Selasa, 12 Juni 2012

130. Lubang Cacing

oleh Abu Sudar




6 Mei 2006




"Aku menemukan semacam situs terowongan waktu," ucap Rio. Jemarinya sibuk menyentuh tombol komputer jinjing.


"Wormhole kah? Gimana gunainnya?" Kakaknya menimpali. Pandangannya ke depan. Sesekali melihat adiknya dari spion tengah Kedua tangannya menggenggam lingkaran stir erat-erat. Tatanan rambutnya pendek-tidur dengan segaris rambut depan yang berdiri mirip ilalang.


"Cuma memasukkan data tanggal, bulan, tahun, dan lokasi, terus kita dapat berita dari masa itu. Contoh kita entri data 17 Agustus 1945, Jakarta, lalu akan tampil berita dan info tentang hari kemerdekaan RI."


"Keren.Bisa sekalian belajar sejarah."




Mobil mereka sudah keluar dari jalan protokol menuju jalan tol lingkar luar. Segerombolan awan tak bisa memayungi bumi dari terik bola hidrogen raksasa. Ratapan Nothing Hurts's Like Love dari mulut Daniel Beddingfield setidaknya bisa menyeimbangkan suasana.




"Lingkaran apa, tuh?" Agung, sang pengemudi, panik ketika melihat setengah lingkaran hitam muncul seketika di depannya. Luasnya hampir memakan satu lajur. Ia gagal memerahnyalakan discbrake-- piringan rem-- di roda sedannya. Ia gagal berhenti total. Lantas tenggelam dalam lorong gelap. Terperangkap.




"Kita di neraka!" Rio berteriak sampai menjatuhkan kacamatanya di pangkuan. Tiba-tiba jaringan pada laptopnya terputus. Sedan mereka melesat cepat. Jarum speedometernya ke angka 120. Hanya 10 menit. Setelah itu tampak cahaya. Tertabrak. Kecepatan melambat. Mobil mereka menabrak sebuah kaki raksasa. Kaki Triceratops.




Era Mesozoikum, Periode Kapur, sekitar 145-65 juta tahun silam




"Mas Agung, bangun!" Rio memecahkan air bag yang mengembang di kepala kakaknya dengan ujung pulpen. Agung semaput. Black out

.



Dia celingukan memerhatikan sekelilingnya sembari mengusap dahinya yang sakit terbentur jok depan. Antara kaget, takut, dan takjub bercokol di benak. Ia sadar telah terpelanting jauh ke masa purbakala. Jauh sebelum mammoth hidup di era Pliosen 5 juta tahun silam. Masa di mana Allah belum menciptakan Adam sebagai khalifah di muka bumi.



Wuuuzzz!!!



Ia kaget dan tiarap saat Pteranodon terbang rendah di depan sedannya.



"Kita di mana?" Agung siuman. Keringat membanjiri kemeja panelnya.

"Kita di zaman Dinosaurus," balas Rio berbisik ngeri. Sorot matanya menusuk. Mereka tersenyum getir. Senyum yang dikulum dengan ludah nan kecut.



"Akibat wormhole kah yang kita tabrak di tol tadi?"

"Apa itu wormhole? Lubang cacing?"

"Itu istilah untuk menyebut portal mesin waktu. Ukurannya lebih kecil dari molekul dan atom. Entah mengapa bisa membesar," jelas Agung, si kutu buku, sembari sesekali mengamati tumbuhan paku yang tingginya menjulang.



"Itu jenis apa, Mas?" Ia keluar diikuti masnya. Mereka lebih tenang. Lubang cacing masih menganga tak jauh dari posisi mereka. Udara sejuk. Tanpa polutan.

"Itu Edmontosaurus. Yang tadi kita tabrak itu Triceratops. Mukanya bertanduk tiga. Culanya bisa satu meter. Tingginya 4 meter. Ya, Triceratops artinya muka bertanduk tiga dalam bahasa Yunani."



Mereka kagum dan bersorak menyaksikan rombongan Velociraptor yang berlari secepat 40 mil/jam. Saat hendak meraih ponsel berkamera, Rio jeri melihat Tyranosaurus-rex, sang predator berbobot 7 ton, lari kencang ke arahnya. Diduga akan menerkam Edmontosaurus yang berada di dekat wilahar biru, tempat mobil mereka terparkir.



"Mending kita cabut dari sini." Mereka tergesa memasuki kendaraan. Bersiap memasuki lorong hitam. Memacu mesin berakselerasi.

***

7 Mei 2006



Kepala Rio pusing berputar seumpama gangsing ketika menyerap ocehan ilmiah dari Agung, kakak semata wayangnya, yang IQ-nya setinggi Burj Khalifa di Dubai. Mengenai istilah wormhole yang bersembunyi di kanal ruang dan waktu; dalam buih kuantum. Tentang Teori Relativitas Khusus dari Einstein. Dia mual, malas meneruskan makan malamnya.



"Itu cuma fiksi abu-abu. Fantasi!" Dia mencibir.

"Kalau fantasi belaka, kenapa kita bisa ke Periode Kapur?"



Ia tersudut. Terbungkam mulutnya. Hanya emping manis yang pasrah dikunyah geraham-gerahamnya. Kulit tangannya merasakan dingin tubuh gelas kaki yang berisi tiga perempat jus alpukat. Pikirannya kian pekat. Bagai tersesat jauh ke negeri Hollywood.



"Hmm, kau masih ingat alamat situs mesin waktu itu? Mana laptopmu?" Raut Agung terang menerawang. Ada seberkas cahaya di bawah gelap.



"Apa sebab website itu yang bikin kita menabrak portal waktu?" Rio tergesa-gesa menghidupkan laptopnya. Kepekatan di alam pikirnya berangsur remang, lalu mencerah. Ia menyelidiki menu history di browser.



"Url tentang artikel zaman Mesozoikum. Padahal aku mau baca tentang kepunahan Dinosaurus...."

"Periode Cretaceous akhir semasa suhu bumi turun akibat tabrakan asteroid ke samudra," sela masnya buru-buru.

"Apa kita bisa...." Ia menggantung kalimatnya. Hidungnya kembang-kempis tanda berpikir.



Suasana riuh gemuruh walau hanya dua orang di ruang makan. Agung bertepuk tangan sambil bersorak. Rio berdansa Asereje, diikuti penyiraman segelas jus alpukat ke baju masnya.



"Kurang ajar lo!" Yang disiram mengumpat. Sorakannya meluntur, Rio tertawa keras mengguntur.



"Apa rencana kita?"

"Aku mau ke tahun 1914, menyelamatkan Franz Ferdinand dari pembunuhan agar tak tercetus Perang Dunia I," aju Agung. Serbet putih ia jadikan penyeka noda jus di kaosnya. Mungkin noda darah akan membekas di kaosnya bila ia serius ke tahun 1914.

"Kalau aku... mau ketemu Bapak dan Ibu." Gelombang suara lenyap terhisap keheningan. Ia menunduk. Hidungnya memerah. Keadaan menjadi sentimental.

"Yakin?" Masnya menegasi. Mengonfirmasi.

"Enggak! Biar aku pikirkan yang lain!" Ia berlari ke anak-anak tangga menuju kamarnya.



***

8 Mei 2006



Ia sudah mempersiapkan beragam kebutuhan demi penjelajahan waktu yang akan berlangsung saat pembesaran lubang cacing akibat situs ajaib temuannya. Makanan, minuman, obat-obatan, uang, dan yang lebih penting: seragam SMK-nya. Apa yang ia persiapkan sebagai antisipasi apabila terjadi kemungkinan buruk pada wormhole. Karena tak wajar jika dia dan kakaknya mengunjungi rumah dan penghuni masa lalu seandainya mereka terjebak. Bisa berakibat pada kekisruhan peran dan kekacauan massal.



TIN!

Masnya datang siang seterik itu. Senyumnya melengkung ibarat seiris melon turkmenistan. Ia memang tampan , tak seperti Rio.



"Sudah dipikir matang-matang?" Agung menegasi lagi. Dilepaslah dasi dan jas yang melekat di badannya.

"Merenung dan menyusun strategi semalam suntuk kayaknya sudah lebih dari cukup, ha ha ha ha." Ia mengangkut aneka logistik ke bagasi mobil.



"Jika gagal, siap menanggung risiko, kan?" Masnya kembali meyakini.

"Siap. Kecurangan tak bisa dibanggakan sama sekali! Tapi kekalahan masih bisa dikenang dengan senyuman." Ia berfilosofi.

"Nanti les privat matematika denganku. Honornya 500 ribu per jam. Jaminan ha ha ha.... Okay, pasang sabuk pengaman lalu lompat ke tanggal 4 April 2006. Pasti ada berita tentang Bambang Trihatmodjo yang mengunjungi Mayang hehehe…."

"Siap, Mas? Bismillah. Enter!" Maka timbullah titik hitam kecil yang bertahap dalam hitungan sekon membesar di atas jalan yang panas terbakar. Mereka lenyap dalam 3 detik.



***



4 April 2006



Peluhnya mengucur deras dari jidat ke gagang kacamata. Rio merasa cuaca sangat panas pagi itu meski matahari kuning tua baru merangkak. Grogi dan mawas. Lambungnya mulas. Ia ragu memasuki gerbang sekolah berbarengan dengan kawan-kawannya. Wajah mereka kaku nan tegang.



Lehernya menoleh ke sedan merah. Agung menggulung kaca lantas mengangguk. Klakson dari jarak 15 meter bagai cambuk yang membuatnya berjalan. Menjalankan misi masa depan. Misi berbahaya--jika gagal.



"Hai Rio, bukannya kamu sudah naik ke atas?" Temannya memergoki di depan aula. Perempuan itu heran. Ia berhenti mengunyah pastel hangat.

"Eh eh eh. Kau salah orang kali!" Yang dipergoki merasa kepepet, menghardik, kemudian ambil langkah paling efisien menjauhi perempuan berjilbab tersebut.



Kegugupan belum amblas tiba-tiba ada yang memanggil nama lengkapnya. Ia berhenti menyusuri lorong yang kanan-kirinya merupakan ruang praktik jurusan teknik pendingin dan mekanik otomotif. Livernya ngilu. Ia kenal suara itu. Ia hafal bebauan sandalwood itu.



"Ayo buru-buru naik ke ruanganmu." Tegas namun senyum orang itu terulas. Kedua tangannya bertaut di belakang.

"Oh Pak Handoko." Rio membalas kepada wali kelasnya. Suaranya bergetar. Sol ketsnya memaku bumi. Detik-detik merintik amat lambat. Bingung sekali. Ia tak bernyali untuk menatap lekat mata Pak Handoko. Label nama di dada beliau seolah berganti kata menjadi KEGAGALAN.



Pak Handoko melipir. Ia menerima panggilan dari ponsel. Menjauhi anak didiknya yang pucat sekarat.



***



Ia mendekam di gudang komponen. Sumpek, jemu, dan bau gemuk. Permen karet ampuh menganulir kebekuan menanti waktu. Jam 08.45. Jam saat Ardian menuju kamar kecil dan menyelipkan kertas contekan matematika di suatu sudut. Tiga menit lagi. Dadanya berkecamuk.



Derap langkahnya canggung. Ia mencerna situasi. Lengang. Kakinya diayunkan ke lokasi target--toilet pintu 2--yang berjarak lima puluh kaki di sisi kantin. Sebuah misi yang konyol tapi menantang. Ia berpikir lebih hebat daripada John Titor si penjelajah waktu. Ia jumawa. Membusungkan dada.



Ia memeriksa di berbagai sudut. Di balik celah wastafel, tak ada. Di dalam kotak kapur barus pun nihil. Di rongga ventilasi juga tak teraba. Lalu menggoyangkan gulungan tisu. Jatuh. Segera ia pungut sebelum basah sempurna. Sesudah itu ia berlari ke posisi awal, gudang.



***



23 Desember 2004



Ia sungguh terkejut tatkala bapaknya menyiram console game-nya dengan secangkir teh hijau panas. Ia meringis. Lengannya terpercik. Tombol daya ditekan off. Ia melebarkan telinganya sebagaimana telinga gajah afrika. Telinga yang bisa mengibas-ngibaskan udara panas. Panas omelan.



"Dari Bapak pulang kamu belum juga bangkit!" Bola matanya jerau membesar. Urat lehernya setegang dawai kecapi. Rio tengah mengepakkan kuping lebarnya. Menghalau panas.



"Valerio, Bapak perhatikan hidupmu nyaris hancur sejak ibumu meninggal. Badanmu kurus. Nilai semestermu terjun menukik tajam. Mandi pun jarang. Shalat pun diringankan. Terus kamu mau jadi apa?" Volumenya merendah. Rio mematung. Mata bapaknya sudah tak menjegil.





"It's okay kamu terpukul. Manusiawi. Tapi enggak berlarat-larat kayak gitu. Sudah 2 tahun. Teladani Bapakmu ini yang yatim piatu sejak 10 tahun. Hanya diasuh oleh nenekmu seorang...." Dia berhenti menasihati anak bujangnya. Dia duduk di sofa, dekat anaknya.

"Kamu juga tahu betapa beratnya perjuangan bapakmu ini," dia meneruskan, "Lalu mana perjuanganmu?"



***



Mana perjuanganmu?

Mana perjuanganmu?

Mana perjuanganmu?



Batok kepalanya pusing tak keruan bak dipukuli martil tiap mengingat suara itu. Tenggelamlah kepalanya di antara lekuk tubuhnya, di pahanya. Bagaimanapun juga ia lumayan gentar bilamana menghadapi risiko getir akibat misi kali ini. Ia bisa menakar sendiri kapasitas otaknya. Selain takdir dari perbuatannya, hanya keberuntungan buta yang ia yakini sanggup menolongnya. Ia mulai mantap.



Ia meninggalkan gudang itu ketika gemerincing bel membahana. Waktu ujian usai. Ketukan ketsnya gegap mengisi keheningan lorong. Pintu terali besi dibuka. Beberapa murid turun dari tangga. Ia bergegas.



"Cabut!" Ia telah masuk dan duduk di jok belakang. Baju seragamnya ia tanggalkan. Diganti dengan kaos oblong putih bertuliskan Live Long and Prosper—panjang umur dan makmur. Kaos katun longgar itu nyaman bagi badannya yang agak tambun tapi bugar. Ia gemar berolah raga, khususnya basket. Mata pelajaran Penjaskes-lah yang paling ia kuasai, bukan matematika.



Reseptor hidungnya tersadar mencium aroma daging sapi goreng dan mayonaise. Direnggutlah burger panas itu dari genggaman kakaknya. Agung bergeming.





"Apa misi lubang cacing benar-benar berhasil?" Masnya mulai sangsi. Pedal rem ia injak. Lampu hijau padam, berkedip kuning, lalu merah menyala.

"Apa gagal?" Usai melahap burger ia menenggak sebotol air mineral.

"Benarkah Teori Grandfather Paradox berlaku?"

"Apa lagi, tuh?"

"Apabila kamu kembali ke masa lalu dan membunuh kakekmu yang masih bujang, maka kamu akan lenyap dari dunia ketika kamu kembali lagi ke masa depan. Nah, mengubah garis waktu itulah yang disebut paradoks."



Si pengendara menggerakkan persneling ke gigi satu saat melewati jalan menanjak. Pikiran Rio ikut menanjak memahami teori paradoks kakek. Ia menangkap. Alih-alih, ia bimbang dengan misinya. Absurd. Apa pun itu, aku sudah berusaha, bisiknya.



Mereka mendekati terminal portal tempat keluar. Lubang hitam membesar ketika mendeteksi properti dari subyek penjelajahan.



***



Sedan merah mereka melaju di hamparan hitam-gelap sejauh mata memandang. Kecuali sumber cahaya dari lampu sorot mobil, tak ada satu pun cahaya monokromatik merambat.





"Lubangnya lebih kecil," komentar Agung tatkala menghampirinya. Kecepatan kendaraannya ia perlambat. Ada kesalahan.

"Untuk mobil enggak pas." Rio menghidupkan laptopnya. Sinyal kosong. Masnya menekan pedal rem perlahan.

"Kenapa ya, Rio? Coba kau turun!" Masnya memerintah.

"Gila aja!"



Agung menurunkan kaca. Tangannya dilambaikan ke luar kemudian menjatuhkan botol plastik.

"Suhunya dingin banget, kurang lebih 5 derajat celcius. Aman dipijak. Cepat turun." Ekspresinya cemas. Ada yang tak beres.



"Terus aku ngapain?" Rio tak kalah cemas.

"Kamu tembus lubang itu. Setelah di luar kamu buka program itu dan masukkan data yang sama." Lingkaran berdiameter 60 cm itu berpendar kuning terang. Menyusut berangsur-angsur.



Ia melangkah cepat menjinjing laptop hitam. Jaket wol membebat tubuhnya. Ia merunduk dan hilang ditelan cahaya.



"Mas Agung!" Teriaknya ke arah lingkaran hitam yang tampak seperti bernapas. Tanpa menunggu aba-aba, ia melaksanakan tugas yang kurang ia mengerti. Jari-jarinya basah dan bergetar. Siang telah karam di ufuk barat.





"Bagaimana, Rio?" Suara Agung keras memantul dari dalam.

"Ada peringatan 'the hole is less energy' saat kutekan enter!" Kali ini suaranya parau. Ia kebingungan bukan alang kepalang sementara lingkaran hitam di depannya menyusut jadi 40 cm.

"Ayo keluar, Mas! Abaikan mobil itu!" seru dia lebih lantang. Kacamatanya berembun akibat mendung di korneanya. Ia mengkhawatirkan nasib masnya.

"Tenang aja, aku pasti keluar kok!"

Akan tetapi... Blazzz!



Lubang itu mengkerut cepat lalu raib diiringi kemunculan mega merah di angkasa. Bidadari petang telah duduk di pangkuan bumi dan selendang lembayungnya menaungi penghuni bumi. Sekawanan kelelawar terbang rendah tak beraturan di antara raga Rio yang berdiri kaku. Mulutnya menganga. Ia gagal melunakkan situasi berat yang tengah berlangsung. Ia tersunjam, terisak, terkapar di lapangan bola berdebu. Kertas berisi huruf-huruf a sampai d ikut jatuh dari kantong celananya. Air mata menetesinya.



Ada tunas penyesalan tumbuh-menjalar ke pelosok sukmanya. Ia egois sampai harus mengorbankan saudara kandungnya. Hanya demi misi ambisiusnya. Misi konyol. Misi pembawa petaka. Perjuangan yang payah. Kejujuran yang angkuh. Dan kehilangan tak berbekas.



"Mas Aguuuuuuung…!" Teriakannya pecah bersama cairan bening di kedua pipinya. Bunyi pilu menggetarkan molekul-molekul udara pada senja yang telah tua.



***



12 Mei 2006



Ia tak begitu menanti hari ini, hari diumumkannya kelulusan via pos. Ia lebih menunggu kepulangan saudaranya. Tiada kabar maupun balasan dari ponsel dan akun Friendster-nya. Ia melongok dari kamar tidur dan mondar-mandir memeriksa kotak pos. Surat belum datang, kakaknya pun belum pulang. Masygul hatinya.



Mohon lengkapi properti Anda



Berkali-kali ia memencet tombol enter namun perintah itu yang lagi-lagi muncul pada kotak dialog. Sama sekali tak paham maksud kalimat itu. Ia rindu ditinggal masnya tiga hari tiga petang. Saban malam ia kerap mengungam memanggil-manggil ibunya, bapaknya, dan saudara lelakinya. Ketika terbangun, ia sadar telah menjadi sebatang kara. Tak kerasan ia hidup seorang diri.



***



Kotak pos kaleng yang setengahnya berkarat ia rogoh. Sepucuk surat dari alamat sekolah tertuju untuknya. Ia lesehan di lantai teras. Lensa cekungnya ia pasang. Mukanya tegang. Segel perekat ia rusak. Dibacanya susunan surat, mulai dari kop sekolah, nomor surat, isi, lalu sebaris kalimat bercetak tebak. Semacam vonis.



"Ya Allah...." Kata-katanya terhambat. Beban berat menekan dadanya. Ia jambak sendiri rambut kusutnya. Parasnya muram, suram, dan kelam seperti malam. Betapa getirnya buah kejujuran. Keberuntungan teramat mahal buat pahlawan ingusan. Ia sesenggukan. Lensanya terbanting membentur keramik.



TIN!



Sapaan mobil terdengar kencang. Ia abai. Sapaan kedua memaksanya mengangkat kepala dari ratapan. Secepat kilat ia bangkit. Ia kenal siapa itu.



"Mas Agung?" Berbinar-binar wajahnya saat itu. Pintu pagar ia dorong. Gesekan rodanya berderit. Batas suram dan senyum sangat tipis. Ia kesulitan merubah ekspresinya sendiri. Buru-buru ia seka noda air mata di pipinya.



"Aku bilang dulu kan begitu. Awas menyesal." Agung terkekeh geli. Rambut adiknya ia acak-acak. Rio menyambung tawa kakaknya. Tawa getir tepatnya.



"Mas dari mana?" Ia rindu sekali pada masnya. Satu-satunya keluarga yang masih ia miliki. Ingin sekali ia memeluk masnya erat-erat. Menumpahkan beban rindu di dadanya supaya masnya merasakannya juga. Paling tidak memeluknya 5 detik atau 5 menit bahkan 1 jam lamanya. Tetapi tidak. Ia malu. Ia gengsi. Mereka berdua lelaki sejati. Tak pantas, desah dia.



"Wah, pokoknya ceritanya spekatukeler deh." Agung memarkirkan mobilnya di garasi. Sedari tadi ia tersenyum cerah. Menghilangkan selusin kecemasan di pundak Rio.

"Cerita dong!"

"Trailernya dulu. Aku tinggal di istana Khilafah Turki Utsmani. Nuansanya sangat Islami. Tak tergambarkan dengan kata-kata." Agung sengaja ingin menghibur adiknya dengan membuatnya penasaran tentang pengalamannya.

"Wow!" Kedua mata Rio membelalak. Kagum dan kaget bercokol serentak. Ia tak sabar mau mendengar cerita lebih panjang. Ia bersorak 'yuhu' seperti melupakan sejenak beban nan berat. (*)



Jakarta, 22 Mei-1 Juni 2012



Mohon masukan, saran, dan kritik yang membangun dari pembaca ^_^



Terima kasih untuk Canalullah, Muby, dan Argha atas dukungannya.



BALTYRA.com



KastilFantasi.com