nonton. Aku kasih 3 dari 5.



2. The Avengers

Film yg heboh di tahun ini. Ada beberapa superhero tergabung dalam proyek SHIELD dengan nama Avengers: Captain America, Black Widow, Iron Man, Hulk, Hawkeye, ada lagi? Banyak yg review kalo filmnya keren. Menurutku jempol ke bawah. Kenapa? Musuhnya cupuk dan cemen tapi jagoannya banyak. Musuh yg bikin aku bergidik saat nonton superhero ya Bane (The Dark Knight Rises). Di Avengers ada Loki dan beberapa alien yang bikin saya ketawa. Gak usah ditinjau ulang. Aku kasih 2 dari 5.



3. Soegija

Satu-satunya film Indonesia yg aku tonton di layar lebar. Nangis. Terharu. Gambarnya indah, maksudnya sinematografi. Aksinya kurang. Yaiyalah itu film drama perang bukan aksi. Bomnya kurang banyak *pencinta bom. Musiknya bagus abiz (peluk Pakde Djaduk Ferianto). Aku suka banget lagu Zandvoort Aan De Zee. Dari judul lagunya sudah bisa ditebak, memang lagu ini berbahasa Belanda karya Lois Davids ini mirip dengan lagu “Tanjung Perak” yang pernah dipopulerkan Waldjinah. Silir Pujiwati membawakan lagu ini dengan laval bahasa Belanda rasa kejawa-jawaan dengan gayanya yang centil, sehingga terdengar sangat natural. Lagu ini sangatlah pas dijadikan sebagai ilustrasi dalam adegan di sebuah kafe era Kolonial.

Aku benci juri FFI yang tidak memberikan Citra Penata Musik Terbaik pada Pakde Djaduk. *dendam. Filmnya pernah tayang di Indosiar saat momen hari pahlawan dengan sensor yang lebay tentunya. Aku kasih 4 dari 5.



4. The Flowers of War

Film buatan China terbaik abad 21, salah satunya. Yang bikin? Jangan tanya... Zhang Yimou. Aku baca resensinya di Republika dan langsung ngiler 2 ember. Layaknya peristiwa holocaust yang dilakukan oleh tentara Jerman kepada masyarakat dari ras Yahudi selama Perang Dunia II, peristiwa pembantaian dan perkosaan massal yang dilakukan tentara Jepang kepada masyarakat kota Nanking, China yang lebih dikenal sebagai Pembantaian Nanking pada tahun 1937 . Lewat film The Flowers of War yang diangkat dari novel berjudul 13 Flowers of Nanjing karya Geling Yan, sutradara Zhang Yimou kembali mencoba mengangkat topik mengenai tragedi berdarah tersebut dengan mengambil sudut cerita mengenai tindakan heroik yang dilakukan oleh sekelompok wanita penghibur dalam membela tanah airnya. Intinya beberapa PSK (lupa jumlahnya) yg nyamar jadi biarawati gereja demi menyelamatkan para biarawati dari kekejian Jepang. Kan mereka diundang oleh Jepang saat nyanyinya bagus.



Filmnya tegang gilaaaa. Otot muka ya bukan otot paha yg tegang. Mencekam. Mengharukan. Menyedihkan. Apalagi pas banyak mayat berserakan di jalan karena dibantai Jepang keparat!!! Banyak yg aku sebut menyebut pada bilangan fakta bahwa saat itu ada 200ribu warga Nanking yang dibantai belum termasuk yg diperkosa. Aku kasih 5 dari 5. Buru DVDnya gih dan sedia Po**ry Swet biar ionmu gak hilang pas nangis.



5. The Amazing Spiderman

Film reboot atau bahasa mudahnya film yg dibuat ulang mengacu pada film Spiderman yg dibintangi Tobey McGuire.

Musuhnya mirip kadal gaje. Gak sangar. Aksinya gak keren. Tanggung lah. Tapi ceritanya lebih bagus dari versi garapan Sam Raimi. Sinematografinya juga alamak, apalagi saat Gwen ke rumah Parker usai Ayahnya metong. Bahasa hujannya romantis deh ketimbang berintepretasi ke kesedihan. Aku nangis saat Bibi May gak dijemput Parker dan Paman Ben ngomelin Parker tapi dibelain Bibi May. Alu kasih 3.5 dari 5.\



6. The Dark Knight Rises

Film Batman terakhir dgn penyutradaraan yg melow dan dark khas Christopher Nolan. Filmnya panjang abiz. Untung aku gak pipis. Kalo pipis kan sayang, udah bayar mahal eh ketinggalan 3 menit (kalo kencing 3 menit wkwkwk). Musuhnya menakutkan ya. Musuhnya ada 2 lagi. Miranda Tate (Marion Cotilard) yg kita duga baik ternyata jahara. Catwoman yg kita anggap jahara ternyata baik. Terkecoh. Tapi Catwoman keren ya biar jungkir balik tetap rambutnya lurus tergerai. Sampo dan kondisionernya apa sih Mbak Anne hihihihi. Jangan bilang Pantene!



Sudah delapan tahun sejak Batman menghilang dalam bayang-bayang, mengubah dirinya dari pahlawan menjadi buronan. Batman menjadi buronan karena ia disalahkan atas kematian D.A Hervey Dent.

The Dark Knight mengorbankan segalanya yang menurut ia dan Komisaris Gordon untuk kebaikan. Untuk sementara, kebohongan itu bekerja dan kegiatan kriminal di Gotham City bisa ditekan oleh anti kekerasan Act Dent. Namun, semua itu berubah dengan kehadiran seorang pencuri kucing licik yang mempunyai agenda misterius. Film 'The Dark Knight Rises' mungkin film paling suram dan paling putus asa dibanding film superhero yang pernah dibuat. Menggunakan penjahat yang sepenuhnya menakutkan untuk mendominasi kerentanan fisik dari pahlawan kita yang terkadang lupa, bahwa ia juga seorang manusia. Dan itu menggarisbawahi suasana hitam dan kegelapan yang selalu berkerumun di sekitar jiwa miliarder Bruce Wayne dan untuk melawan kejahatan. Aku kasih 4 dari 5.



7. The Four

Film China. Filmnya biasa ajah. Gagal deh. Ceritanya: Agen yang melakukan penyamaran ditugaskan oleh pemimpinnya yang korup untuk menyusup ke Departemen pesaingnya dan menyabotase penyelidikan mereka tentang mata uang palsu. Namun ia justru menemukan rencana kejahatan yang sesungguhnya. Untuk menggulingkan ibukota, para penjahat tersebut membangkitkan para tentara yang telah tewas. Aku kasih 2 dari 5.



8. Ek Tha Tiger

Film India ini dibintangi Salman Khan dan Katrina Kaif, syutingnya di London, Istanbul, dan Havana. Kebiasaan film Bollywood. Padahal alam di India cukup bagus. Keren lah. Tapi si Tiger (Khan) kesannya heroik banget, apalagi saat dia menyelamatkan trem yg kebablasan di tengah kota London dan mau menabrak sekerumunan orang--ada bayi dalam kereta dorong agar terkesan dramatis. Tiger menyelamatkannya dengan menahan kabel di atas menggunakan jas, apa tuh yg alat menghubungkan trem atau KRL ke kabel listrik. Lalu slowmotion *mau muntah gue. Zoya (Kaif) juga kurang lincah sbg agen. Coba dia mengacu dikit pada Angelina Jolie. Soundtracknya bagus. Cuma ada 3 lagu deh. Aku kasih 3,5 dari 5.



9. Sadako 3D.

Film ini cuma tersedia dalam format 3D, tanpa 2D. Menggunakan teknologi RealD 3D karena di Blitz kalo di XXI pake Dolby 3D. Kalo kacamata dilepas layarnya terang banget. Ini film Jepang terburuk yg aku tonton di tahun ini. Sadakonya (sekutunya) mirip laba-laba gagal bermutasi. Gak serem cuma ngagetin. Kalo versi Ringu menggunakan tv saat hantu keluar, film ini pake smartphone atau juga PC. Aku kasih 1 dari 5. Jahat ya gue



10. Separation

Sejak dirilis pertama kali di Iran pada Maret 2011 A Separation langsung mendapat sambutan luar biasa. Film ini berhasil meraih 56 penghargaan internasional termasuk dua yang paling bergengsi yaitu Golden Globe Awards 2012 dan Oscar Awards 2012 untuk kategori film berbahasa asing terbaik.

A Separation menceritakan perceraian antara Simin dan Nader. Simin mendapat kesempatan pindah ke luar negeri dengan mengajak suaminya, Nader dan putri mereka, Tarmeh. Namun Nader menolak ikut karena harus merawat ayahnya yang menderita penyakit Alzheimer.

Simin yang bersikeras ingin meninggalkan Iran memilih menceraikan Nader dan berusaha mendapatkan hak asuh Tarmeh yang juga akan diajaknya keluar negeri. Tarmeh memilih tinggal bersama ayah dan kakeknya di Iran. Nader pun menyewa seorang wanita bernama razieh untuk merawat Tarmeh dan ayahnya Namun, msalah muncul ketika ternyata Razieh melakukan sebuah kebohongan hingga menyeret Razieh, Hojjat dan Nader ke persidangan.

A Separation dengan durasi 123 menit ini disajikan dengan plot yang sederhana dan tidak membosankan oleh sutradara Asghar Farhadi. Padahal ceritanya sangat kompleks dan cenderung tragis. Seluruh pemeran film berhasil memaksimalkan akting mereka. Sebut saja Peyman Moaadi yang memerankan Nader dan Laila Hatami yang berperan sebagai Simin. Keduanya berhasil memerankan pasangan suami istri yang tertekan dengan permasalahan hukum dalam pernikahan mereka.

Disisi lain Sarah Bayet dan hahab Hosseini yang memerankan Razieh dan Hojjat berhasil memerankan suami istri yang memperkeruh suasana. Kejujuran serta moralitas tinggi menjadi pesan utama film ini. Film ini juga mengajarkan kalau anak menjadi korban dari keegoisan orang tua. Dengan sederet prestasinya A Separation adalah film yang sayang untuk dilewatkan.



Kalo film bagus aku copasin sinopsisnya, Aku kasih 4,5 dari 5. Ciri khas film Iran tuh ceritanya gantung. Cerita tidak diselesaikan oleh sutradara tp diselesaikan oleh penonton. Beda dgn film lokal dan Hollywood. Pernah liat Mama's guest dan Children of Heaven?



11. Looper

Aku suka banget akting Joseph Gordon Levitt sejak The Dark knight Rises. Dia tipe pria berwajah manis dan baby face. Lebih cocok film drama. Hahahaha. FIlm Looper adaalah film bayangan gue banget tentang mesin waktu dan skemanya juga tentang impact-nya. Cari sendiri ya sinopsisnya hehehehe. Aku kasih 3,5 dari 5.



Di tahun 2044, US mengalami keruntuhan ekonomi, menyebabkan kerusakan sosial yang parah dan pertumbuhan dalam kejahatan yang terorganisir. Selain itu, mutasi aneh terjadi kepada 10% manusia dari populasi yang tersisa, yang membuat mereka kekuatan telekinetic yang disebut sebagai tks. Tiga puluh tahun ke depan di tahun 2074, kemampuan perjalanan waktu ditemukan yang tidak lama berselang, segera dilarang.





Di masa itu, sudah tidak dimungkinkan untuk membunuh manusia dan membuang mayat mereka sembarangan. oleh karena itu bos kejahatan beralih ke perjalanan waktu untuk mengirim target mereka ke masa lalu untuk dibunuh dengan menggunakan "Loopers": manusia yang disewa untuk membunuh siapa pun yang dikirim kepada mereka. Sialnya, ketika bos kejahatan ingin mengakhiri kontrak Looper, mereka mengirim "versi yang lebih tua" kembali untuk dibunuh oleh dirinya lebih muda, disebut sebagai "close the loop".





Joseph "Joe" Simmons (Gordon-Levitt), 25 tahun, bekerja untuk sebuah perusahaan mafia di Kota Kansas sebagai looper yang tugasnya membunuh para penjahat yang dikirim dari masa depan. Hingga pada suatu ketika ia mengetahui bahwa target berikutnya adalah dirinya sendiri di masa depan (Bruce Willis), dan ia tidak akan tinggal diam menunggu terbunuh tanpa memberikan perlawanan.



12. Skyfall 007

Pernah aku review dikit kan di catatan sebelumnya (https://www.facebook.com/notes/abu-waswas/malam-kamis-aye-nonton-di-bioskop-imax/10151179562448353). Aku kasih 4 dari 5.



13. Life of Pi

Ini salah satu juga film yg bikin aku nangis. Gambarnya indah, apalagi pas malam Pi (dibaca Pai) di tengah Pasifik diterangi cahaya ubur-ubur kebiruan. Tapi aku nonton non 3D. Entahlah aku kurang suka film 3D. CGI Richard Parker total abiz. CGI itu computer generated image, teknlogi yg memungkinkan sebuah obyek gambar realis menjadi amat nyata saat direkayasa oleh komputer, terutama saat tampil bersama dgn obyek lainnya dalam film. Jadi bukan macan sungguhan. Richard Parker adalah nama macan bengali. Aku kasih 5 dari 5

Sinopsinya:

Pi—-si tokoh utama dalam cerita ini—-adalah seorang pemuda India yang terombang-ambing di lautan setelah kapalnya karam. Bersama harimau bernama Richard Parker, ia harus mencari jalan untuk bertahan hidup. Tapi itu bukanlah cerita utama dalam “Life of Pi”. Film “Life of Pi” memberikan ruang untuk multitafsir yang jauh lebih luas daripada di buku. Dan tulisan berikut adalah tafsiran pribadi saya dari film dan buku pemenang Man Booker Prize tahun 2002 ini.

Pi dibesarkan oleh ayah yang atheis dan ibu yang memegang agama sebagai ikatan terakhirnya dengan keluarga yang mengusirnya dari rumah karena memutuskan menikah dengan lelaki yang berada di bawah kastanya. Sejak belasan tahun, Pi mencari Tuhan melalui agama yang ditemuinya. Dibesarkan sebagai penganut Hindu, ia mengenal Kristus saat 11 tahun dan mempertanyakan konsep anak Allah yang harus disalib demi dosa manusia. Kemudian ia mengenal Islam melalui panggilan salat.

Pencarian Tuhan oleh Pi mengingatkan pada pencarian saya sendiri. Saya dibesarkan dalam keluarga yang tak mengenal agama, namun praktiknya adalah Konghucu. Agama bukanlah bagian penting dalam hidup saya, bahkan saya belajar mengenal agama karena bertetangga dengan keluarga Arab membuat saya mengenal Islam dengan cara yang indah.

Saya teringat masa kecil saya sendiri ketika berumur 10 tahun, bagaimana saya merasakan indahnya sentuhan religi bersama ibu tetangga. Saya sering mengikuti gerakan salatnya hanya karena saya menyukai ritual tersebut, sama seperti yang dilakukan Pi. Tapi pencarian saya dan Pi belum berakhir. Dalam dunia yang sinis dan memandang agama sebagai sesuatu yang buruk, saya percaya bahwa ada kebaikan dan keindahan dalam agama. Agama adalah pilihan personal yang membawa masing-masing dari kita untuk memperbarui iman dalam mencari Tuhan.

Ketika SMA, saya menemukan iman saya dalam agama Buddha. Buddha tidak mengajari saya mengenal Tuhan, tapi lebih seperti paham atheis yang mengajak saya mengenal agama dengan nalar dan akal sehat. Tapi sudah lebih dari sepuluh tahun saya tidak ke vihara, sejujurnya saya tidak menyukai ritual di vihara. Saya lebih suka ke gereja karena saya menyukai ritual dan perayaan dalam Kristus. Seperti Pi yang berterima kasih pada Dewa Khrisna yang sudah memperkenalkannya pada Kristus.

Dalam film, Pi menyebutkan, “Iman adalah rumah dengan banyak kamar. Dan ada ruang untuk keraguan dalam setiap lantainya.” Manusia wajar saja merasa ragu dengan agama. Agama dan iman adalah proses perjalanan, bukan sekadar menemukan Tuhan dan berhenti di sana.



“Kita semua mesti melewati Taman Getsemani. Kristus saja pernah merasa ragu, apalagi kita. Kristus pernah semalaman berdoa, berseru dari kayu salib, ‘Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?’ Berarti kita juga diperbolehkan merasa ragu. Tapi kita mesti jalan terus. Memilih keraguan sebagai falsafah hidup sama halnya memilih kemandekan sebagai sarana transportasi.” (hal. 55)

Agama adalah sarana transportasi kita dalam iman mencapai Tuhan. Dan kita takkan pernah tahu seberapa kuat iman kita sebelum diuji. Itulah yang dialami oleh Piscine Molitor Patel dalam kisah menakjubkan “Life of Pi”. Ada saat kita ragu dan mempertanyakan keberadaan Tuhan, ada saat-saat ketika kita ingin berserah dan beristirahat. Kita sebagai manusialah yang memilih untuk memercayai apa yang ingin kita percayai dalam hidup ini. Butuh lompatan iman hingga kita bisa memilih untuk percaya pada Tuhan atau tidak.

Secara keseluruhan film “Life of Pi” adalah tafsiran seorang Ang Lee dari buku yang filosofis tentang pencarian iman, agama, dan Tuhan. Walau setia pada bukunya, bagian filosofis dalam buku itu tak bisa terangkum dengan sempurna. Ang Lee lebih memilih untuk bermain di visual sehingga orang yang belum membaca bukunya mungkin akan merasa tertinggal oleh ceritanya. Film ini berhasil merangkum keindahan lautan, binatang-binatang, dan perjalanan Pi di lautan dengan teknologi yang mengagumkan. Sayangnya beberapa adegan terlihat lambat dan bertele-tele hingga ke titik membosankan.

Rabu, 14 November 2012

132. Malam Kamis Aye Nonton di Bioskop Imax

IMAX adalah istilah untuk format film dan juga alat proyeksi dan perekam gambar yang dibuat oleh perusahaan Kanada yang bernama IMAX Corporation. Klik www.imax.com .Teknologi IMAX sebenarnya sudah cukup lama ditemukan, yaitu pada tahun 1968. IMAX memiliki kemampuan untuk menampilkan gambar dengan ukuran dan resolusi yang lebih besar dari film konvensional. Ukuran film biasa berdiameter 35mm, sedangkan ukuran film IMAX adalah 70mm. Layar IMAX yang ada di Gandaria City sendiri berukuran 20 x 11 meter. Sedangkan layar IMAX berukuran terbesar saat ini berada di LG IMAX Theatre di Sydney Australia, berukuran 35.73 × 29.42 meter.

Pada tahun 2002, IMAX dan Universal Studios memulai proses Digital Media Remastering (DMR), yang memungkinkan film konvensional 35mm dikonversi ke bentuk digital, dengan tujuan bisa diputar di IMAX Studio. Sudah cukup banyak film Box Office yang di-remastering di IMAX, ada Polar Express, Batman Begins, Superman Return, Spiderman 3, hingga film yang kemarin sempat membuat heboh: The Avengers.

Pada tahun 2008 film Batman The Dark Knight menjadi film pertama yang melakukan pengambilan gambar dengan kamera khusus IMAX. Itupun hanya sebagian film (sekitar 30 menit). Kabarnya film yang akan pertama kali di shoot 100% dengan kamera IMAX adalah film Batman The Dark Knight Rises, yang sudah ditayangkan pada bulan Juli 2012.

Jaringan bioskop IMAX saat ini sudah mencapai 583 layar di 48 negara di seluruh dunia. IMAX di Gandaria City adalah bioskop IMAX kedua yang ada di Indonesia, setelah IMAX di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Bedanya IMAX di TMII hanya memiliki teknologi layar 2D dan proyektornya belum full digital.

Bioskop reguler terbesar yang aku pernah tonton di Blitzmegaplex Grand Indonesia. Dengan kualitas suara yang biasa aja. Mungkin alat THX ada di audi 1. Dan pengalaman suara terbaik, menggelegar, aku rasakan di XXI layar reguler dgn film The Dark Knight Rises.

Kembali ke IMAX

Banyak orang me-review pengalaman mereka menonton film di Imax. Kebanyakan mereka puas dan terpukau. Kalau aku? WOOOOWWWW!!! Aku gak bisa bernapas dalam waktu 10 menit . Gak masuk akal. Wong Ndesooooo.

Layar menyala dan berputarlah iklan Agung Hercules eh Agung Podomoro Group. Setelah iklan Agung Podomoro Grup usai barulah film dimulai dgn terlebih dahulu ditampilkan sekilas company profile dari Imax. Lalu mulailah film Skyfall dgn prolog kejar-kejaran Bond dan partnernya dgn teroris di Istanbul. Adegan menegangkan ditambah dgn suara yang spektakuler, mengguncang hatiku. Seperti Kulkul dari Indoeskrim Meji; Rasanya Mengguncang Dunia. Udah raib tuh es krim. Kalah seksi dgn Magnum.

Karena layarnya besar--dari atas sampai lantai--maka terlihat seolah-olah Bond (Daniel Craig) ada di depanku. Waktu mobil yang dikendarai Severine (Bernice Marlohe) melaju cepat seakan-akan tuh mobil mau nabrak tubuhku yang halus ini. Rajin pake henbodi hihihihi…. Padahal bukan film 3D. Lantas Bond ditembak dan dinyatakan tewas. Prolog usai. Muncullah suara mendesah dan seksi dari Mbak Adele yang menyanyi full saat opening title. Jarang ada film Hollywood yang menampilkan soundtrack di awal film. Tapi 007 emang beda. Suara Adele memang grand, megah gitu. Ini adalah salah satu soundtrack 007 terbaik setelah The World Is Not Enough, disuarakan oleh Garbage. (yg terburuk adalah Die Another Day—Madonna. Perhatikan deh suaranya mirip robot cacingan). Sungguh malam it terciptakan atmosfer audio dgn kekuatan 12.000 watt dengan sangat menggelinjang.

Sedikit ulasan filmnya. Aksi laganya pas. Kan ada tuh film yang jor-joran. Film 007 kali ini lebih manusiawi dan tidak menonjolkan kecanggihan teknologi. Mungkin Sam Mendes meniru Christopher Nolan saat menggarap Batman yang lebih manusiawi. Lebih ke setengah drama setengah aksi. Ini puncak akting dari Judi Dench yang matang (sematang mangga indramayu) ditambah kepiawaian Javier Bardem yg dengan lihai memerankan Silva yang jahat. Sayang, Bond Girl kali ini terbanting oleh aktor/aktris lainnya. Severine (Bond Girl) kurang meyakinkan. Aku kok lebih suka Michelle Yeoh. Secara dia lincah. Tapi Mami Judi Dench (M) kok tampak tua banget dgn keriput di wajahnya. Beli Derma Wand deh. Kita sebagai bangsa Indonesia mesti bangga karena di film itu ada komodo. Hewan khas Indonesia. Tapi dia jahat; makan orang.

Gambarnya jernih banget. HD tingkat dewa. Dewabroto. Enak dilihat saat longshot atau pemandangan luas. Seperti aku bilang di atas. Aku cuma terpukau dan kagum selama 10 menit. Mungkin menit-menit selanjutnya udah terbiasa kali ya. Seperti kalau kita lihat cewek cantik banget utk pertama kali. Ya cuma bentar terpukaunya. Selanjutnya terserah Anda… (kenalan gitu, ngajak makan).

Dengan harga tiket 60rb (Senin-Kamis), 75rb (Jumat), 100rb (Sabtu-Minggu/hari libur) kayaknya proper lah. Itu diklaim sebagai harga tiket termurah sedunia. Ada hitung-hitungan pendapatan per kapita tiap negara. Nanti kalau Indonesia udah jadi negara maju, apa-apa mahal looh.



Jadi... tunggu apalagi? Rasakan pengalaman menonton film paling mengesankan di dunia. The World’s Most Immersive Movie Experience. Tabung dari sekarang (kalo belum kerja) dan nikmati. Tanggal 16 Nov akan ada film Breaking Dawn part 2 dalam format Imax. *promo aja, mending gw dibayar* Segera ke kompleks Gandaria City, mall lantai 2. Kalau kamu tinggal di Jabodetabek dan hafal jalanan Jakarta meluncurlah ke Jl Sultan Iskandar Muda. Lewat Taman Puring bisa. Lewat Pondok Indah bisa yg ke arah Palmerah.

So, karena aku gak suka Twilight Saga jadi aku gak nungguin banget tuh film. Aku nunggu The Hobbit bulan Desember. Tapi aku gak nonton di Imax (milik bioskop grup 21). Cukup di Blitzmegaplex aja. Biar persaingan usahanya sehat dan gak ada lagi monopoli perbioskopan *salam moviegoers Indonesia*

Minggu, 28 Oktober 2012

131. Surat

Cerita mini ini berlatar tahun 1998, mengingatkan kita pada tragedi Trisakti 14 tahun silam dan kudeta berdarah di Jakarta.



OLEH: abu sudar



Aku semakin sering mengirim surat ke kotamu semenjak merebak hiruk pikuk kerusuhan di tempatmu merantau. Kulihat dari televisi sekumpulan demonstran dan massa membumihanguskan kotamu. Tentang mahasiswa-mahasiswa yang dadanya bolong diterjang peluru panas. Tentang himpunan jiwa yang terkurung dalam kubus kaca yang mengobarkan api kematian. Tentang kamu?



Aku baik-baik saja di Jakarta. Wilayah selatan relatif terkendali, meski ada saja massa yang menjarah pertokoan. Kalau kondisi tak memungkinkan, bos kami menyuruh kami pulang lebih cepat.

Tak perlu mengkhawatirkanku.



Jakarta, 14 Mei 1998.



Secuil kelegaan terbit usai membaca penggalan suratmu. Aku membaui kertas folio itu. Aku ciumi baumu. Baumu sudah menguap jadi kenangan. Tulisan tanganmu masih serapi dulu tatkala kita sekelas. Tulisanmu pun sudah membeku jadi kenangan di buku catatanku. Diam-diam aku merindukanmu.



***

Kudeta Berdarah. Aku tegang membaca judul suratmu. Aku lebih dulu tahu itu dari media massa. Apa pun itu aku memang suka caramu bercerita. Berkisah dari sudut pandangmu. Sudut pandang bujang desa yang baru setahun merantau ke kota juragan. Menggantung cita-cita semenjulang monumen berpucuk emas atau bahkan setinggi rembulan berona emas. Namun takdir seakan banting kemudi. Kemudi reformasi. Menjungkalkan tirani dari tahta berumur empat windu.



"Apa cita-citamu?" tanyaku begitu. Kamu diam sejenak sambil menggulung celana abu-abumu yang terlampau panjang.

"Aku ingin merantau ke ke Jakarta."

"Ah, kamu ikut-ikutan orang-orang di sini. Belum tentu kalau ke Jakarta itu sukses." Kucoba menasihatimu agar urung meninggalkan desamu. Meninggalkan aku. Diam-diam aku mencintaimu. Tetapi aku terlalu lugu.

"Aku ingin bekerja di kantoran. Walau aku sadar ijazah SMA-ku cuma mampu mendudukkanku di kursi pegawai. Pegawai rendahan."



***

Kamu memang tipe laki-laki yang pandai mempermainkanku. Surat-suratku tak lagi kamu balas. Pun kamu tak lagi menghubungiku dari wartel. Masih ingat ketika aku tersipu malu lantaran berlama-lama berbicara denganmu di rumah pak kades. Tak lagi kudengar suara rendahmu nan lembut. Diam-diam aku kehilangan dirimu. Diam-diam kamu menghilangkan dirimu.



"Pos!" Suara yang kunanti diiringi klakson. Rupanya kamu tak kuasa melupakanku.



Suratmu lebih besar sampul coklatnya. Kuduga semacam kejutan. Mungkinkah kamu naik jabatan atau isinya foto 4 R yang merekam dirimu bersama artis Jihan Fahira. Aih... kamu memang tipe pria yang pandai meremas-remas perasaan perempuan.



Aliran darahku mengalir berbalik arah saat kurobek sampul dan kumunculkan isinya. Telingaku mendengar reruntuhan rembulan emas yang menghambur di area sawah yang siap panen. Sekali pun tak pernah kamu bicara hal ini. Aku pun keliru sebab teramat takut mengungkapkan bahasa itu. Aku diam-diam telah mencintaimu. Tak bisakah kamu diam-diam memahamiku? Tak pernahkah nalurimu mengajarimu untuk mengerti aku?



Masih, aku membaui suratmu dengan bodohnya. Tiada lagi baumu. Surat ini sangat harum. Aku mengeja isi suratmu. Tak ada lagi tulisanmu yang dulu. Namamu bersanding dengan nama perempuan yang entah siapa. Belum berani mataku menangis. Kabarmu lebih mengerikan daripada kabar kotamu.



***

Kamu semakin sering mengirim surat ke rumahku sejak berumah tangga dengan wanita pilihanmu. Kubaca dengan sabar pucuk demi pucuk suratmu yang amplopnya selalu melekat dua perangko 2000 dan 1000. Tentang anak laki-lakimu yang tampan sepertimu. Tentang pekerjaanmu yang banyak kemajuan. Tentang istrimu yang dari Padang tapi pintar memasak rawon kesukaanmu. Tentang aku?



Aku mengaku kalah di desa dan memutuskan merantau sepertimu. Aku juga ingin sukses sepertimu. Aku betah sekali di sini dan tak mau buru-buru pulang untuk kawin.

Kamu tak perlu lagi mengirim surat ke rumahku. Tak usah mencemaskanku. Aku baik-baik saja.





Dari sahabat kecilmu



Riyadh, KSA, March, 31, 2002



***

JKT, 12/05/12, 23.53



Selasa, 12 Juni 2012

130. Lubang Cacing

oleh Abu Sudar




6 Mei 2006




"Aku menemukan semacam situs terowongan waktu," ucap Rio. Jemarinya sibuk menyentuh tombol komputer jinjing.


"Wormhole kah? Gimana gunainnya?" Kakaknya menimpali. Pandangannya ke depan. Sesekali melihat adiknya dari spion tengah Kedua tangannya menggenggam lingkaran stir erat-erat. Tatanan rambutnya pendek-tidur dengan segaris rambut depan yang berdiri mirip ilalang.


"Cuma memasukkan data tanggal, bulan, tahun, dan lokasi, terus kita dapat berita dari masa itu. Contoh kita entri data 17 Agustus 1945, Jakarta, lalu akan tampil berita dan info tentang hari kemerdekaan RI."


"Keren.Bisa sekalian belajar sejarah."




Mobil mereka sudah keluar dari jalan protokol menuju jalan tol lingkar luar. Segerombolan awan tak bisa memayungi bumi dari terik bola hidrogen raksasa. Ratapan Nothing Hurts's Like Love dari mulut Daniel Beddingfield setidaknya bisa menyeimbangkan suasana.




"Lingkaran apa, tuh?" Agung, sang pengemudi, panik ketika melihat setengah lingkaran hitam muncul seketika di depannya. Luasnya hampir memakan satu lajur. Ia gagal memerahnyalakan discbrake-- piringan rem-- di roda sedannya. Ia gagal berhenti total. Lantas tenggelam dalam lorong gelap. Terperangkap.




"Kita di neraka!" Rio berteriak sampai menjatuhkan kacamatanya di pangkuan. Tiba-tiba jaringan pada laptopnya terputus. Sedan mereka melesat cepat. Jarum speedometernya ke angka 120. Hanya 10 menit. Setelah itu tampak cahaya. Tertabrak. Kecepatan melambat. Mobil mereka menabrak sebuah kaki raksasa. Kaki Triceratops.




Era Mesozoikum, Periode Kapur, sekitar 145-65 juta tahun silam




"Mas Agung, bangun!" Rio memecahkan air bag yang mengembang di kepala kakaknya dengan ujung pulpen. Agung semaput. Black out

.



Dia celingukan memerhatikan sekelilingnya sembari mengusap dahinya yang sakit terbentur jok depan. Antara kaget, takut, dan takjub bercokol di benak. Ia sadar telah terpelanting jauh ke masa purbakala. Jauh sebelum mammoth hidup di era Pliosen 5 juta tahun silam. Masa di mana Allah belum menciptakan Adam sebagai khalifah di muka bumi.



Wuuuzzz!!!



Ia kaget dan tiarap saat Pteranodon terbang rendah di depan sedannya.



"Kita di mana?" Agung siuman. Keringat membanjiri kemeja panelnya.

"Kita di zaman Dinosaurus," balas Rio berbisik ngeri. Sorot matanya menusuk. Mereka tersenyum getir. Senyum yang dikulum dengan ludah nan kecut.



"Akibat wormhole kah yang kita tabrak di tol tadi?"

"Apa itu wormhole? Lubang cacing?"

"Itu istilah untuk menyebut portal mesin waktu. Ukurannya lebih kecil dari molekul dan atom. Entah mengapa bisa membesar," jelas Agung, si kutu buku, sembari sesekali mengamati tumbuhan paku yang tingginya menjulang.



"Itu jenis apa, Mas?" Ia keluar diikuti masnya. Mereka lebih tenang. Lubang cacing masih menganga tak jauh dari posisi mereka. Udara sejuk. Tanpa polutan.

"Itu Edmontosaurus. Yang tadi kita tabrak itu Triceratops. Mukanya bertanduk tiga. Culanya bisa satu meter. Tingginya 4 meter. Ya, Triceratops artinya muka bertanduk tiga dalam bahasa Yunani."



Mereka kagum dan bersorak menyaksikan rombongan Velociraptor yang berlari secepat 40 mil/jam. Saat hendak meraih ponsel berkamera, Rio jeri melihat Tyranosaurus-rex, sang predator berbobot 7 ton, lari kencang ke arahnya. Diduga akan menerkam Edmontosaurus yang berada di dekat wilahar biru, tempat mobil mereka terparkir.



"Mending kita cabut dari sini." Mereka tergesa memasuki kendaraan. Bersiap memasuki lorong hitam. Memacu mesin berakselerasi.

***

7 Mei 2006



Kepala Rio pusing berputar seumpama gangsing ketika menyerap ocehan ilmiah dari Agung, kakak semata wayangnya, yang IQ-nya setinggi Burj Khalifa di Dubai. Mengenai istilah wormhole yang bersembunyi di kanal ruang dan waktu; dalam buih kuantum. Tentang Teori Relativitas Khusus dari Einstein. Dia mual, malas meneruskan makan malamnya.



"Itu cuma fiksi abu-abu. Fantasi!" Dia mencibir.

"Kalau fantasi belaka, kenapa kita bisa ke Periode Kapur?"



Ia tersudut. Terbungkam mulutnya. Hanya emping manis yang pasrah dikunyah geraham-gerahamnya. Kulit tangannya merasakan dingin tubuh gelas kaki yang berisi tiga perempat jus alpukat. Pikirannya kian pekat. Bagai tersesat jauh ke negeri Hollywood.



"Hmm, kau masih ingat alamat situs mesin waktu itu? Mana laptopmu?" Raut Agung terang menerawang. Ada seberkas cahaya di bawah gelap.



"Apa sebab website itu yang bikin kita menabrak portal waktu?" Rio tergesa-gesa menghidupkan laptopnya. Kepekatan di alam pikirnya berangsur remang, lalu mencerah. Ia menyelidiki menu history di browser.



"Url tentang artikel zaman Mesozoikum. Padahal aku mau baca tentang kepunahan Dinosaurus...."

"Periode Cretaceous akhir semasa suhu bumi turun akibat tabrakan asteroid ke samudra," sela masnya buru-buru.

"Apa kita bisa...." Ia menggantung kalimatnya. Hidungnya kembang-kempis tanda berpikir.



Suasana riuh gemuruh walau hanya dua orang di ruang makan. Agung bertepuk tangan sambil bersorak. Rio berdansa Asereje, diikuti penyiraman segelas jus alpukat ke baju masnya.



"Kurang ajar lo!" Yang disiram mengumpat. Sorakannya meluntur, Rio tertawa keras mengguntur.



"Apa rencana kita?"

"Aku mau ke tahun 1914, menyelamatkan Franz Ferdinand dari pembunuhan agar tak tercetus Perang Dunia I," aju Agung. Serbet putih ia jadikan penyeka noda jus di kaosnya. Mungkin noda darah akan membekas di kaosnya bila ia serius ke tahun 1914.

"Kalau aku... mau ketemu Bapak dan Ibu." Gelombang suara lenyap terhisap keheningan. Ia menunduk. Hidungnya memerah. Keadaan menjadi sentimental.

"Yakin?" Masnya menegasi. Mengonfirmasi.

"Enggak! Biar aku pikirkan yang lain!" Ia berlari ke anak-anak tangga menuju kamarnya.



***

8 Mei 2006



Ia sudah mempersiapkan beragam kebutuhan demi penjelajahan waktu yang akan berlangsung saat pembesaran lubang cacing akibat situs ajaib temuannya. Makanan, minuman, obat-obatan, uang, dan yang lebih penting: seragam SMK-nya. Apa yang ia persiapkan sebagai antisipasi apabila terjadi kemungkinan buruk pada wormhole. Karena tak wajar jika dia dan kakaknya mengunjungi rumah dan penghuni masa lalu seandainya mereka terjebak. Bisa berakibat pada kekisruhan peran dan kekacauan massal.



TIN!

Masnya datang siang seterik itu. Senyumnya melengkung ibarat seiris melon turkmenistan. Ia memang tampan , tak seperti Rio.



"Sudah dipikir matang-matang?" Agung menegasi lagi. Dilepaslah dasi dan jas yang melekat di badannya.

"Merenung dan menyusun strategi semalam suntuk kayaknya sudah lebih dari cukup, ha ha ha ha." Ia mengangkut aneka logistik ke bagasi mobil.



"Jika gagal, siap menanggung risiko, kan?" Masnya kembali meyakini.

"Siap. Kecurangan tak bisa dibanggakan sama sekali! Tapi kekalahan masih bisa dikenang dengan senyuman." Ia berfilosofi.

"Nanti les privat matematika denganku. Honornya 500 ribu per jam. Jaminan ha ha ha.... Okay, pasang sabuk pengaman lalu lompat ke tanggal 4 April 2006. Pasti ada berita tentang Bambang Trihatmodjo yang mengunjungi Mayang hehehe…."

"Siap, Mas? Bismillah. Enter!" Maka timbullah titik hitam kecil yang bertahap dalam hitungan sekon membesar di atas jalan yang panas terbakar. Mereka lenyap dalam 3 detik.



***



4 April 2006



Peluhnya mengucur deras dari jidat ke gagang kacamata. Rio merasa cuaca sangat panas pagi itu meski matahari kuning tua baru merangkak. Grogi dan mawas. Lambungnya mulas. Ia ragu memasuki gerbang sekolah berbarengan dengan kawan-kawannya. Wajah mereka kaku nan tegang.



Lehernya menoleh ke sedan merah. Agung menggulung kaca lantas mengangguk. Klakson dari jarak 15 meter bagai cambuk yang membuatnya berjalan. Menjalankan misi masa depan. Misi berbahaya--jika gagal.



"Hai Rio, bukannya kamu sudah naik ke atas?" Temannya memergoki di depan aula. Perempuan itu heran. Ia berhenti mengunyah pastel hangat.

"Eh eh eh. Kau salah orang kali!" Yang dipergoki merasa kepepet, menghardik, kemudian ambil langkah paling efisien menjauhi perempuan berjilbab tersebut.



Kegugupan belum amblas tiba-tiba ada yang memanggil nama lengkapnya. Ia berhenti menyusuri lorong yang kanan-kirinya merupakan ruang praktik jurusan teknik pendingin dan mekanik otomotif. Livernya ngilu. Ia kenal suara itu. Ia hafal bebauan sandalwood itu.



"Ayo buru-buru naik ke ruanganmu." Tegas namun senyum orang itu terulas. Kedua tangannya bertaut di belakang.

"Oh Pak Handoko." Rio membalas kepada wali kelasnya. Suaranya bergetar. Sol ketsnya memaku bumi. Detik-detik merintik amat lambat. Bingung sekali. Ia tak bernyali untuk menatap lekat mata Pak Handoko. Label nama di dada beliau seolah berganti kata menjadi KEGAGALAN.



Pak Handoko melipir. Ia menerima panggilan dari ponsel. Menjauhi anak didiknya yang pucat sekarat.



***



Ia mendekam di gudang komponen. Sumpek, jemu, dan bau gemuk. Permen karet ampuh menganulir kebekuan menanti waktu. Jam 08.45. Jam saat Ardian menuju kamar kecil dan menyelipkan kertas contekan matematika di suatu sudut. Tiga menit lagi. Dadanya berkecamuk.



Derap langkahnya canggung. Ia mencerna situasi. Lengang. Kakinya diayunkan ke lokasi target--toilet pintu 2--yang berjarak lima puluh kaki di sisi kantin. Sebuah misi yang konyol tapi menantang. Ia berpikir lebih hebat daripada John Titor si penjelajah waktu. Ia jumawa. Membusungkan dada.



Ia memeriksa di berbagai sudut. Di balik celah wastafel, tak ada. Di dalam kotak kapur barus pun nihil. Di rongga ventilasi juga tak teraba. Lalu menggoyangkan gulungan tisu. Jatuh. Segera ia pungut sebelum basah sempurna. Sesudah itu ia berlari ke posisi awal, gudang.



***



23 Desember 2004



Ia sungguh terkejut tatkala bapaknya menyiram console game-nya dengan secangkir teh hijau panas. Ia meringis. Lengannya terpercik. Tombol daya ditekan off. Ia melebarkan telinganya sebagaimana telinga gajah afrika. Telinga yang bisa mengibas-ngibaskan udara panas. Panas omelan.



"Dari Bapak pulang kamu belum juga bangkit!" Bola matanya jerau membesar. Urat lehernya setegang dawai kecapi. Rio tengah mengepakkan kuping lebarnya. Menghalau panas.



"Valerio, Bapak perhatikan hidupmu nyaris hancur sejak ibumu meninggal. Badanmu kurus. Nilai semestermu terjun menukik tajam. Mandi pun jarang. Shalat pun diringankan. Terus kamu mau jadi apa?" Volumenya merendah. Rio mematung. Mata bapaknya sudah tak menjegil.





"It's okay kamu terpukul. Manusiawi. Tapi enggak berlarat-larat kayak gitu. Sudah 2 tahun. Teladani Bapakmu ini yang yatim piatu sejak 10 tahun. Hanya diasuh oleh nenekmu seorang...." Dia berhenti menasihati anak bujangnya. Dia duduk di sofa, dekat anaknya.

"Kamu juga tahu betapa beratnya perjuangan bapakmu ini," dia meneruskan, "Lalu mana perjuanganmu?"



***



Mana perjuanganmu?

Mana perjuanganmu?

Mana perjuanganmu?



Batok kepalanya pusing tak keruan bak dipukuli martil tiap mengingat suara itu. Tenggelamlah kepalanya di antara lekuk tubuhnya, di pahanya. Bagaimanapun juga ia lumayan gentar bilamana menghadapi risiko getir akibat misi kali ini. Ia bisa menakar sendiri kapasitas otaknya. Selain takdir dari perbuatannya, hanya keberuntungan buta yang ia yakini sanggup menolongnya. Ia mulai mantap.



Ia meninggalkan gudang itu ketika gemerincing bel membahana. Waktu ujian usai. Ketukan ketsnya gegap mengisi keheningan lorong. Pintu terali besi dibuka. Beberapa murid turun dari tangga. Ia bergegas.



"Cabut!" Ia telah masuk dan duduk di jok belakang. Baju seragamnya ia tanggalkan. Diganti dengan kaos oblong putih bertuliskan Live Long and Prosper—panjang umur dan makmur. Kaos katun longgar itu nyaman bagi badannya yang agak tambun tapi bugar. Ia gemar berolah raga, khususnya basket. Mata pelajaran Penjaskes-lah yang paling ia kuasai, bukan matematika.



Reseptor hidungnya tersadar mencium aroma daging sapi goreng dan mayonaise. Direnggutlah burger panas itu dari genggaman kakaknya. Agung bergeming.





"Apa misi lubang cacing benar-benar berhasil?" Masnya mulai sangsi. Pedal rem ia injak. Lampu hijau padam, berkedip kuning, lalu merah menyala.

"Apa gagal?" Usai melahap burger ia menenggak sebotol air mineral.

"Benarkah Teori Grandfather Paradox berlaku?"

"Apa lagi, tuh?"

"Apabila kamu kembali ke masa lalu dan membunuh kakekmu yang masih bujang, maka kamu akan lenyap dari dunia ketika kamu kembali lagi ke masa depan. Nah, mengubah garis waktu itulah yang disebut paradoks."



Si pengendara menggerakkan persneling ke gigi satu saat melewati jalan menanjak. Pikiran Rio ikut menanjak memahami teori paradoks kakek. Ia menangkap. Alih-alih, ia bimbang dengan misinya. Absurd. Apa pun itu, aku sudah berusaha, bisiknya.



Mereka mendekati terminal portal tempat keluar. Lubang hitam membesar ketika mendeteksi properti dari subyek penjelajahan.



***



Sedan merah mereka melaju di hamparan hitam-gelap sejauh mata memandang. Kecuali sumber cahaya dari lampu sorot mobil, tak ada satu pun cahaya monokromatik merambat.





"Lubangnya lebih kecil," komentar Agung tatkala menghampirinya. Kecepatan kendaraannya ia perlambat. Ada kesalahan.

"Untuk mobil enggak pas." Rio menghidupkan laptopnya. Sinyal kosong. Masnya menekan pedal rem perlahan.

"Kenapa ya, Rio? Coba kau turun!" Masnya memerintah.

"Gila aja!"



Agung menurunkan kaca. Tangannya dilambaikan ke luar kemudian menjatuhkan botol plastik.

"Suhunya dingin banget, kurang lebih 5 derajat celcius. Aman dipijak. Cepat turun." Ekspresinya cemas. Ada yang tak beres.



"Terus aku ngapain?" Rio tak kalah cemas.

"Kamu tembus lubang itu. Setelah di luar kamu buka program itu dan masukkan data yang sama." Lingkaran berdiameter 60 cm itu berpendar kuning terang. Menyusut berangsur-angsur.



Ia melangkah cepat menjinjing laptop hitam. Jaket wol membebat tubuhnya. Ia merunduk dan hilang ditelan cahaya.



"Mas Agung!" Teriaknya ke arah lingkaran hitam yang tampak seperti bernapas. Tanpa menunggu aba-aba, ia melaksanakan tugas yang kurang ia mengerti. Jari-jarinya basah dan bergetar. Siang telah karam di ufuk barat.





"Bagaimana, Rio?" Suara Agung keras memantul dari dalam.

"Ada peringatan 'the hole is less energy' saat kutekan enter!" Kali ini suaranya parau. Ia kebingungan bukan alang kepalang sementara lingkaran hitam di depannya menyusut jadi 40 cm.

"Ayo keluar, Mas! Abaikan mobil itu!" seru dia lebih lantang. Kacamatanya berembun akibat mendung di korneanya. Ia mengkhawatirkan nasib masnya.

"Tenang aja, aku pasti keluar kok!"

Akan tetapi... Blazzz!



Lubang itu mengkerut cepat lalu raib diiringi kemunculan mega merah di angkasa. Bidadari petang telah duduk di pangkuan bumi dan selendang lembayungnya menaungi penghuni bumi. Sekawanan kelelawar terbang rendah tak beraturan di antara raga Rio yang berdiri kaku. Mulutnya menganga. Ia gagal melunakkan situasi berat yang tengah berlangsung. Ia tersunjam, terisak, terkapar di lapangan bola berdebu. Kertas berisi huruf-huruf a sampai d ikut jatuh dari kantong celananya. Air mata menetesinya.



Ada tunas penyesalan tumbuh-menjalar ke pelosok sukmanya. Ia egois sampai harus mengorbankan saudara kandungnya. Hanya demi misi ambisiusnya. Misi konyol. Misi pembawa petaka. Perjuangan yang payah. Kejujuran yang angkuh. Dan kehilangan tak berbekas.



"Mas Aguuuuuuung…!" Teriakannya pecah bersama cairan bening di kedua pipinya. Bunyi pilu menggetarkan molekul-molekul udara pada senja yang telah tua.



***



12 Mei 2006



Ia tak begitu menanti hari ini, hari diumumkannya kelulusan via pos. Ia lebih menunggu kepulangan saudaranya. Tiada kabar maupun balasan dari ponsel dan akun Friendster-nya. Ia melongok dari kamar tidur dan mondar-mandir memeriksa kotak pos. Surat belum datang, kakaknya pun belum pulang. Masygul hatinya.



Mohon lengkapi properti Anda



Berkali-kali ia memencet tombol enter namun perintah itu yang lagi-lagi muncul pada kotak dialog. Sama sekali tak paham maksud kalimat itu. Ia rindu ditinggal masnya tiga hari tiga petang. Saban malam ia kerap mengungam memanggil-manggil ibunya, bapaknya, dan saudara lelakinya. Ketika terbangun, ia sadar telah menjadi sebatang kara. Tak kerasan ia hidup seorang diri.



***



Kotak pos kaleng yang setengahnya berkarat ia rogoh. Sepucuk surat dari alamat sekolah tertuju untuknya. Ia lesehan di lantai teras. Lensa cekungnya ia pasang. Mukanya tegang. Segel perekat ia rusak. Dibacanya susunan surat, mulai dari kop sekolah, nomor surat, isi, lalu sebaris kalimat bercetak tebak. Semacam vonis.



"Ya Allah...." Kata-katanya terhambat. Beban berat menekan dadanya. Ia jambak sendiri rambut kusutnya. Parasnya muram, suram, dan kelam seperti malam. Betapa getirnya buah kejujuran. Keberuntungan teramat mahal buat pahlawan ingusan. Ia sesenggukan. Lensanya terbanting membentur keramik.



TIN!



Sapaan mobil terdengar kencang. Ia abai. Sapaan kedua memaksanya mengangkat kepala dari ratapan. Secepat kilat ia bangkit. Ia kenal siapa itu.



"Mas Agung?" Berbinar-binar wajahnya saat itu. Pintu pagar ia dorong. Gesekan rodanya berderit. Batas suram dan senyum sangat tipis. Ia kesulitan merubah ekspresinya sendiri. Buru-buru ia seka noda air mata di pipinya.



"Aku bilang dulu kan begitu. Awas menyesal." Agung terkekeh geli. Rambut adiknya ia acak-acak. Rio menyambung tawa kakaknya. Tawa getir tepatnya.



"Mas dari mana?" Ia rindu sekali pada masnya. Satu-satunya keluarga yang masih ia miliki. Ingin sekali ia memeluk masnya erat-erat. Menumpahkan beban rindu di dadanya supaya masnya merasakannya juga. Paling tidak memeluknya 5 detik atau 5 menit bahkan 1 jam lamanya. Tetapi tidak. Ia malu. Ia gengsi. Mereka berdua lelaki sejati. Tak pantas, desah dia.



"Wah, pokoknya ceritanya spekatukeler deh." Agung memarkirkan mobilnya di garasi. Sedari tadi ia tersenyum cerah. Menghilangkan selusin kecemasan di pundak Rio.

"Cerita dong!"

"Trailernya dulu. Aku tinggal di istana Khilafah Turki Utsmani. Nuansanya sangat Islami. Tak tergambarkan dengan kata-kata." Agung sengaja ingin menghibur adiknya dengan membuatnya penasaran tentang pengalamannya.

"Wow!" Kedua mata Rio membelalak. Kagum dan kaget bercokol serentak. Ia tak sabar mau mendengar cerita lebih panjang. Ia bersorak 'yuhu' seperti melupakan sejenak beban nan berat. (*)



Jakarta, 22 Mei-1 Juni 2012



Mohon masukan, saran, dan kritik yang membangun dari pembaca ^_^



Terima kasih untuk Canalullah, Muby, dan Argha atas dukungannya.



BALTYRA.com



KastilFantasi.com

Rabu, 14 Maret 2012

129. Kado untuk Stefani (episode akhir)


Asma kronis. Penyakit menahun. Itulah jawabannya. Jawaban yang kalah semarak dibanding kicauan-kicauan sampah di Twitter. Kurang memuaskan bagiku. Terlebih tentang rumor kematiannya akibat dicekik roh jahat dari Andrew. Yang terakhir adalah rumor yang aku ciptakan sendiri hanya karena dia menyampaikan pesan yang sama antara aku dan Marisa. Wo yao qu, wo bu yao zai di chu [aku ingin pergi, tak mau menginjak bumi]. Lalu berkembang di benakku akhir-akhir ini penyebabnya yakni Marisa. Kusangka menghilangkan kalung milik Andrew sehingga mati menyedihkan.



Segalanya patah. Robek. Itulah faktanya ketika aku membaca salinan berkas VeR (Visum et Repertum) yang diserahkan Ibunya Marisa. Anak itu ngeyel waktu dicegah keluar oleh Ibunya sebab cuaca di luar dingin. Kondisinya sedang memburuk. Bantahannya berakhir maut demi perayaan valentine yang menyesatkan pikirannya.



"Marisa nggak pakai perhiasan emas waktu itu. Paling aksesori gelang plastik yang dibeli di Nico Nico Intimo." Ibunya ramah. Ia tak curiga dengan pertanyaanku yang setengah menuduh putrinya.



Aku mengundurkan diri usai suamiku habis mengunyah tiga donat yang tersuguh. Masa-masa serius dia masih sempat menikmati lezatnya makanan.



"Kamu malah makan." Protesku di mobil.

"Donat secengan lebih enak dari J-Co ha ha ha...." Sebutir meises menempel di bibirnya.

"Nggak menghormati orang susah."

"Lho? Dikasih makanan di meja ya harus dimakan dong. Kalau nggak namanya nggak menghormati. Tidak suka. Tidak enak.” Kujewer telinganya sampai dia bilang aduh dan ampun.



TIN!

Ada city car hendak masuk ke garasi saat kami tengah berusaha keluar. Anak muda. Diduga cowok yang menyaksikan bayonet malaikat maut melesak ke dada Marisa. Aku menahan tangan Tom di stir.



"Lihat nopolnya. 9342. Kombinasi angka pada rokok Dji Sam Soe yang dibakar setan kemarin malam." "Ah lebay lu kayak detektip aja. Rokoknya juga amblas. Padahal sudah kusimpan di stoples."

"Nanti kita buntuti dia!" Aku sangat membara dan bergelora.



Di lantai aspal nan sepi, Tom berhasil menghadang dia dari depan. Tak pelak terjadi insiden tabrakan. Tidak parah. Rasanya Tom butuh belajar banyak dengan pebalap GP sekaliber Rio Haryanto.

"Ng***** lu!!!" Si pengemudi memaki kami.

"Ko**** bau lu!!!" Wah payah jika Tom begini. Rencanaku bisa kandas.



Kuhampiri sang pemaki. Sajak maaf untuknya kuatasnamakan suamiku yang brutal bagai di negeri mimpi. Kujabarkan maksud kami. Dia melunak.



"Betul. Marisa menyerahkan kalung itu pada saya." Cukup membanggakan kejujurannya.

"Bersedia kalau saya beli kalung itu dua kali lipat?" Apa air liurnya menetes?

"Nggak. Itu kenangan terakhir saya dengannya. Priceless." Gagal. Strategi antipenuduhanku dilepehnya lonjong-lonjong.

"Memang kenapa kepengin kalung ini? Di toko emas banyak." Kata-katanya keluar bersama kalung tersebut dari tas laptopnya. Pemuda yang ternyata bernama Fiyan itu segera membenamkan kalungnya. Selaput air di mataku menebal saat kutatap selayang pandang kalung itu. Pecah. Entah bagaimana.



"Karena dia cici penjual emas yang paham emas mana yang berkualitas premium." Tom membelaku.

"Tetap saja. Takkan saya lepaskan." Fiyan benar-benar keras kepala.

**

Apakah wanita tak pernah mau bangkit dari masa lalu? Jika memang iya, wanita itu adalah aku. Kaki kananku telah berpijak di garis masa depan. Kaki kiriku masih terbelenggu rantai masa lalu. Terlalu cepat tamat untuk tak terselesaikan. Juga begitu cepat bersambung untuk diselesaikan.



Bersama tokoh kamu yang baru. Siapkah aku berbahtera dengan kamu yang baru? Belum, Tom. Kamu yang baru hanyalah pelarianku. Plester. Nafsu badaniyah belaka. Gula-gula manis bergagang berlian. Wanita lebih memilih mengemut berlian, Tom. Bukan ular nagamu.



Otakku masih awas meraba-raba monumen kenangan tanpa tanggal denganmu, kamu yang lama. Ruangan lama. Di bangku taman itu aku sekali mengejek posisimu. Kugantikan dengan pria kedua. Karena kamu punya apa, Andrew, untuk cinderella-mu ini? Adakah roti dari bahan baku cinta yang diolesi air liurmu, lalu mengenyangkan lapar? Kamu tidak pernah mau tahu di mana letak pergumulan logikaku sebagai wanita lantaran kamu sering menyakitiku sebagai wanita beremosional.



Emosi dan logika berjumpalitan mengaduk segelas jus jeruk yang sudah dua jam gagal kusedot. Di detik akhir aku menyerah pada dahaga di mal ini. Sarang manusia yang riuh bergemuruh. Banyak pasangan muda tertawa girang mendampingi putra-putri mereka di zona permainan seraya menunggu gulungan film diputar di gedung teater.

Aku nyatanya seorang diri. Dua karcis nonton aku robek. Rahayu urung menemaniku. Mertuanya mendadak bertamu. Dia dua kali memesan permaafan dariku. Sahabatku yang tak mau menghakimi dosa-dosaku. Orang pertama yang menjemput air mataku untuk Andrew.



Everybody needs a best friend in this world

We all need one good thing in this cruel cruel world

That we can count on all of our lives

You sounded so alone last night and I could not help but cry

I wanted to reach out to you and just make everything all right

I wish that I could show you just how much I truly care

All my life I promise to be there

**

Aku tak sabar menunggu kepulangan Tom. Ia minta bantuan pada Mas Luki supaya gagasan rencananya berjalan halus. Tak mengerti pertolongan jenis apa yang diberikan ahli supranatural berawakan tinggi itu. Apa pun usahanya, itu lebih baik daripada dia dan aku menuduh Marisa sebagai pencuri lalu menunjuk Fiyan si penghilang barang bukti atau justru penadah. Ekstrem. Kami hanya punya saksi anak-anak, di bawah 18, dan dia Jo. Kami tak tega menggiringnya ke pengadilan. Bukan nilai ekonomi yang aku tuntut dari seuntai kalung itu, melainkan nilai kenangan di tiap karatnya. Harapanku, Tom kembali membawa apa yang aku cari. Andaikata tuntas dan selesai, aku yakin teror-teror gaib akan sirna. Takkan lagi ada jin Andrew, setan Mei Mei, suara kecipak air di toilet, dan apa saja yang selama ini terasa mendecakkan jantung; semua itu bersekutu dalam satu komando.



"Kakak." Panjang umur. Panjang kepang. Makhluk yang bersangkutan bersuara.

Aku mencoba mengendalikan rasa takut. Rasa dalam diri sendiri. Harus ditaklukkan. Walau tetap waspada. Kutiti jengkal per jengkal mendekati lukisan. Matanya berkedap-kedip. Aku tekan ketakutan yang menggelembung. Dia hanya entitas makhluk sama denganku.



"Apa maumu?" Diam. Malah terisak.

"Hai istriku yang jelek!" Panggilannya bikin aku lompat. Suamiku yang sipit. Auranya positif dan prospektif. Ia memegang sesuatu. Keberhasilan.

"Ini, simpan baik-baik," ucapnya riang. Aku berjingkrak girang. Bernyanyi da di du di da.

"Bagaimana kamu bisa meraihnya dari tangan Fiyan?" Bikin penasaran!

"Azimat bermahar 500 ribu dari Mas Luki, yaitu gendam." Ia memperlihatkan semacam batu kecil. Masih okultisme.

"Gendam?"

"Mix antara pelet dan hipnosis, kurang lebih."

"Sebuah kejahatan," gumamku.

"Aelah, pencuri dilarang menyalip pencuri bro!"

“Xie xie.” [terima kasih]



Tangan jailnya menepuk bokongku. Ia berlalu, tertawa puas, melepas bajunya.



Kalung emas 10 gram 20 karat tanpa liontin. Tentu tak sebanding disejajarkan dengan kalung valentine kado dari Tom. Ini pengikat emosional antara aku dan Andrew. Pudarlah terlutuh di kain yang terkembang melayari perjalanan kami. Untuk menit ini. Walau noktah merah kesumba melekat kuat dalam serat sejarah. Dia menggantung napas terakhirnya di temberang pemenggal nyawa sewaktu kami terbalik menabrak karang melintang.



Bayangan Andrew meluntur terurai cahaya tanwarna. Terakhir mukanya tak biru pasi lagi. Senyum Mei Mei pun melengkung gagu. Air matanya jatuh terburai di sungai. Tak ada lagi terang di belakang bayangan. Tiada lagi gaduh di tengah keheningan.

**

Aku menghidupi kenangan

jelmaan aksara di marmer hitam

pada nisan di gunduk pusaramu

menabur kembang hidup

agar namamu hidup

bukankah kenangan akan hidup bila segalanya mati, sayang...

namun butuh saksi hidup untuk mengenangnya, cinta...



ingatkah engkau tatkala kita menerima hosti suci dari tarbernakel?

hosti lapuk! keluhmu

selapuk cinta kita

nanar matanya menerawang pada diam

aku melipir ke malam

tersisa kelam



Hari ini aku ringan berjalan. Kutebar senyum. Kukabari suka. Membagi kasih. Tiap pengamen dan pengemis menerima uluran sedekahku. Tak seperti biasa, bila kaca film terketuk hati terpaksa terbuka.



"Masak apa kau?" Tanyamu dari kantor.

"Beef steak," asal kujawab. Spontan kamu terpingkal. Nyaring. Ingin kecelupkan ponselku ke wajan. Aku tahu kamu sedang mengurangi lemak daging supaya program fitness-mu sukses. Ah, gombal kamu, Tom, ha ha ha. Punya perut six pack adalah tahayul bagi orang sibuk macam kamu.



Obrolanku dengannya mengganggu aktivitas masakku. Malam ini akan ada menu yang tak terlalu berlemak. Tahu mapo, capcay, mi hijau, dimsum (dianxin) aku sajikan. Tapi bukan dim sum fang zau (ceker ayam), cukup bakpao kacang hijau. Penutupnya ialah gelato, bukan es krim yang berlemak. Sebagian kumasak dibantu bibi pembantu. Sisanya aku membeli di luar.



"Mama mia, amazing birthday celebration!" (Mama mia, selebrasi ulang tahun yang keren). Komentar Tom ketika baru pulang.

"Ulang tahun suami kolokan, he he he," gurauku

"Biar kolokan tapi pahlawanmu, ha ha ha." Dia naik ke kamar untuk mandi dan berdandan.



Dia mengamatiku serius. Membuatku tersanjung. Jangan-jangan little black dress-ku yang tak berpundak. Apa pikirannya kalau busananku berlebihan? Persis perempuan berkebaya dan berkonde lantas cuma makan malam di rumah bersama suaminya, begitu kan? Tak masalah kan seorang istri berias tampil anggun demi suaminya.



"Selamat menikmati." Kupersilakan semangkok mi hijau untuknya.



“Bu yao, wo chi bao le,” [不要, 我吃饱了. Tidak, aku sudah kenyang] tolaknya seketika.

"Kenapa?"

"Buang dulu kalung itu." Ia memerintahkan hal yang tak ternyana. Hatiku tersayat.

"Memangnya kenapa?" Air mukanya mendidih. Tidak ada pribadi Tom di sana. Terkaan-terkaanku belum menemukan titik hampir.

"Serahkan sini!" Bentakannya menohok. Membelalak. Aku buru-buru mematuhinya. Rupanya aku takut pada wibawa lelaki.



Ia mengaum murka dan mencampakkan kalung itu ke lantai. Keras sekali. Andai yang ia lempar berupa telur bercangkak baja pasti remuk. Seremuk hatiku. Kini kepalaku tersunjam lagi ke tanah. Lagi dan lagi.

"Kamu jahat!!!" Tangisanku tak bersuara. Mimpiku yang berlatar surga sedang terwujud. Ia sungguh kejam. Merobek perasaan Andrew.

"Besok aku nggak mau melihat kalung itu di lehermu. Deal?" Ia pergi. Bayangannya tampak bagai anak setan berlidah api yang memegang tombak trisula.



**

"Hai Jeng, come in.” [ayo masuk"]. Ajak Rahayu ketika aku di depan pintu rumahnya. Aku dituntun ke kamar tidurnya.

"Drink what? Tea, coffee, juice, hot chocolate; which one?"

"Nggak usah."

"Please, you need it."



Mataku menjelajah kamarnya, terpaku pada foto pernikahannya. Wajahnya bahagia, juga suaminya dalam bingkai itu. Mereka berdua berpacaran sejak SMA. Meski kerap putus-nyambung, kekuatan cintalah yang mengikat mereka dalam pernikahan. Ada sebentuk iri membuncah di dada.



Ia tiba membawa nampan. Ada secangkir teh hijau dan kudapan roti vla tabur almond. Menggiurkan, namun tidak untuk kesempatan ini. Suasana jiwaku berantakan. Pikiranku lagi kacau. Apalagi semalam Tom minggat dan belum juga pulang. Ia foya-foya merayakan ulang tahunya dengan kawan-kawannya. Ia tidur di hotel dengan perempuan nakal. Begitulah isi pikiran galauku.



"Ayu, kira-kira kenapa dia? Dia enggan menjelaskannya."

"Kamu harus peka, Jeng, sebagai perempuan," timpalnya singkat.

"Peka?" tegasku kurang paham. Kuminum sedikit teh hijau agar pikiran lebih rileks.

"Ember (memang). Maksudku, kita sebagai pere harus peka dalam membaca perasaan lelaki. Mungkin aja Mas Tom yang cucok itu cemburu karena kamu pakai kalung dari Andrew. Lelaki mana sih, Jeng, yang gak jealous." Rahayu benar. Aku tidak peka. Aku tak mau peka, selain pada tiap keping uangnya yang dihabiskannya.

"Ayu, aku amat menyesal." Banjirlah bajunya dengan air mataku. Aku tergolek lemah di dekapan sahabatku.

"Weep as much”. Biar lega." [Menangislah sepuasnya].

"Aku sudah dua kali mengecewakan lelaki aku benar-benar wanita pendurhaka...."



Seolah air mataku terus menderas dan merintik. Berhamburan. Aku tak kuat berdiri.

**

Tiga hari kulewati hidup tanpa lawakan garing ala Tommy. Ia mendiamkanku. Keperluan apa pun ia kerjakan sendiri. Ia pernah mengenakan dasi motif batik dengan kemeja kuning. Menurutku itu kurang sesuai. Aku tak berani meralatnya.



Tubuhku yang rajin kurawat dengan lulur puteri keraton dan wajahku yang kulumuri ekstrak caviar tak lagi ia sentuh. Ia mudah merajuk. Itulah sifat aslinya yang keluar sesudah tiga bulan menikah dengannya. Bagaimanapun itu, aku telah memilihnya. Juga aku telah memilih untuk dipilih. Dia ada di depanku sekarang. Aku harus melangkah maju. Melupakan masa lalu yang terserak di belakang.



"Mas Tom, mau dong digendam. Aku rela diapa-apain," godaku diiringi gestur genit. Aku ingin melumerkan kebekuan. Ia sedang memainkan PSP di tempat tidur. Kemudian terpingkal-pingkal mendengar ajakanku. Aku menggenggam kunci yang menggembok keintiman kami. Aku tidak betah melakukan aksi bisu di rumah.



"Jangan panggil Mas Tom, cukup Tom aja." Katanya di akhir tawa. Kudekati dia. Tiduran di sisinya. Meraba perutnya.

"Nanti aku dicap istri yang tak hormat." Kusingkirkan portable game dari tangannya.

"Ya enggaklah. Lagian aku maunya disapa Ayah Tom. Bila kita sudah punya anak," harapnya berbinar.

"Dan aku dipanggil Bunda Fani. Cetak tebal Bunda." Kami saling berpelukan. Kurindukan kehangatan badan laki-laki. Tiga hari serasa tiga tahun kedinginan

"Dalam kurung buntingin janda, ha ha ha...." Mulai lagi candaan garingnya. Lengannya kucubit hingga merah. Malah ia menindihku. Aku sesak menahan berat raganya.



"Mana kalung itu?" ungkitnya

"Kenapa kamu tanya lagi? Sudah kulupakan. Kalung itu ada di Jonathan. Kusuruh ia menjaganya," terangku demikian.

"Kamu yakin melupakannya?" Tanyanya menyelidik. Ia duduk.

"Iya," balasku ringkas, antara yakin dan tidak.



Dia turun. Menuju ke lemarinya. Mengambil bungkusan hitam. Menentengnya kemari.

"Ini kado untuk Stefani dari... Andrew!" Dikeluarkan kotak perhiasan. Dibuka. Seuntai kalung. Aku belum mengerti apa maksudnya. Napasku tersumbat. Menebak, apakah ini kejutan atau lelucon belaka?

"Apa ini?" Dua kata dan selengkung tanda tanya yang sanggup kuujarkan.

"Itu yang original. Yang disimpan Jo cuma duplikat.”

"Jadi kamu cuma akting, Tom? Kamu jahat!" Aku menangis deras antara bahagia dan kesal. Akting sinetronnya Tom sungguh mengecoh. Menyebalkan.



"Aku bilang kan simpan baik-baik, bukan dipakai. Masa lalu nggak mesti dibuang, simpan saja, tapi tak perlu diletakkan di depan." Tumben Tommy menyabdakan kata-kata mutiara untukku.

"Tom, maafkan aku ya. Wo ai ni.” [我爱你 Aku mencintaimu]

“Wo ye ai ni.” [我也爱你 Aku juga mencintaimu]



Aku meraih tangannya. Menciumnya dengan takzim. Aku telah merepotkannya untuk melalui dan memecahkan misteri yang amat mendebarkan selama sebulan ke belakang. Pasti ia tersunu percikan api cemburu manakala sering kusebut nama Andrew.



"Hayo, katanya minta digendam." Ia mengelitiku. Meronta-ronta manja dalam dekapannya. Jeritan-jeritan geli menciptakan gelombang longitudinal yang bermedium ke seluruh udara kamar. Gaduh. Berisik.

"Nggak mau ah. Entar aku disuruh gaya-gaya cabul di ranjang sutra, ha ha ha."

"Mulai 1-2-3!"



TAMAT

Jakarta, 3-8 Maret 2012

*****

128. Kado untuk Stefani (episode 3)


Andrew memanjat pohon berbatang nila. Ia berusaha meraih sekuntum bunga paling indah dan besar yang bermahkota di pucuk pohon. Berhasil. Serta-merta....



"Andrew!" Ia terjungkal. Telentang di hamparan butir-butir emas. Kudekati. Lantas ia tersenyum waktu mengangsurkan ratu bunga padaku.



"Harum sekali kembang ini," ulasku. Terpejam. Belum pernah sebelumnya wewangian ini terhirup. Baik puspa dari bumi tropis maupun puspa dari bumi empat musim. Terlena. Ia telah berlari menjauhiku ke kerumunan pemuda yang meniup serunai berlanggam syahdu nan merdu.



"Andrew sayang, kamu hendak ke mana?" Pengejaranku terhalang dinding halimun tebal. Aku di pinggir sungai susu. Pikiranku, dia bersembunyi ke arah estuaria di kuala sungai.



Ya habibah, aku di sini." Jubah putihnya berkibar. Kemah miliknya tampak agung dan kemilau. Dia kususul. Kupeluk. Erat. Melekat.



"Kamu jangan tinggalkan aku." Pintaku manja. Keningku dikecup. Mendamaikan.



"Ya maula, maaf, hidangannya sudah datang." Dari luar kemah, seorang pelayan memohon izin masuk.



"Silahkan," sahutnya, duduk di tempat tidur yang pinggirannya bertabur manikam aneka warna.



Pelayan masuk membawa dua nampan perak. Satu nampan berisi dua gelas kaki dan seteko khamr. Satu nampan lainnya tergolek burung bakar. Menteganya melumer ke dasar.



Si pelayan mohon undur. Rambutnya berkilau dan harum. Seperti disemir dengan pomade. Di pinggangnya, terpasang sebilah keris.



"Ya habibah, mari kita nikmati hidangan lezat ini." Andrew mempersilakan, menarik kursi untukku. Kami berhadapan di antara meja pualam. Aih... getarannya bikin perutku mulas.



Kubalikkan piring logam bermotif segi oktagonal. Diambil olehnya. Ia menyobek seiris daging untukku. Kupetik sebutir anggur dalam keranjang. Kusorongkan ke mulutnya. Dia mengunyah seraya tersenyum. Hidungku dicubit.



Tak perlu instrumen untuk menimbulkan irama musik. Cukup deburan ombak dan cericit ciblek lincah. Serta kami berdua sudah menjadi nada-nada yang padu dan satu, meski tetap ada timbre sewaktu kami mendendangkan tembang tentang sejoli yang ingin hidup abadi di tepi nirwana.



Ada yang masuk. Pedang mengacung. "Hai Stefani!!!" Berteriak keras sekali. Lelaki itu. Dia betoga merah kental. Tommy. Kemunculannya mengejutkan agenda percumbuan kami.



"Kakanda Tom." Aku menyahut. Kepergok. Alamat leherku bakal dipenggal.



Klang! Andrew mencabut samurainya dari sarung. Matanya waspada. Akan ada pertarungan sepasang pendekar memperebutkan seorang perawan.



"Kakanda Tom, jangan." Supaya ia mundur, aku maju menahannya. Terompahnya bergesek. Pedangnya menghalau. Aku berhenti.



"Gadis pengkhianat!" tukasnya sengit. Dia tunanganku. Dijodohkan. Aku tak mencintainya. Ia brutal.



Kemudian mereka beradu pedang. Mencabik angin. Membelah kain. Memeras darah. Menumbuk amarah. Menyisakan penyerah.



"Hentikan!" Kutahan dia. Dibanting tubuhku.



Aku keluar mencari pertolongan. Sepi nian. Hanya seekor kuda merah legam kepunyaan Tom. Tiada harapan.



"Aaaarrrhhh...!!!" Teriakan pilu. Andrew. Jiwanya sudah menyangkut di ujung ketajaman logam panjang keparat milik pendekar bejat.



"Kamu jahat!!!" Aku menuju kekasih setengah nyawa. Akan tetapi pendekar bejat menarikku kasar. Tangisanku menyublim membentuk batu-batu membara yang dicengkram kawanan burung ababil. Hancur lebur surga menjadi lautan api.



**



Penglihatan perdanaku tertumbuk ke korden yang terolesi berkas cahaya lampu balkon. Apa yang baru terjadi? Bunyi dengkuran. Khas suamiku. Aku berbalik. Astaga, cuma kembang tidur.



Latar lokasinya... di Shangri-la? Ya, Shangri-la di Provinsi Yunan di China selatan. Ah, jauh. Surganya lebih mirip penggambaran dalam Al Quran. Aku pernah membacanya di toko buku. Surat apa ya? Aku harus tanya Rahayu.



Di sana ada nuansa campur-tabrak. Nuansa Timur Tengah. Jawa. China. Kakanda Tom. Habibah. Keris. Baju toga. Amboi... surganya banyak akulturasi. Dan klimaksnya adalah pertengkaran itu. Suram. Muram.



Melancong ke negeri mimpi cukup menguras energi. Ujungnya perut lapar jikalau terjaga pada dua pertiga malam.



Kuturuni anak tangga. Kuselidik lukisan naturalisme dari cat akrilik yang terpajang di dekat sofa sebab ada yang berubah. Obyeknya. Gadis cilik bercheongsam merah kerah tinggi itu menghilang! Barang itu dibeli Tom saat perayaan Tahun Baru Imlek di pameran seni rupa peranakan di galeri ternama. Kini gambarnya tersisa sungai, pohon bambu, dan sebongkah batu tempat gadis itu duduk. Mistik.



Kendati lapar, selera makanku padam. Berusaha berani. Abaikan saja. Kuputar kenop kompor. Mi instan kuaduk.



Perhatianku tersita. Ada yang tampak berlari. Kuintai dari meja dapur. Bocah. Citra lukisan itukah? Aku amati. Dia berlari-lari di ruang tamu, ruang televisi, sekitar tangga.



Siapakah gerangan? Makhluk fantasi? Anak hantu? Dia menjauhi tangga. Seketika aku mengibrit tunggang langgang ke lantai atas. Kutengok dia. Matanya bersinar.



"Kakak!" Oh mama, dia memanggilku.



Pintu kamar kutubruk. Menjerit. Tom terbangun.



"Kakak." Nyatanya pintu lupa kututup. Ia melongok dan memanggil lagi.

"Kamu siapa?" Tom mengucek mata.

"Aku mau pulang." Tom menengok ke arahku. Jidatnya lecek memerhatikan gadis sipit itu. Bertanya padaku lewat tatapan. Telah dia dapatkan jawaban.



Ia menghampirinya dengan gurat waswas. Usai mencapai tiga hasta, ia berlutut. Menyamai tinggi makhluk ajaib itu. Kutebak dadanya bergumuruh rusuh. Pun aku.



"Kamu mau main di sungai?"

"Aku mau pulang." Jawabannya kerap diulang.



Kedua lengannya akan menyentuhnya. Hendak digendong. Ia berani menghadapi hantu. Yang jelas itu hantu.



Hantunya menyerang! Kepalanya menyeruduk muka Tom. Mengerang. Sangat tegang adegan ini. Kemudian ia berpendar menjadi cahaya merah oval. Naik. Terbang. Hinggap di lukisan tempat dia bermuasal. Sungguh aneh namun mengagumkan.



"Mas, kamu gak papa?"

"Gusiku berdarah nih."



**

Telah tergenggam jawaban atas hilangnya "Kado untuk Stefani". Adiknya mencacah satu demi satu nama orang yang masuk ke kamarnya. Jo telah lancang. Sehingga mengakibatkan seuntai harta raib tanpa buronan.



"Seingatku Mukhlis, Aditya, Riza, dan Marisa." Ia jawab begitu saat kutanya kemarin.

"Marisa?"

"Yup, almarhumah Marisa yang meninggal valentine lalu."

"Apa hubungan dia denganmu?"

"Teman semasa SMP."



Tentu curiga pada mereka berempat. Kecuali Marisa, mereka berjanji menemuiku di sebuah kafe. Sebenarnya kecurigaanku lebih condong pada Marisa. Perempuan satu-satunya. Perempuan lazimnya menggilai perhiasan. Terus apa motif dibalik pencurian tersebut? Sekadar suka? Ekonomi? Atau ia punya klepotomoni?



Di tangan siapa benda berharga itu menjuntai? Kuduga disita dokter forensik yang mengotopsi mayat Marisa. Bukankah proses otopsi sudah selesai sehingga jenazah beserta benda-benda yang tersandang telah dikembalikan ke pihak keluarga korban. Apa musabab kematiannya? Apakah hasil VeR (Visum et Repertum) yang diterima penyidik atas kasus kematian superaneh pada valentine lalu? Dicekik setan? Hmm....



Aku pun teringat dengan obrolan dengan Rahayu di mal tanggal 15 Februari--sehari setelah kasus kematiannya. Dia bilang hasil visum menunjukkkan bahwa Marisa tidak dicekik cowok dalam mobil, melainkan bagaikan dililit tali--entah tali apa dan dari mana-- hingga lehernya memerah. Itu janggal. Setergesa itukah dokter menjabarkan hasil otopsi? Lagi pula setahuku dokter forensik tak memiliki wewenang menyiarkan VeR pada media massa ataupun umum. Itu melanggar sumpah jabatannya. Pihak kepolisiankah? Aku sangka itu rumor yang tertampung di media siber.



"Astagfirullahal azhiim, saya enggak mungkin nyolong, Mbak. Duit jajan saya lebih dari cukup." Mukhlis menjawab.

"Apalagi gue, eh, aku." Aditya duduk di sebelahku. Tubuh sintalnya berbau keringat puber, cologne spirtus, dan sengatan sang surya.

"Tentu bukan ane, ya ukhty. Barangkali Marisa. Bukan bermaksud su'uzon nih." Aku sependapat dengan Riza. Dia yaitu calon tersangka. Siapa lagi. Ketiga remaja ranum di sekitarku tak beralibi.



Cuaca siang ini cerah. Lengkung langit diselimuti awan sirostratus yang menimbulkan efek lingkaran halo di sekitar matahari. Lingkaran biru di bagian luarnya. Lingkaran merah di bagian dalamnya. Indah sekali.



**

"Kamu baru pulang?" Aku curiga. Pukul 21 lewat sekian.



"Sebagai financial planner ganteng dan profesional, aku wajib menepati janji sang klien." Kilahnya lancar. Dia mencari sesuatu di kulkas. Sampanye. Minuman itu kurang cocok mendampingi tempe goreng tepung yang tengah kumasak.



"Wuidih, Katy Perry goreng tempe sambil nyanyi The One That Got Away, ha ha ha ha...." Lelucon dan sindirannya kuabaikan.

"Aku berencana ke rumah Marisa dan menanyakan kalung itu pada orangtuanya."

"Dan mereka akan menganggap kamu adalah cici penjual emas di toko Sinar Widjaja Cemerlang."

"Ah aku capek ngomong sama kamu!"



Dia merangkul dari belakang. Membisikkan kalimat, "Aku sudah tidak tahan." Bibirnya hangat beraroma alkohol.



Oh, Kakanda Tom. Aku masih membaui amis hawa nafsumu dari sisik-sisik kulitmu, walaupun telah lebih tujuh puluh tujuh malam seliramu dan seliraku berenang di lautan peluh lalu memuncrat menuju puncak bulan berlumur madu.





Kurang puaskah dikau? Nyaris tiap malam aku duduk di antara kedua pahamu. Mengisap ujung tumpul dagumu sampai dikau menggelinjang. Ular nagamu yang panas lagi keras membuat aku lupa di mana kuletakkan kedua buah dadaku kala engkau unggat-unggit menahan desahan pendek yang rasanya memanjang ke seluruh jaringan pembuluh darah. Merambat teramat lambat ke otak. Melesat terlampau cepat ke sumsum tulang belakang. Lebih dari dadamu, aku mengagumimu. Lebih dari kelaminmu, aku menghormatimu. Kurang dari kedua itu, aku bisa tertunduk lesu.



Aku balikkan badan. Meraba wajahnya yang hangat terpanggang bara kama sutra. Bibirku dicium. Dikunyah bak kiwi selandia. Lidahku dibelit. Digulung. Ditekuk. Saliva tertukar.



"Kakak!"



Melepas. Dilepas. Terlepas.



Pemanasan terusik suara setan cilik itu. Bagaimana dia bisa keluar lagi dari selembar kanvas dwimatra? Anomali. Tetapi tak ada kata 'tak normal' dalam kamus metafisika.



"Eh Mei Mei, mau buat gusiku berdarah lagi?"



Ia berlari mengitari ruang tamu, ruang televisi, ke taman kecil. Makan malam tertunda. Lauk dan sayur mendingin. Menihilkan rasa ingin.



Dalam kegelapan ruang televisi, ada lagi penampakan seorang pria yang merokok. Bara apinya terlihat. Tak ada lagi lelaki di rumah ini kecuali Tom.



"Tom, banyak hantu di rumah kita." Ia mengangguk.

"Aku lapar banget. Makan aja yuk. Kalau mereka ke sini, ya kita tawari saja tempe, he he he."



Jeritan membahana. Dia jatuh berguling-guling di tangga lalu tersungkur ke lantai keramik tak berpermadani.



Tom berlari. Ingin menolong pasti. Derapnya berhenti saat sosok perokok itu bangkit, berjalan ke arah korban. Tak salah lagi jin Andrew muncul kembali. Kupeluk suamiku. Kurasakan genderang bertabuh saat kuraba bidang dadanya.



Dia melempar rokoknya. Mengusap darah di dahi gadis mungil. Membopongnya ke lantai atas. Ada apa ini? Kami diteror komplotan jin yang bersekongkol.



Tom memungut sepuntung rokok yang terlempar.

"Dji Sam Soe," katanya keheranan.

"Rokoknya Andrew." Aku keheranan pangkat tiga ditambah kebingungan kuadrat dibagi pemakluman akar satu..



Sesudah 15 menit, kutatap lekat-lekat lukisan itu beberapa saat. Memar wajahnya. Secuil cairan merah menempel di keningnya. Aku tak sanggup lagi mencerna antara logika dan gaib. Namun selama 31 tahun hidup di dunia fana ini, baru kali ini aku mengalami kemelut gaib yang beda dan baru. Bukan lagi melihat pocong lompat-lompat yang talinya minta dilepas. Kuntilanak yang rambutnya tak pernah di-creambath. Atau genderuwo yang merangkak di genteng sekolah semasa aku kemalaman menjadi panitia HUT RI.



Tanganku yang bertisu dengan amat hati-hati mendekati spot darah itu. Entah darah asli atau sintetis. Deg. Sudah kena. Citranya telah bersih dari noda. Tak terjadi apa pun. Hai Mei Mei, aku percaya kau sudah mati akibat perbuatanmu sendiri. Jangan ganggu tuan rumahmu lagi.



"Kakak."



Bersambung...



Jakarta, 21 Februari-2 Maret 2012

Kamis, 23 Februari 2012

127. Kado untuk Stefani (episode 2)


Napas suamiku tersengal bagai usai bersprint di lintasan lurus. Kudekati, kuambil tas tentengnya. Aroma parfum kayunya sudah memudar dihajar keringat. Kusuguhkan sekaleng minuman elektrolit. Habislah ditenggak di sofa hijau tosca kesayanganku.

"Kamu dikejar sapi?"

"Sejak kapan lantai dua beranak tangga seribu?" Pertanyaannya masih mentah. "Maksudnya, Tom?" Dia tak langsung menyahut. Peluh di mukanya diseka. Wajahnya tampak serius di balik kemudaannya. Usianya memang 4 tahun lebih muda dariku. Namun kariernya seperti 40 tahun lebih tua dariku.

"Sudahlah." Dia pasrah. Melepas sepatu dan kemejanya. Kurapikan. Barangkali dia lelah dan penat. Dia harus beristirahat di pelukanku yang hangat.

"Stefani...." Telapak tanganku diremas, guratnya cemas.

"Iya, sayang."

"Seperti ada kekuatan hitam yang mengganggu kita," ucapnya serius.

"Jelaskan dulu apa maksud seribu anak tangga?"

Tom mengembuskan napas melunturkan keganjilan yang baru dia alami.

"Aku merasa jauh meniti tangga dan terlihat tinggi sekali."

Aku menjawab dengan bahasa diam, bahasa mengerti. Ada lagi pengalaman supranatural di antara kami sedangkan lampion-lampion misteri belum sanggup aku nyalakan.

"Kamu sudah tanya Mas Luki tentang tempo hari?"

"Belum sempat." Dia berdiri.

"Lalu kalimat itu?" tuntutku tak sabar.

"Apalagi itu. Aku sibuk."

"Apa? Sibuk?" Aku menggertak.

"Iya sibuk, duitnya juga buat kamu. Enggak kayak kamu, bisa lenggang kangkung di mall."

Cibirannya memenggal batang leherku. "Enak saja kamu, Tom! Kamu menyuruhku berhenti mengajar agar fokus menjadi istri rumahan yang melayani suami, mencucikan celana dalammu, mengambilkanmu ini-itu. Aku kuliah capek toh akhirnya aku cuma di rumah melayani suami kolokan macam kamu. Nggak heran karena kamu anak lelaki satu-satunya yang dimanja!"

Plak!

Ah! Aku membisu. Ini kali pertama Tom menampar pipiku. Tangannya panas sekali bagai ada kobaran api di tiap sumbu jemarinya.

Aku menangis sebagai wanita. Wanita yang lemah. Perih. Amat menyakitkan bila hidup harus dipilih, bukan memilih. Dia berjongkok. Bersimpuh di sisiku. Tangannya yang kasar dilingkarkan di pinggangku. Kepalanya dibenamkan ke perutku.

"Fani, maafkan aku ya." Penyesalan terucap dari bibirnya. "Aku berjanji takkan memukulmu lagi. Juga akan berusaha menyibak kalimat itu. Aku rencana minta tolong pada rekan kerja dan teman-temanku. Mungkin kamu bisa minta bantuan pada murid-muridmu tempat kamu dulu mengajar. Biasanya anak SMA lebih kreatif dan rasa ingin tahunya berapi-api." Tom bicara sepihak.

oh mentari sang jimat

turunlah ke bumi sebagai juru selamat

saksikanlah tarian ranjang kami yang kian hangat

sarikanlah satu kitab menjadi satu kalimat

esok subuh ku kan berdoa agar luruh segala kesumat

bagaimana aku memanjatkannya ke langit bertabur rahmat
engkau telah turun ke bumi pada sepucuk siang yang terlambat

**

Malam-malam terasa memanjang; nyenyak di pangkuan kelam. Siang-siang begitu ringkas, datang terlambat tanpa maaf. Bulan maduku bersama suami mengembun beku di ujung daun dan batang kemaluan. Guyuran hujan saban petang enggan meninggalkan jejak di pinggir malam.

Pembuntu labirin itu sedikit mendapat lubang jalan. Nasihat Tom usai aksi KDRT tiga hari lalu ada benarnya. Salah satu muridku berhasil meretakkan kaca buram yang menghalangi maksud kalimat itu. Malam ini kami mengundang dia makan malam di restoran Jepang.

"Ternyata kamu suka sekali ya dengan ramen." Aku sedikit terkekeh pada Galung. Senyumannya menyimpul.

"Sejak nonton film Ramen, Bu. Andai saja ramen ini dibuat oleh Britany Murphy, wuihh saya rela bayar sejuta ha ha ha...."

"Betul. Bahkan tempe goreng buatan Katy Perry tuh lebih lezat daripada rendang bikinan Zhang Ziyi." Tom buka guyonan. Menyindir. Kutendang betisnya.

"Aduuhh... kakiku ditendang arwah Marisa ha ha ha." Ya ampun, suamiku memang memalukan. Pandainya cuma berkelekar tak bisa bikin masalah ini kelar.

"Kak Tom."

"Iya."

"Hmm, saya mendengar tawa perempuan berbarengan dengan tawa Kakak." Galung heran. Begitupun kami berdua. Semua sendok diturunkan. Semua alis dinaikkan.

"Sudah tak ada wanita di resto ini, kecuali mantan guru fisika-mu yang cantik ini." Tom menekan hidungku. Menampik Galung.

"Iya, mungkin sekadar halusinasi."

"Okay, langsung saja. Kenapa kamu berkesimpulan kalau kalimat 'aku ingin pergi tak mau menginjak bumi' ialah orang yang bunuh diri? Krek!" Tom memeragakan gerakan tangan seperti menghabisi nyawa dengan menyembelih.

"Begini, Kak. Semua orang yang pergi pasti menginjak bumi, sekalipun naik pesawat insya Allah akan turun ke bumi. Ya kecuali astronot. Tapi suatu hari sang astronot yang bertugas di luar bumi insya Allah akan kembali ke observatorium di bumi. Dan sepenggal kalimat 'tak mau menginjak bumi' seperti pergi selamanya." Galung amat brilian. Angkat topi untuknya.

"Why not?" Sanggahan Tom bikin pahit suasana.

"Tapi, Kak, kita sedang membahas hal gaib, bukan ilmiah. Yang menyampaikan pesan ini yaitu jin, bukan Yuri Gagarin." Galung berkelit sekuat urat.

"Kalau begitu, model bunuh dirinya apa dengan gantung diri?" cetusku.

"Nah, Bu Fani benar! Gantung diri termasuk nggak menginjak bumi. Kalimatnya memang bercabang."

"Lalu siapa yang bunuh diri pakai tali jemuran?" Ah, Tom, kau masih saja bergurau.

**

Aku terhisap lubang waktu dengan putaran yang kencang. Sekencang mulut Galung. Pikiranku terhuyung ke suatu masa. Gerhana menyambangiku lagi di tengah padang sabana kala aku dan masa depanku bergandengan intim diiringi burung-burung gurun.

Ketika kali pertama Tom muncul, aku yakin dia masih mencium harum kembang kuburan yang menyeruak dari tetes terakhir air mataku. Dia adalah macam pemuda yang tak mau banyak tahu. Kusembunyikan lembaran itu di kitab paling tebal.

Apa lacur. Makhluk bernama kenangan bangkit dari peti mati bertanggang cahaya. Andrew, masa laluku, kini sudah turun dari tali api yang menebas batang lehernya.

"Fani-ku sayang, aku dipecat."

Keluhanmu itu bagai lidah penyambung tambang berkepang empat. Bukankah kala itu kutatap nanar matamu yang biru terbakar menjadi abu.



Kemudian bulan-bulanmu terborgol ketidakpastian. Langkah kakimu tak mampu maju. Darah syahwatmu kian amis ketika kubaui lekuk ketiakmu. Kamu gagal meminangku.



"Fani, aku tak punya uang untuk membelikanmu kado valentine."

Kamu ingin selalu menjadi pahlawan di depanku. Tanpa luka meski kalah tempur di medan buangan. Derap kakimu teratur Bukankah kemarin sepulang dari Gereja engkau mengaduh betismu ditembus peluru dari kaca panas.



"Fani, brengsek kau!!!" Aku cuma diam tersedu. Kamu menukasku bahwa aku melelang bunga cintaku. Memang kamu benar. Bukankah kamu sudah mengaku kalah. Tak ada lagi wibawa yang menahanku agar tetap di sisimu.



Lalu kamu menjambak rambutku. Pria kedua itu kamu tonjok hingga mimisan. Usainya aku hanya melihat seekor anak iblis terbang dari bumi.



"Andrew, kamu marah padaku?" Aku bergumam pada jejak sayapmu di langit. Tentu hanya sunyi yang bernyanyi.



"Kak Fani, Kak Andrew telah tiada." Ucapan dari adikmu fajar itu hampir membuatku semaput. Selama tiga hari namamu aku doakan ke langit dari altar suci tempat sembilan malaikat memuji.

Kekasihku, kau pergi tanpa membawa rohku. Kamu sungguh marah tatkala memandangku mendua. Engkau tak tahan akan semua itu. Aku pun tak tahan dengan takdirmu yang menggelantung di tepi kelopak lotus. Namun semudah itukan kamu menjadi hakim yang lalim?

**

Tom berwajah masam geram. Sedikit dongkol mengetahui narasi besar masa laluku. Dosa masa lalu. Tetapi kejengkelannya meredup. Tak berbekas kalau dia mantan anak mama dan papa. Kemudinya kalem.

"Ada yang membuntuti kita sejak dari resto." Spion diselidik. Menyingkir ke warung kecil.

"Bermobil?"

"Bukan. Berjalan kaki." Lagi-lagi banyolan. Waktu hanya dianggap sampah alam.

Di jalan belakang, lengang. Bercahaya LED jingga yang terang. Manusia macam apa yang bertenaga kuda. Dan ternyata....

"Tom." Dia mendekat bersama sebotol air mineral.

"Kamu lihat kan? Siapa dia?"

"Itu Andrew...." Bisikku gemetar, gentar, diiringi halilintar yang sejak sore gagal memanggil hujan. Tom dengan tergesa memutar ban. Suhu dalam kabin turun meski hujan belum mendarat. Uap keluar dari mulut Tom. Kugesekkan jari-jariku biar hangat.

"Sekencang apa mobil ini, dia bisa mengejar kita walau terlihat bagai orang berjalan santai." Menggerutu. Bersungut.

Arwah Andrew mengejar mobil kami. Wajahnya dingin. Buluku bergidik. Tom bergaya bak pereli yang berambisi naik podium. Sukses. Hantu tersebut kehabisan tenaga untuk membuntuti kami. Terkendali.

"Bagaimana? Mau melawan Latvala, ha ha ha...." Bahaknya memanggil hujan. Temperatur yang berubah prematur, kini menghangat. Kaca samping mengembun. Di sinilah keajaiban bermula. Terukir di samping bahwa "aku ada di belakang". Ya Tuhan, apakah dia yang mencekik Marisa?

"Dia sudah mendekat, Tom."

"Sinting tuh!" Sedan berbelok cepat. Tergelincir. Terkontrol. Berpacu di aspal licin tak berkawan. Mengebut kencang dengan gundah. Menghapus butiran hujan yang basah.

"Kampret!" Palang di perlintasan kereta diturunkan. Kereta listrik berlari sekuat predator. Menipiskan kesabaran Tom. Menebalkan kecemasanku.

"Kereta a*jing! Panjangnyaaa." Dari tadi Tom mengumpat. Geledek pecah di angkasa. Curah hujan tumpah ruah. Rangkaian KRL yang memotong perjalanan kami tak kunjung habis. Bilangan gerbongnya laksana seribu kurang satu. Kereta pengangkut mayatkah ini?

"Dia sudah duduk di jok belakang." Aku berbisik. Ya, itu Andrew yang telah duduk. Jas hitamnya tampak gres. Seperti jas yang ia kenakan saat terlelap dalam peti mati. Bahkan Tom lebih pengecut dariku. Tak pernah dia melirik dari spion.

"Ini kereta iblis! Kita tabrak aja!" Murka. Bentakannya menghilangkan bayangan Andrew di kaca. Dia menghilang.

"Mobil kita bisa terseret, Tom," cegahku.

"Kereta ini hanya ilusi. Fatamorgana. Permainan visual setan!"

Teriakanku menggelegar. Kaca samping diketuk olehnya. Bukan. Bukan Andrew. Bukan Andrew yang mengetuk. Bukan Andrew yang mengetuk kaca samping. Penjaga. Penjaga perlintasan. Penjaga perlintasan yang melakukannya.

"Neng, ayo jalan. Kan keretanya sudah lewat dari tadi."

Aku membuang napas.

**

Semerbak bau kopi arabika yang kumasak bertebaran di meja ruang tamu. Aku menjamu Mas Luki. Tergoda oleh wanginya, dia menghirup kepul-kepul dari cangkir, kemudian lidahnya mengisap barang sekelumit. Tampilan dia klimis. Muda dan enerjik. Tiada satu pun aksesoris yang melambangkan bahwa dia seorang ahli paranormal. Dia lebih mirip presenter olahraga.

Ini untuk kali perdana dia bertamu ke rumah. Saya ingin tahu rumah Mas Tommy, dia bilang begitu. Ini pun istimewa karena tak biasanya dia menyamperi kliennya. Naga-naganya, pundi-pundi Tom harus rela mengempis. Tarif VIP. Tak apalah. Toh, kedatangannya ke sini sebagai ajang konsultasi intensif.

"Mas Tommy biasa pulang jam berapa?" Dia mendahulukan perbincangan.

"Akibat macet, ya sekitar jam 7 sampai jam 8, Mas."

Gelasnya diletakkan di tatakan. Kroket hangat yang terhidang ia cicipi dengan sukacita. Gerak-geriknya teratur. Tiap zat yang masuk ke lambungnya dimulakan dengan komat-kamit atau berdoa.

"Mas Luki, apa benar roh Andrew yang membunuh Marisa?" Bibirnya yang berminyak diseka tisu, lalu dia, "Hmm... terus siapa yang membunuh Andrew?"

Aku tak sanggup menjawab. Itu sindiran.

"Lantas apa kaitannya antara kematian Marisa, lompatan ruang ke hutan, dan kalimat misterius itu, Mas?" Rasa penasaran melontarkan setumpuk pertanyaan.

"Ada pesan yang ingin disampaikan. Dia punya unfinished business denganmu." Telunjuknya mengarah ke muka orientalku. Ia tersenyum dua lapis; menyejukkan dan mencemaskan.

"Jangan takut. Dia hanya jin yang menyerap memori dan energi Andrew sewaktu masih hidup. Untuk melatih keberanian spiritual, bagaimana jika kamu yang menghadapinya?" Mas Luki menyodorkan opsi yang lumayan frontal.

"Menghadapinya? Nggak." Mengkerutlah aku.

Rambutku dibelai. Dipetik. Rautnya serius. Sehelainya direntangkan dengan kedua pasang jarinya. Ditekankan ke bibir cangkir. Terbelah sempurna. Rambut itu seperti sembilu mengiris tahu. Aku terpana. Ludah kutelan sembunyi-sembunyi.

"Rambutmu saja punya kekuatan. Masa jantungmu tidak tidak."

"Tapi, Mas...." Aku keberatan. Takut.

"Saya akan menjagamu dari belakang."

**

Aku dan Tom berbagi tugas. Tom bernegosiasi dengan adiknya Andrew, Jonathan, supaya aku bisa masuk; menyelundup ke kamar tidurnya tanpa mengetuk pintu mengucap salam pada nyonya besar pemilik rumah. Wanita tua itu sungguh membenciku. Kebencian akut.

Segala sesaji kupersiapkan; kemenyan, dupa, dan bunga tujuh rupa. Klenik. Makanan makhluk gaib. Pancingan. Undangan. Oh... mengerikan.

“Tom, xian zai wo zhen de hen pa. (现在我真的很怕) [3]” Aku merengek padanya. Dia mengantarku.

“Ni fang sin, wo gen ni yi qi. (你放心, 我跟你一起) [4]”

Keluar dari mobil angin dingin menampar kulitku. Kegelapan memeluk. Lamat-lamat terdengar rintih punguk. Terlihat seekor cerpelai merangkak di atap rumah. Aku menoleh ke Tom. Senyumannya sejuk.

Jonathan melambaikan aba-aba. Komandonya kuturuti. Lewat pintu alternatif. Jalan tikus cukup mulus.

"Jo, terima kasih ya."

"Nggak papa, kok." Parasnya mirip Andrew. Suaranya teduh. Ramah.

Daun pintu kutekuk. Berderit. Engselnya kurang pelumas. Lampu benderang di kamarnya. Jo pamit meninggalkanku. Apakah Andrew masih sering menangis di ruangan ini? Di mana dia menghamburkan malam semasa hidupnya. Letih dan perihnya dibaringkan di kasur. Denting dawai gitar, melagukan syair masa depan yang sudah terkapar.

Terang kupadamkan. Terbakarlah dupa dan kemenyan. Di pinggir gelisahku membumbung aroma kembang-kembang tujuh rupa. Gelap kian genap. Aku duduk bersandar di ranjang. Seribu lima ratus detik berjalan merintik. Suhu ruangan naik. Seperti ada pergerakan. Halus. Meringkus keberanian.

Pesan apa yang hendak disampaikan jin itu? Perihal apa? Urusan apa yang belum selesai antara aku dan Andrew? Kesepiankah dia di sana? Mungkinkah nyawaku akan ditarik untuk menemaninya bercanda di taman firdaus? Pelbagai tanda tanya kusebarkan di kepala sebagai strategi pengusir rasa ngeri.

Lalu.... Ada lenguhan napas panjang. Apakah jin bernapas? Bagaimanapun itu, dia benar-benar nongol ke arahku. Aku memejamkan mata.

"Stefani." Memanggil. Aku meriang. Kulitku serasa menebal. Napasku menjadi berat. Menghadapi makhluk gaib adalah hal paling konyol. Jangankan muka ke muka, mendengar cekikikannya saja bikin aku lari pontang-panting. Merapal ayat dalam Al Kitab untuk menghalau hantu biadab.

Tetapi... misi ini akan amburadul apabila aku mundur; menutup mata. Dengan doa-doa yang kuucapkan pelan--tentu tidak khusyuk--kuberanikan membuka penglihatan. Meledakkan cangkang-cangkang fobia yang memenjara.

Tidak ada. Hilang. Tak ada apa-apa. Hening. Kuatur pernapasan. Kuselaraskan emosi.

Ya Tuhan! Dia duduk di sampingku. Di tepi kasur, membelakangiku. Berjas. Alamak... bagaimana struktur mukanya kalau dia menoleh. Pasti berdarah, rusak-hancur, atau mungkin dikerubungi belatung montok? Aih....

"Andrew...." Ah, tak kuduga, aku berani juga memanggilnya balik, walau keringat sudah kuyup melembabkan baju.

Dia menengok. Menatapku. Tak ada darah dan belatung. Pucat membiru. Cembung matanya tampak cekung menampung bahasa nan sinis. Runcing. Tenagaku terkuras saat duduk berdampingan dengan makhluk ini. Dunia kami yang berbeda serasa berat bertemu pada frekuensi yang sama--disamakan.

"Aku menyayangimu. Jangan tinggalkan aku." Dia berbicara lagi. Suaranya timbul mengambang antara gelap dan terang. Aku paham suara hati Andrew. Air mataku meleleh membasahi isak penyesalan. Kucampakkan dia saat tersungkur bersimbah lumpur.

"Maafkan aku, sayang." Aku sesenggukan melisankan permohonan itu. Untukmu Andrew. Untuk kekasihku yang tak kuat bertahan tanpaku. Maafkanlah kekasihmu yang durjana ini. Bawalah maafku dan ketulusanmu ke alammu yang damai dan abadi.

Sesaat sebelum sosok itu raib dariku, ia mengujarkan pesan. Laci. Ya, dia menyebut kata itu. Aku bergegas menuju laci susun empat di samping rak sepatu. Leburlah ketegangan. Menetral. Terang. Inspeksiku berhasil. Sekotak tempat perhiasan kalung dari beludru merah. Ternyata ini. Aku mengusapnya.

"Kado untuk Stefani", itulah tulisan yang tertera di kotak. Tergores mungil dari spidol biru. Aku terharu biru ketika tahu Andrew akan menghadiahi kado ini sebelum jiwanya pergi.

Namun barang ini gagal terberi dari tangan pangeran ke tangan permaisuri. Kado valentine tahun lalu putus oleh tragedi klise. Mengendap lebih dari lima puluh minggu dengan pesan yang termangu.

Trenyuh. Tersentuh. Kembali ke masa lalu melihat rembulan yang sudah berdebu. Pandangan menyapu. Tapi ternyata... kosong.

Di mana seuntai kalung itu?

[3] Tom, aku sungguh takut dengan semua ini.

[4] Jangan takut, ada aku di sampingmu.

Bersambung…

Jakarta, 2-17 Februari 2012