Minggu, 11 Desember 2011

125. WonderNancy: Jamu Kuat Waria (cerpen superhero)


Malam telah merengkuhi bumi yang menggigil. Telah tiga hari rembulan mati tenggelam rotasi. Tabir-tabir malam yang kelam kian membuat lorong-lorong ruang remang temaram. Begitupun gelapnya hidup Nancy yang dicoba disamarkan dengan make up yang menor.



Di depan tolet berbingkai ukir-ukiran jawa itu, Nancy membubuhkan alas bedak di mukanya yang feminin. Lantas ia menindihnya lagi dengan bedak padat warna emas.



"Eh bo, tahu tinta lekong yang namanya Mas Adam?" (Tahu tidak lelaki yang namanya Mas Adam). Dia bertanya pada rekannya, Angela, sembari menggoreskan pensil alis diiringi eyeliner dan mascara.

"Oh diana yang bawa moblang mersong, yang cucok, yang six pack bo?" (Oh dia yang bawa mobil Merci, yang ganteng, yang six pack). Angela menegaskannya, ia menyemprotkan eau de toilette aroma lily of the valley.

"Embeeeerrr...!!!"

"Diana lucica ya bo, tintah pelita, hahaha." (Dia lucu, nggak pelit).

"Dompetnya lemuk. Pokoknya akika mawar ngesong diana malam indang," tekadnya berkobar. Dipulaslah gincu red coral di bibirnya yang tebal.

"Good luck, yah."



*

Nancy sudah mangkal di taman seperti biasa. Taman yang bunga-bunga merekah warna-warni bak pelangi. Taman yang suram dan panas. Tempat bagi golongan-golongan yang rem hawa nafsunya blong. Dia duduk di sebuah bangku batu yang membisu. Gaun ungu terusan yang hanya sepaha melilit tubuh mungilnya. Menyamarkan lekuk-lekuk tegas khas maskulinitas. Sapuan rona emas di pipinya berkilau terpantul lampu sorot dari city car yang menghampirinya. Dia berdiri seperti menyambut tamunya yang naga-naganya masih brondong. Dan benar masih brondong. Laksana buah mangga mengkal, biarpun rasanya kecut-kecut imut, tapi tetap enak diemut.



Sang calon tamu itu mengedip centil pada Nancy. Nancy tersipu malu dan membuang muka ke sisi kiri. Kemudian dia menatap lagi ke pengemudi brondong itu.



”Say, masuk donk," ajak si brondong itu genit.

"Tintah mawar ah!" (Nggak mau ah!). Tolak dia dengan merendahkan intonasi suaranya. Dia sok jual mahal. Bagaimana tidak? Dia adalah waria primadona di kawasan ini. Dia juga pernah terpilih sebagai juara harapan kontes kecantikan waria di Bangkok tahun lalu.



Si brondong itu keluar dan membukakan pintu untuknya. Mempersilakannya masuk bak putri keraton yang dipingit 40 hari 40 malam. Nancy mendekat dengan langkah gemulai dul megal megol bagai macam luwe. Si brondong menutup pintu dan bergegas ke bangku kemudinya.

"Cantik banget...," puji dia pada Nancy.

"Thanks."



Malam bergerak. Bintang berserak. Cahaya berselerak. Gigi malaikat bergemilitak. Dan setan tertawa berjingkrak-jingkrak.

"Namamu siapa?"

"Nancy Swan."

"Uh... keren! Mirip Elizabeth Swan dan Bella Swan."

"Kalau kamu?" Dia ingin tahu meski jawabannya pasti nama samaran.

"Leonardo. Hmm, nama siangmu siapa?"

"Nandoooooo...," ceplos Nancy.

Leonardo tertawa terpingkal-pingkal. Pun Nancy tertawa lebar-lebar seakan dia lupa menyadari bahwa dirinya lagi berperan sebagai Nancy yang seduktif.



Mobil Leo ditambatkan di dekat kedai jamu yang menyeruak aroma rempah-rempah bubuk. Leo duduk, memesan jamu.

"Yei masih brendy tapi sukria jamu. (Kau masih brondong tapi suka jamu). Anak muda lebih sukria wine," puji Nancy sembari mengelus pahanya. Leo menggelinjang

"Wine kan haram, say...." Nancy tersentak. Jidatnya terjitak. Dia bingung. Bagaimana ada manusia yang menolak satu keburukan tapi menerima satu keburukan yang lain. Menghindari alkohol namun menggemari zina. Keluar kandang serigala, masuk sarang anaconda.

"Kamu pesan apa? Aku jamu kuat pria."

"Hmm... apa ya, Leo?"

"Jamu rapet wangi aja," gurau Leo.

"Ih emang akika wanita!"

Lagi-lagi Leo terbahak-bahak sampai napasnya sesak.



"Bang, akika mawar belalang jamkuwar!" (Bang, aku mau beli jamkuwar). Ia memesan setengah berteriak.

"Jamkuwar apa?" tanya Leo.

"Jamu kuat waria!" Jawaban Nancy terdengar oleh penjual jamu tanpa ia kudu mengonfirmasi apa yang diujarkan Nancy dalam bahasa planet. Planet Derby Sahertian dan pengikutnya.

"Nggak ada, Mbak." Abang penjual jamu itu bimbang juga dengan pesanan calon pembelinya itu. Yang ia tahu hanya ada jamu kuat pria dan kuat wanita. Jamu pasak bumi dan jamu sundul langit. Hingga racikan jamu yang sanggup bikin para janda kembali legit.



Nancy cemberut, parasnya kusut. Sedangkan Leo tengah meminum jamunya beserta air jeruk manis penawar pahit. "Bang, bikin jamu dari setengah bungkus jamu kuat wanita dan setengah bungkus jamu kuat pria." Leo mengusulkan ide brilian.



Nancy menganga. Begitupun si abangnya. Tetapi si abang segera paham usul Leo dan meracik jamkuwar buat Nancy.

Jamkuwar plus telur telah terhidang di hadapan Nancy. Alih-alih diminum, ia mengabaikannya sebab takut keracunan.

"Jamu apa sih ini, Leo?"

"Itu jamkuwar pesananmu."

"Akika takara. Nanti metong." (Aku takut. Nanti mati).

"Nggak. Coba dulu deh.”



Dia menghirupnya, lantas menenggaknya dengan keyakinan penuh dan menyeluruh. Dipejamkan matanya. Namun sekonyong-konyong, wignya mental ke atas. Berikutnya dari tubuhnya keluar getaran kuat seperti gelombang radioaktif; sinar alfa, beta, dan gamma. Dinding-dinding udara yang memadat menghempaskan siapa pun dan apa pun yang ada di sekitarnya. Luluh lantak semuanya. Hancur lebur segalanya.



Nancy menangis sesenggukan. Semua orang tersungkur ke lantai terjauh. Kaca-kaca pecah meriah. Suasana tampak sunyi dan mencekam. Gelap. Lampu-lampu padam terbenam. Insiden tadi terasa amat cepat dan dahsyat.

Leo bangkit dari kolapsnya, mendekati Nancy.



"Nancy, kamu tak apa?"

Nancy masih menangis.

"Kenapa ini? Aku sudah merugikan dan melukai banyak orang," isaknya menyesal.

"Aku yang akan ganti rugi. Ini salahku." Leo ikut menangis. Ia mengangsurkan sapu tangan merah pada Nancy untuk menyeka air matanya yang melunturkan riasannya.



*

Nancy dan Leo masih menerka-nerka apa yang baru saja terjadi. Mereka membisu dan mengatur irama napas. Degup detak jantung mereka sudah berakselerasi normal. Kejadian itu mirip kebangkitan superhero Captain America di laboratorium uji coba.



“Maaf ya, gara-gara aku semua jadi berantakan.” Kata Leo lirih karena merasa berdosa.

“Nggak papa, cuma aku aja yang syok. Kok bisa begitu ya?” Kini nancy tak lagi ngondek, bukan waktunya yang tepat.

“Ya udah, itu nggak usah dipikirkan.”



Nancy mengangguk. Kendati insiden tadi lumayan janggal, tapi ia sangkal. Baginya peristiwa tadi hanyalah aktivitas makhluk astral yang usil mengganggu manusia. Yang membuatnya bingung, mengapa dirinya yang dijadikan media. Akan tetapi yang dikatakan Leo ada benarnya juga. Barangkali dari efek jamkuwar itu. Ah… itu berlebihan, gumamnya di batin.



“Sampai sini aja, Leo.”

“Lho? Rumahmu masih jauh.”

“Aku bisa jalan sendiri. Makasih ya say sudah mengantarkanku pulang.” Tuturnya seraya membetulkan posisi wignya yang acakkadut.



“Tunggu, Nando, ups, Nancy. Aku punya ini.” Leo menunjukkan sesuatu. Nancy terbelalak. Ia belum pernah melihat barang sebesar itu.

“WOW! UKURAN SWISS!” Ia berteriak lantang. Meraihnya, menggenggamnya, dan menikmatinya perlahan. Dijilatinya sebelum menggigitnya. Ia merasakan sensasi yang berbeda saat meleleh di mulutnya, dan menelannya dengan nikmat menganulir kepalanya yang sedang penat.

“Masa gitu aja sampai merem sih.” Leo meledek, cengengesan.

“Habis coklat Swiss-nya lezat sih. Baru kali ini aku makan coklat yang enak, gede pula. Selama ini aku cuma makan coklat cap Ayam Jago.”

“Coklat kan bisa mengurangi stres. Jangan takut, entar aku belikan yang banyak.”

“Thanks ya. Ya sutralah, aku turun ya. Bye.” Nancy keluar dari sedan dan melambaikan tangan ke Leo yang menjauhinya.



Dia menyusuri malam bersama jejak-jejak kesunyian yang masih membekas di aspal. Dia amat lelah harus bertarung melawan nuraninya yang berteriak-teriak saban hari. Dia hendak naik dari lembah hitam menuju padang terang dengan sejumput azzam. Sungguh, ia pun jijik dengan pekerjaannya sendiri. Tak terasa, air mata menganak-sungai di pipi.



Langkahnya terhenti saat mengamati tiga orang di depannya. Ada yang tak beres rupanya, gumamnya. Ada seorang pria tegap yang sedang ditodong oleh dua perampok. Pria yang sepertinya ia kenal itu diacungi pistol oleh seorang perampok. Sementara perampok satunya sedang beraksi mengobrak-abrik barang-barang di dalam mobil si korban.



“Hai bajingan, hentikan!” Nancy memekik mengejutkan mereka.

“Hey bencong! Jangan macam-macam lu, gue tembak nih!” Ancaman datang dari si perampok itu.



Nancy lari mendekat, perampok itu mengacungkan pistol agar Nancy mundur. Tapi Nancy tak gentar. Begitu dekat, ia melompat dan menendang penjahat itu hingga mental sejauh 20 meter. Dan naas, kecebur ke got yang dalam.

Nancy terkejut. Ternyata sanggup juga ia menendang orang sejauh itu. Ia merasa mempunyai kekuatan super yang canggih. Namun, sejak kapan? Apa sejak ia mengonsumsi jamkuwar yang berkhasiat itu. Atau jangan-jangan ia lupa pernah berguru di kuil Tiongkok sebagai seorang shaolin. Tidak mungkin! Dia feminin.



“Hahahaha… ternyata ini pistol mainan.” Si korban tertawa saat memegang pistol yang terjatuh.”

“Mas Adam?”

“Kamu?”

“Aku Nancy,” akunya.

“Oh, Nancy Swan ya.”



Adam ingat tentang Nancy, waria yang suatu malam pernah melayani syahwatnya. Tak dinyana, ada juga waria yang begitu kuat sampai bisa menghempaskan orang laksana meniup sehelai kapas dari tangan.



“AWAS!” Adam mengingatkan Nancy, ada perampok lain menyerang dari belakang.



Nancy menunduk, mengepalkan tinju ke perutnya. Terlempar hanya 3 meter. Sekilat perampok itu segera bangkit. Perampok yang satu ini lebih kuat seolah-olah punya ilmu bela diri yang mumpuni. Dan benar! Dia memutar badannya melawan arah jarum jam, menihilkan gaya gravitasi bumi sehingga mampu terbang dan ancang-ancang untuk melumpuhkan Nancy. Nancy gentar. Nancy ciut.



“Nancy…” Adam cemas akan nasib pahlawannya.

“Mas Adam, pergilah sejauh-jauhnya dengan mobilmu!”

“Tapi….”

“CEPAT!!!”



Adam segera mengebut dengan pikiran kalut. Di situ, nancy memejamkan mata, konsentrasi mengumpulkan tenaganya. Ia teringat insiden gelombang ultrakuat yang menghempaskan tiap obyek yang ada di sekelilingnmya. Kala detak-detik kaki perampok menyentuhnya, ia membuka mata dan berteriak. Sontak saja getaran menggelegar menangkis perampok itu sampai ke ujung atomsfer menabrak awan-awan.



Ia tersadar dengan ilmu gelombang yang ternyata tidak destruktif itu. Cukup konsentrasi dengan satu obyek sasaran, maka obyek lain takkan terkena resonansi. Ia mulai menerima bahwa kekuatan dari dalam dirinya bersumber dari Tuhan melalui jamu kuat waria. Ia tersungkur malu.



“Nancy, kamu baik-baik saja?” Adam telah kembali.

“Tak apa, Mas.”



Adam menghampirinya, merengkuhnya sebagai balasan terima kasih.

“Nancy, kamu adalah wonderwoman-ku. Kamu adalah WonderNancy yang hebat dan kuat.”



Malam ini telah lahir WonderNancy, superhero terbaru, tanpa kostum, tanpa senjata.



Dunia Dalam Cerita. Jakarta, 6-7 Desember 2011.



Terima kasih buat Argha Premana yang telah menjadi penasihat bahasa gaul versi Derby Sahertian ^_^v

Rabu, 16 November 2011

124. Anak Hujan


Gadis cilik itu selalu bersukacita tiap kali menonton hujan dari jendela rumahnya. Ia juga mendengar nyanyian kodok, denting percikan air hujan, seruling angin, hingga dentum geledek yang malah membuatnya senang. Namun sungguh, bocah 9 tahun itu hatinya pilu, lantaran bapak-ibunya melarangnya bermain dan menari di antara bulir-bulir air rahmat dari langit yang pekat.



"Kamu mandi hujan, kan! Nanti kamu sakit, dasar anak badung!" Ibunya yang baru saja pulang kerja sore itu menyeretnya masuk saat memergoki anak semata wayangnya berjoget genit dalam guyuran hujan.

"Biar saja, nanti bapak pukul!" Kali ini bapaknya yang angkat bicara dengan muka setegang baja.



Gara-gara kejadian kemarin, gadis cilik itu tak lagi bermain bersama grup hujan yang riuh dan menggigil. Dia takut dihardik dan dicambuk gesper oleh bapaknya. Untuk mengusir rasa sepinya di rumah ketika orangtuanya sibuk di luar, ia menunggu kelompok hujan (air, mega, angin, guntur, kodok) dari jendela kamar tidurnya.



Namun pasukan hujan belum juga bertandang. Mereka sedang di kota lain rupanya. Dia makin diselimuti kesunyian usai pulang sekolah. Tak ada kawan barang sekepala pun di rumahnya. Hanya pasukan hujan yang menemaninya saat hanya cuaca mendukung kedatangan mereka. Maka baginya, musim kemarau ialah penantian terpanjang di terminal kesunyian untuk sekadar melihat hujan yang berlalu lalang.

*

Tidaklah sia-sia penantiannya. Petang ini mega segera menghitam dan desau angin menjadi penata awan. Guntur telah jatuh di bukit nun jauh. Butir air perdana sudah tercurah ke burung yang gerah.



Ia singkap tirainya yang lebar. Ia buka matanya yang nanar. Kelompok hujan sedang berdendang dan menari di luar sana. Dentuman petir bagai hantaman simbal. Sepoi angin laksana tiupan seruling. Dan kodok, si diva, bernyanyi melantunkan kidung pujian pada Tuhan. Semua begitu ramai dan megah. Gadis cilik itu tertawa riang dan tak hentinya berjingkrak di balik jendela kamarnya.



"Kemarilah, bernyanyi dengan kami," ajak air hujan yang mendekati jendela kamarnya.

"Aku takut dipukul oleh bapak-ibuku," tolak dia menyesal.

"Aku akan melindungimu." Si angin bicara, menerpa tubuh mungil lagi ringkih milik si gadis itu.



Hujan kian deras dan lama. Pasukannya tambah gaduh senja ini. Volume air di luar tumpah ruah. Selokan memuntahkannya ke hamparan jalan. Sungai kembung dan tak sanggup menelan debit air yang besar. Akan tetapi pasukan hujan belum juga beranjak. Mereka pesta pora bernyanyi dan menari menemani si gadis yang kesepian.



"Keluarlah!" Pasukan hujan serentak menyeru bocah kencur itu untuk bergabung dengan mereka.



Tanpa sangsi, ia berlari keluar, dan disambut tarian dan nyanyian pasukan hujan yang gegap gempita. Kuyuplah badannya menyeluruh. Dia berenang dalam kubangan keruh. Ia berayun-ayun di angkasa bertalikan kawat petir. Lalu jiwanya terbang ke langit dalam timangan angin.

*

Pada awal malam, bapak dan ibunya panik dan cemas menyusuri tiap lorong ruang untuk menemui buah hatinya yang hilang diculik sekelompok pasukan garang. Teriakan dan panggilan miris membahana ke penjuru praja. Waktu mereka yang dahulu mengucur deras, kini cuma menetes detik demi detik dengan malas. Harta yang buat mereka bangga, dalam sekerlip menguap menjadi jelaga.



Sejak saat itu, kedua orangtuanya harus menanti kelompok hujan singgah di kota mereka supaya bisa menyaksikan anaknya menari rancak diiringi musik hujan yang menawan. Terbang melayang bersama angin dan angan. Berduet dengan sang diva dalam dentingan hujan. Dan yang paling menyedihkan bagi bapak-ibunya yaitu manakala anak gadisnya meluncur bebas dari perosotan pelangi. Pelangi yang melengkung di akhir hujan. Setelah pelangi itu memudar, mereka mesti menunggu kelompok hujan mampir lagi ke kota mereka yang tengah dilanda kemarau. Entah kapan.



Dunia Dalam Cerita. Jakarta, 15 November 2011.

Senin, 07 November 2011

123. Takbir dari Hati


Cerita Mini (cermin) karya Abu Waswas ^_^



Takbir dari Hati



Argha sudah melihat Lebaran Haji di ambang pintu. Ia membuka pintunya dan keluar mendongak ke hamparan langit nan bersih. Rembulan tanggal 7 sudah merayap ke puncak zenit. Pertanda tiga hari lagi takbir Idul Adha 10 Zulhijah bergemuruh di langit teduh. Juga kulit bedug akan bergetar beresonansi sebab dihantam kayu-kayu lonjong dari jiwa-jiwa yang menyongsong.



Segala hiruk-pikuk Idul Qurban membikin hatinya resah. Bagaimana tidak. Ia ingin sekali membeli seekor hewan qurban dari harta jerih payahnya barang sekali setahun. Ia pun kudu gigit bibir demi menumpuk keping per keping selama setahun ke belakang agar bisa menuntun kambing tahun ini. Namun suratan berkata lain. Ibunya yang di kampung mendadak sakit bulan lalu. Maka bangkrutlah dia. Pupuslah rencana yang tulus dan indah.

*

"Argha, coba kamu tengok hewan qurban di belakang masjid." Ustad Ramzi, seorang imam masjid, memerintahkannya untuk memeriksa para dorbia pada malam itu.

Yang disuruh patuh dan memastikan jumlah hewan qurban malam ini tidak berkurang dicolong begal.

"Siji, loro, telu, papat, limo," hitungnya, telunjuknya mengarah ke para ternak. Empat kambing dan seekor domba gemuk. Tanpa seekor sapi pun. Ia termangu. Mana cukup hanya lima ternak ini untuk dibagikan ke ratusan duafa. Butuh paling tidak seekor sapi supaya mereka terbagi rata dan bisa kenyang terpenuhi gizinya. Maka galaulah si Argha. Apalagi ia tak mampu memberi barang seekor. Ia merasa terajam kerikil dosa lantaran hal itu. Genangan air matanya luber. Ringkihan cempreng kambing menjaga dirinya dari sengkarut kegalauan. Disekanya lelehan cairan yang keluar dari matanya.

*

Saat hendak shalat magrib, ia melihat rumah keluarga besar Pak Bambang riuh dan sibuk. Ia tahu sedang ada pesta ulang tahun anak bungsunya. Memang keempat anaknya masih saja tinggal satu atap walau sudah mapan dan dua di antaranya telah menikah.



Yang jelas semua warga mengenal keluarga Pak Bambang pelit serta medit. Hidupnya bermewah-mewah. Desas-desusnya, bulan lalu anak sulungnya, Prio, membeli Toyota Harrier. Fardhan, anak kedua, yang baru kawin, berbulan madu ke Perancis. Nita, anak perempuan satu-satunya, baru saja operasi plastik supaya parasnya cantik jelita bagai Megan Fox. Dan kini si bungsu, Ben, merayakan miladnya yang superglamor. Sayang ia tak diundang. Mungkin jika diundang ia tak mampu beri kado yang prospektif.



Usai magriban, Argha dapat ide cemerlang habis memantau keluarga Bambang. Dia ingin agar mereka legowo berkurban sapi dan menitipkannya di masjid ini. Paling tidak mereka urunan beli seekor sapi.



"Hai kalian, bentar lagi akan ada sapi di sini. Doakan saja!" Ia teriak ke para ternak, yang lantas mengembik bersama laksana bilang "aamiin".



Tak ada lagi galau. Ia mendekati imam masjid di ruangannya. Ia menggenggam seuntai harapan. Segalanya terasa ringan.



"Pak Ustad Ramzi, ane ada ide nih biar masjid ini bisa dipercaya untuk dititipkan sapi,” ujar dia dengan raut menyala-nyala.

"Siapa yang mau menitipkan untuk kami kelola?"

"Keluarga Pak Bambang."

Pak Ustad langsung pening bak tertimpuk telur kalkun. Namun ia menghargai pendapat Argha dan mau berdiskusi dengannya.

*



Usai shalat isya berjamaah, ia langsung ke rumah Bambang Family untuk melancarkan misinya. Dengan tiga lembar kupon bercap tinta biru nama masjid An Nur, ia ingin menyindir keluarga besar tersebut.



"Assalamu'alaikum." Salam mengarah ke Prio yang tengah meraba Harrier terbarunya.

"Wa'alaikumsalam."

Ia masuk mendekat dan menyapa Maya, putri kecilnya Prio, yang sedang anteng di dalam mobil papanya yang masih gres.

"Ada apa, Gha?"

“Begini Mas Prio, saya ingin membagikan kupon pengambilan daging hewan qurban di Masjid An Nur.”

“Lho?” Prio tercekat dan melipat-lipat jidat.

“Ini, Mas.” Ia mengangsurkan tiga lembar kupon yang masih hangat baru dicetak.

“Saya tidak pantas nerima ini, Gha,” tolaknya. Argha menarik lagi tangannya. Mukanya layu.

“Tapi semua duafa sudah kebagian, dan ini lebih tiga lembar untuk Mas Prio sekeluarga,” kelitnya, memasang wajah melas.

“Yakin semua duafa dapat cukup? Berapa jumlah hewan qurban di An Nur?” Ia menyelidik. Nada bicaranya mulai empuk dan sejuk.



Argha merasa sudah menggenggam buntut. Seulas senyum terukir di bibirnya.

“Empat kambing dan seekor domba, Mas. Gemuk-gemuk, lho, hehehehe….”

Prio terbungkam sejenak, merasa tak enak, dan nuraninya berteriak.

“Berapa nomor ponselmu?”

*

I’m your biggest fan



I’ll follow you until you love me

Papa-paparazzi

Baby there’s no other superstar

You know that I’ll be your

Papa-paparazzi



Ia lompat meraih ponselnya yang berdering berulang. HAP! Dari Mas Prio rupanya. Tombol hijau ditekannya.

“Assalamu’alaikum, Argha.”

“Wa’alaikumsalam, Mas Prio.”

“Kamu tahu gak berapa harga sapi di tempat Pak Jumianto?”

“Pak Jumianto jual sapi yang beratnya 300 kg seharga 11 juta, Mas.”

“Oh, gitu. Sepulang kamu kerja temani saya ya ke sana.”

“Baik, Mas!”



Argha bersorak berjingkrak. Ia gembira dengan rencana penyindirannya yang sukses. Ya, penyindiran, bukan pemaksaan. Sebab ibadah berkurban datang dari hati yang tulus.

*

Usai shalat Id, ia mengelus-elus punggung sapi yang siap disembelih. Gema takbir berkumandang dari penjuru bumi. Golok dan pisau mengkilat yang baru diasah seakan tak sabar memuncratkan darah segar.



Sebagai salah satu panitia penyembelihan dan penyaluran hewan qurban 1432 H, tentu Argha sibuk. Kontras dengan Prio yang cuma memotret dan merekam gambar hidup. Tampak pula Ben membawa makanan dari rumahnya untuk konsumsi para panitia.



Penyembelihan perdana, seekor domba gemuk digiring Argha ke tukang jagal berpeci miring. Setelah diikat, ia dan Ben menahan pemberontakan si domba. Penjagal komat-kamit merapal doa, lantas melukai kulit leher domba hingga darah muncrat mengucur ke lubang tanah.



Allaahu akbar.. Allaahu akbar.. Allaahu akbar.....

Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar.

Allaahu akbar walillaahil - hamd.



Jakarta, 4 November 2011

$$$

Sabtu, 22 Oktober 2011

122. Hadiah yang Kosong


Cerpen karya Abu Waswas



"ALHAMDULILLAH! ANE MENANG HAPE!" teriak Rasyid berjingkrak-jingkrak. Sementara Hans, sobatnya, bermuka kecut.

Simelekete!" cibirnya.



Dua penganggur ini kerap melekat ke mana pun arah angin menuju. Bersepeda ria di jalur bebas kendaraan bermotor, tahlilan orang mati ataupun selametan wanita bunting, hingga seiya setidak dalam berpartisipasi dalam program hadiah uang dan barang-barang bermartabat.



Siang berawan ini Hans punya agenda segudang, dari memenuhi undangan interview di kantor perusahaan minyak goreng, mengunjungi galeri seni rupa agar tampak menjadi warga urban yang melek seni (walau kenyataannya tidak!), hingga jalan-jalan ke mall (hanya jalan-jalan). Sudah tentu, sudah pasti, sudah yakin ia akan ditemani oleh Rasyid, sobatnya yang alim itu.

"Gimana tadi wawancara ente, Hans?" ujar Rasyid sambil mengamati lukisan kubisme yang tak ia pahami.

"Biasa aja," balasnya meninggalkan si penanya.

"Astagfirullah, gitu aja ente ngambek, Hans!"

"Siapa yang ngambek? Gue cuma tahu diri aja, Syid. Cuma lulusan SMA," gerutunya.

"Jangan gitu, kan ente cuma ngelamar jadi buruh pabrik, bukan manajer."

"Yup, I know. Tapi kan banyak pelamar. Nah kalau gak ada uang pelicin atau orang dalam, bakal susah." Rasyid mematung di samping patung harimau berbahan tembaga. Ia tak hentinya komat-kamit melafalkan asmaul husna bersama kenaifannya sendiri.



Di sela-sela jajaran toko dan interior yang cantik, menarik, dan eksotik, mereka cuma wara-wiri beserta ludah mereka yang hambar bin tawar. Tiada segelas sirup rasa lemon untuk sekadar pembasah kerongkongan ataupun pemanis mulut. Pun tiada karcis bioskop di genggaman, yang mana ingin sekali menyaksikan kekocakan dan atraksi silat si Po Panda dkk.

"Eh Hans, udah ada pengumuman belum hadiah kecap botol cap Bebek?" tanya Rosyid yang lalu duduk di sebuah bangku cuma-cuma.

"Nama gue gak ada."

"Sabarlah, mungkin belum rejekinya. Padahal hadiahnya lumayan; kulkas, motor, laptop, uang. Kan kalau dapat bisa buat modal buka usaha pondok bakso," harapnya dengan diiringi kesabaran.

Lagi-lagi keduanya melamun di hamparan orang-orang yang modis, klimis, dan manis. Dalam tertegun, Hans membaca poster yang terbentang di beranda toserba.

"Syid, daripada elu nanya mulu apa lamaran gue diterima atau gak, mending kita ikut itu aja!" Ia setengah berteriak dengan jari mengacung ke tulisan: Menangkan hadiah utama satu unit BMW dan hadiah hiburan lainnya dengan mengajak sebanyak-banyaknya orang untuk memakai deterjen Gaya!

"HAHAY!!!" Berpijarlah bohlam 100 watt di atas kepala Rasyid.



Demi sejumput tujuan mulia, Rasyid dan Hans memasang target untuk menggaet sebanyak-banyaknya pemakai deterjen Gaya. Mereka melancarkan aksi demo persuasif dari pintu ke pagar, kost ke kontrakan, pagi ke siang, dan siang ketiduran.



Gayanya sudah seperti sales kantoran. Padahal nasib menuntunnya menjadi pengangguran. Niat mereka sekeras baja. Usaha mereka sungguh-sungguh menginjak keluh. Daya lenting mereka selentur rotan Kalimantan.



"Hans, pagi ini ente ke perumahan RT sebelah, ane di RT sini dulu," aju si Rasyid.

"Oke deh. Gue pasang target 10 orang hari ini. Jangan lupa, selain bungkusnya, elu minta juga fotokopi KTP-nya."

"Insya Allah, niat kita jadi barokah," doa Rasyid dengan tangan dan kepala menengadah ke langit.

"Aamiin."



Hans yang pemalu semakin malu tatkala ia mesti memalukan dirinya sendiri di hadapan para ibu dan remaja putri yang tersenyum malu. Ditambah ada Sri yang lirak-lirik dengan rambut yang ia kibaskan penuh kesan. Ia menciut. Ia gemetar. Tak pernah ia mempelajari ilmu penjualan.

"Kamu promosi apa sih?" tanya Sri mesam-mesem.

"A...a...anu, Sri." Gagap mendadak.

"Anu apa hayooo...," ledek Sri.



Ia melamun memandang kecantikan alami wajah Sri. Sri laksana spora bunga desa yang terbang terbawa angin urbanisasi. Akibat dari penyerbukan yang subur ia mekar berjajar di jalanan metropolitan. Gadis sanjai sederhana yang mematik naluri lelakinya hingga berkobar, membakar tiap tetes birahinya yang panas. Ia berhasrat untuk mempersuntingnya jika memenangkan hadiah utama BMW. Seandainya.... Apabila... Bilamana....



"Anu, aku lagi ikut program mencari sebanyaknya pemakai deterjen Gaya. Aku dan Rasyid jadi agennya," bebernya lancar.

"Oh gitu. Memang apa bagusnya Gaya?"

"Bisa mengangkat noda membandel, menjaga serat kain agar tetap lembut, dan harum pastinya," promonya dengan senyum tersungging di gigi yang kering. Serta merta gadis berambut panjang legam itu mendekatinya, meraba kaosnya dan mengendus pada bagian dadanya.

"Betul. Lembut dan harum, hehehe..."

Seutuh jiwa dan raga Hans terjeblos ke mulut bumi. Terus terperosok dalam magma endorfin yang meletup-letup.



Derap segerombolan kaum bapak dan pemuda keluar dari rumah yang menggelar kenduri nujuh bulanan. Dua sekawan, Hans dan Rasyid, ialah peserta yang tak pernah absen pada acara serupa. Kehadiran orang-orang macam mereka diperlukan untuk periuh suasana dan pendukung supaya doa-doa terpanjat tembus ke langit.

Rasyid setengah berlari ke arah Hans yang berbalut koko putih dan bersarung hijau terang setengah betis.



"Assalamualaykum," salamnya, terengah-engah.

"Waalaykumsalam."

"Tadi ente siang dapat berapa?"

"Wah, menakjubkanlah. Gue laksana ketiban durian gundul, hehehe," ujarnya terkekeh geli.

"Alhamdulillah. Ane mau tahu ente dapat apa, Hans?"

Ia menepuk pundak Rasyid. Lengkung alisnya menggeliat. Nasi berkatnya ia angkat. Lalu dengan ligat ia merampas songkok putih yang bercokol di kepala Rasyid. Ia kabur dengan tawa yang berderai derai.

"Astagfirullah! Woy, kembalikan peci ane!”

"Berita sukacita dan peci bisa didapatkan di rumah gue, hahaha..."



Di beranda rumah Hans, mereka menjumlah bungkus per bungkus deterjen hasil perjuangan melumpuhkan rasa gengsi. Kepulan asap membumbung terurai desau angin malam. Sisa-sisa sendawa meledak dalam bahasa kenyang.

"Masa tiga hari cuma terkumpul 70 bungkus sih," keluh Rasyid.

"Betul! Kita bisa kalah banyak dari agen lain yang berkonspirasi dengan pihak penyelenggara," tukasnya.

"Konspirasi apa tuh? Ane kagak ngerti, Hans."

"Kongkalikong."

"???"



Ia menyambit tarbus merahnya ke muka Rasyid yang melongo. Ia menawarkan strategi.

"Kalau lamban gini, kapan gue bisa ngelamar Sri. Gimana kalau kita memanfaatkan pak RT supaya dia bisa mengimbau warganya untuk pakai deterjen Gaya."

"Cuma mengimbau?"

"Iya, kan dia punya kuasa dan disegani. Begitu warganya nurut, baru kita ketuk door to door tanpa perlu mempromosikannya lagi. Hemat waktu, jadi kita bisa lebih cepat dan dapat banyak!" tegasnya mantap.

"Target kita pak RT sebelah, Pak Widodo."

"Persis!"



Pak Widodo masih sibuk dengan burung prenjak jawa kesayangannya. Ia menyemprotnya agar lebih segar. Siulannya beradu dengan cit cit cuit sang burung yang lincah.

"Assalamualaykum, Pak Widodo," salamnya menghatur dengan map biru terlampir brosur informasi program deterjen berhadiah.-

"Waalaykumsalam. Eh kamu, Hans," sahutnya sembari menggantungkan sangkar bambu ke langit-langit serambi.

Pak Widodo menggiring tamunya ke dalam. Sementara ia nyelonong ke kamar tidur meninggalkan Hans di ruang tamu.

Ia kembali dengan segepok kartu undangan bercorak batik yang cantik lagi harum.

"Kamu ada perlu apa? Mungkin bisa saya bantu."

"Ini Pak," jawabnya. Hans mengangsurkan mapnya.

"Oh hadiah Gaya itu. Oke, gampanglah. Nah, coba kamu bagikan undangan pernikahan ini ke warga saya."

"Pernikahan siapa, Pak?"



Hans membanting segepok kartu undangan itu di hadapan kawan karibnya. Rasyid terpental ke arah tenggara. Mukanya tegang melintang. Dan wajah Hans berang meradang.

"Astagfirullahal 'azhiim, sabar deh ente, Hans."



Mukanya yang layu bertambah mendayu. Gemericik air hujan di luar bersuara bisu. Guntur nan sangar terdengar sendu. Parasnya yang sebam kian kelabu.



Ia tak mengerti lagi bagaimana mesti membawa harapan. Ia tak paham lagi harus bagaimana memintal impian. Dan ia tambah tak tahu lagi bagaimana meninggalkan sebuah cita-cita.



Ia belum kuasa beranjak dari bayangan hitam yang semakin hitam tersiram silaunya cahaya masa depan. Bayangan yang lahir dari seberkas angan-angan dan tuntutan yang bersetubuh dalam lelapnya malam. Dan sialnya, bayangan itu hanya hadir manakala ia berdiri di bawah silaunya bintang masa depan. Ia pun tak memiliki kekuatan untuk memilih. Juga takdir memilihnya supaya ia tak punya kekuatan.



Lima hasta dari tempatnya duduk, kawannya yang setia ikut terselubung atmosfer yang berkemelut. Ia tergugu dalam hanyut udara yang kian karut-marut. Seharian ini Rasyid sedikit bicara mengimbangi dirinya yang tengah kalut. Ia sadar dan paham bahwa Hans tak perlu wejangan yang bikin dirinya ringan. Apalagi ia tak butuh ceramah yang membuat jiwanya cerah.

"Kau butuh bersembunyi dalam tempurung sunyi," tutur Rasyid puitis.

"Sedangkan pujaan hatiku bersembunyi dengan bidadara yang merdu bernyanyi," timpalnya pilu.



Rasyid menghampiri rumahnya yang terjilat juluran lidah cahaya surya. Sang subuh baru saja dijemput sang waktu yang angkuh. Jendela kamarnya tak mengembuskan napas kehidupan. Masih rapat terhalang tirai menjuntai.

Ia mendapati Hans terkulai loyo bak kurang kalsium. Mukanya dibenamkan di bantal yang tak lagi harum. Rasyid mengguncang bahunya yang tanpa baju. Ia hendak mengutarakan sesuatu.



"Hans, ente seminggu ini mengurung diri terus di rumah. Boro-boro mau bantu kejar target. Masa gara-gara Sri kawin, cita-cita kita berdua kandas," ulasnya.

"Yeeh... kata elu, gue kudu bersembunyi dalam sunyi."

"Yaah... seruan ane berubah jadi sesat."

"Tadi lu bilang apa, gara-gara Sri kawin cita-cita kita berdua kandas," tegasnya, ia bangkit seraya mengelus dadanya yang kokoh dan atletis.

"Betul begitu."

Hans beranjak, meraih kaos katunnya. Tak lupa ia menjinjing sepatu bola favoritnya. Rasyid mengikutinya.

"Mau main bola?"

"Yoi. Ngapain juga patah hati dikelonin di kasur." Ia menjalin temali sepatunya di ruang tamu.

"Secepat itukah?"

"Yee... tadi lu yang nasihati gue. Hati tuh sulit diatur sama otak, makanya gerakin aja sama otot, yaitu olah raga.

"Intinya, dipaksakan," simpul si Rasyid.

"Persis."



Hans memerhatikan para wanita berkumpul di rumah Sri usai bersepakbola. Rumah pengantin baru itu riuh rendah oleh bahak mereka.

"Ada apa, Syid?"

"Entahlah."

Ia bertanya pada seorang ibu yang keluar berjalan mendekatinya. "Kenapa bu, ada ramai-ramai di sana?"

"Oh... kami menukarkan bungkus kosong Gaya dengan gelas ini," pamer si ibu.

"Bukannya warga sini jadi target ente, Hans? Itu janji Pak Widodo, kan?" Rasyid mengingatkannya.



Ia menyetil senar gitar diiringi lengkingan jangkrik, gumaman kodok, dan lenguhan dorbia. Kini ia mampu bernyanyi dalam tempurung sunyi. Namun segala lamunannya robek tersayat gemuruh gesekan udara oleh pesawat jet di atas rumahnya. Tempurung sunyi makin melantunkan bahasa sunyi yang sejatinya tatkala sahabatnya sedang tak ada di sisinya.



Mulutnya terasa lidas menyairkan bait-bait berjudul Asap Rokok. Syair tanpa kata, tanpa diksi.

"Apa yang kau cari, Hans?" Bisikan bertanya dari telinga kanannya.

"Kebahagian," jawab hatinya.

"Bukankah engkau belum mengosongkan tempurung sunyi untuk kau isi dengan kebahagian dan kesedihan."

"Aku belum sanggup. Aku masih terlalu hijau."

"Maka dengan begitu kebahagian dan kesedihanmu takkan pernah bersandar pada penciptanya."



Lengkung senyum dan deret gigi kinclong tergambar di paras Hans dan Rasyid Minggu terik ini. Bagaimana tidak. Hans--tentu saja Rasyid kecipratan--memenangi undian berhadiah televisi LCD 32" yang disponsori perusahaan susu tersohor.

"Alhamdulillah, selama setahun gue ikut bersepeda di jalur car free day, akhirnya gue dapat hadiah, hahaha," tawanya girang.

"Alhamdulillah, itu rezeki ente. Bagi ane dong... kan ane yang maksa ente berangkat subuh tadi," tagih Rasyid mengharap.

"Oke deh. Padahal kalau kita menang BMW itu kan bisa untuk investasi. Modal UMKM."

"Sudahlah, yang itu kan rezekinya Bram.



Laju sepeda mereka melesat kencang tak terkendali menghantam pantat sedan luks di tikungan curam. Mereka terhuyung, ambruk ke aspal. Mengeluh, meringis, mengutuk tumpah ruah dari mulut mereka. Sang pemilik menghentikan sedannya, turun, kemudian menghampiri mereka.



"Bram," sapa Hans terkejut.

"Hans. Kalian perlu ke rumah sakit?"

"Oh tidak! Cuma lecet dikit dan untung pakai helm," tolaknya pura-pura gagah.



Mereka tergesa-gesa mengangkat sepeda yang tergolek lesu. Jok telah diduduki, pedal siap dikayuh.

"Hans, kamu baik-baik saja?" tanya seorang wanita ayu yang baru keluar dari jok depan. Mukanya cemas dan maras. Parasnya masih alami. Dialah pujaan hatinya yang dulu. Ya, ketika dulu.



Jakarta, 18-21 Oktober 2011

Kamis, 06 Oktober 2011

121. Kembalikan Nyawaku...! (secangkir cerpen rasa darah)


Nyaris tiap hari janda tua itu mengolok-olokku. Bujang lapuk. Bujang busuk. Bujang buluk. Kalau sudah begitu akan kukumandangankan sumpah terkutuk yang isinya tak perlu muluk-muluk. Cukup agar ia menderita penyakit batuk. Dengan begitu, aku bisa hidup lebih khusyuk.



Ya, aku juga mungkin salah. Pada usia 37 di ambang petang, diriku masih membujang. Ini prinsipku—tepatnya terpaksa karena jodoh selalu menjauh. Jadi janganlah kalian menasihatiku, menyindirku, lebih-lebih menghinaku dengan label bujang uk uk uk. Maka dengan mantra yang bersumber dari mulutku yang sakti dan bertuah, dijamin mereka kan pasrah dan menyerah.



“Eh Bung Rayno, bengong aja! Mana kuitansi pembayaran iklan radio periode minggu lalu?” bosku menghardik.



Aku gelagapan. Aku selalu lupa menaruh kertas itu setelah menerimanya dari account executive klienku.



“Maaf, Pak, nanti saya cek di arsip.”

“Hmm, baru hal sepele sudah lupa. Bagaimana kamu bisa jadi calon suami nanti. Memang kamu lebih cocok jadi bujang buluk, hahaha,” tawanya menjatuhkan.







Malam ini aku melepas penat di mall. Kutinggalkan prinsip di meja kerjaku, dan kini waktunya untuk menjamah wanita-wanita ramah. Bertemu dengan golongan manusia glamor, walau terkesan menor.



Aku masuk ke sebuah kedai kopi. Kupesan cappuccino whipped cream. Aku melakukannya sebab terpancing oleh keanggunan seorang wanita di situ. Gaun merah yang ia kenakan sungguh aduhai, meski di mataku tampak lebay.



“Hai, sendirian saja.” Aku pindah. Duduk semeja dengannya.

“Iya, Mas.”

Wow, mas. Aku memang lebih tua darimu, namun sebut saja aku pria matang. Ibarat buah matang yang belum dipetik. Petiklah diriku, makanlah aku.



“Perkenalkan, namaku Rayno.”

Kuulurkan tangan. Kuangsurkan nama. Tetapi mukanya sekecut jeruk purut. Cemberut. Kusut. Mengkerut.



Taksi menurunkanku di pintu gerbang ini. Malam kian menyepi sunyi digenapi jangkrik yang bernyanyi. Aku semakin sakti mandraguna. Aku semakin ringan berjalan dalam lorong kegelapan. Kegelapan dalam 20 tahunan. Di sinilah kutemukan tempat persemayaman yang paling nyaman.



“Wajahmu tampan, tapi menjadi bujang sungguh kerasan. Saya pikir kau menyukai pria yang jika malam menjadi waria.” Leceh janda itu lagi saat kami bersitatap dan bersitegang di sebuah gang.



“Terima kasih, Mak. Semoga batukmu membuat hidupmu tenang selama-lamanya.”



Ketut sekonyong-konyong mengguncang bahuku. Ia tergopoh-gopoh. Ia mengabarkan padaku:

“Ray, anak Pak Bos Romo, si Aditya, kecelakaan. Ia kritis. Dia di ICU sekarang. Kalau sudah seperti ini, rencana outing kantor bakal diundur.”



Aku tersenyum sinis. Aku semakin mantap berjalan di lorong yang hitam. Inilah kesaktian yang sudah paripurna dari ribuan geram. Lantaran sengkarut dendam, hidupku mesti kuanyam meski kelam. Pekatlah hitam yang bercumbu dengan malam.



Dalam termenung, aku kerap kandas mendapatkan pasangan. Apa pasal parasku ini mirip setan. Maka jadilah setan yang bergentayangan. Menggerayangi hati wanita yang merah tercabik-cabik dan berdarah.



Jarum jam merambat pada dimensi yang bulat. Menjumlah waktu yang cuma satu. Dari situ, lantas di ujung selimutku tepat di kuku bagai ada yang memaku. Belaian angin bikin telapakku dingin. Bukalah mataku. Sambutlah tamu itu. Seorang wanita yang kukenal dulu. Bibirku telah kelu. Kutatap parasnya tampak pilu. Ia membawa dendam yang belum lunas bersama sorot matanya yang pedas. Aku menciut. Aku mengkerut. Wajahnya berdarah, bernanah, dan marah.



"Kembalikan nyawaku...!"

"Pergi kau wanita dingin!"



"Nyawamu sudah putus di eskalator karena kepongahanmu!"



Ia merayap di atas selimutku perlahan. Aroma horor yang menyengat bertebaran. Aku sungguh menggigil kedinginan. Hidungnya mimisan. Aku tak lama lagi bakal pingsan.



Aku terbangun dari mimpi buruk yang hiruk pikuk tatkala mentari berkobar di ufuk. Semalam adalah perjumpaan antara bujang lapuk dan setan terkutuk. Biarlah ini hanya ujian agar jiwa gelapku terbentuk.



Sudah begitu lamanya aku memuja setan tanpa ragu. Baru kali ini aku dapatkan sebuah ilmu baru. Terik nanti hendak kujungkirbalikkan truk pengangkut kayu.



Siang menjelang pukul satu. Aku mencegat di jalanan berliku. Kulihat ada truk yang tengah berpacu. Lekas kurapalkan sebait mantra sumpahku yang padu. "Demi nama setan yang bercawan-cawan kegelapan, akan kupersembahkan setetes darah segar dari pengemudi truk itu yang sedang melaju. Binasalah!"

Sontak kendaraan itu oleng dan menghantam pohon beringin.



Alamak, cepat nian. Mengerikan. Mengharukan. Dan memuaskan.



"TOLONG, MAS! ADA KECELAKAAN!"

Seorang bapak menyeruku seraya berlalu. Kupandang banyak orang lalu lalang. Menolong, lebih tepatnya menonton sopir yang malang.





"Rayno, kau Muslim, tapi tak sekali pun kulihat kau shalat. Sesungguhnya apa yang terjadi?" Ketut menyemburkan pertanyaan itu ke mukaku.



Aku bersembunyi menuju gudang sekolah. Aku dilahirkan sebagai anak yang kudu mengalah. Digunjing teman-temanku pun pasrah. "Rayno anak pungut, haram jadah! hahahahah!" Dan aku tumbuh berkembang sebagai remaja yang gelisah. Terjajah.



"Hai anak Adam, aku mau dan mampu menolongmu." Aku mendongak ke langit-langit gudang. Tampak setan Lucifer terbang melayang. Suasana kian tegang. Membuatku kejang-kejang.



"Tenang anak Adam. aku bisa menganugerahimu kekuatan supaya mereka tak menyakitimu lagi."

"Apa itu Tuan Setan?"

"Sebutlah namaku dan kerajaanku, lalu kutuklah mereka dengan sumpahmu. Dan bersyarat."

"Apa syaratnya Tuan Setan?"

"Hahahaha." Ia terbahak menang.

"Yaitu, ikutilah aku jalan yang gelap dan jauhilah seruan Tuhanmu yang riuh di mana pun."



Ketut mencengkram kerahku dan mengangkat dadaku. Matanya tajam dan dalam. Napasnya mengejar waktu. Namun ia bergemetar melakukan semua ini.



"Kembalilah, hai penyembah setan!" Ia mengaum bak harimau bali.

"Aku tak bisa. Aku tak mau melanggar janji. Aku nyaman hidup dalam kegelapan tanpa harus dibuntuti oleh bayang-bayang semu. Aku merasa lebih kuat!"

"Kau brengsek. Kuantar kau ke ustad bijak."



Ia menjinak. Matanya tiada lagi membelalak. Walau anjurannya lumayan menyentak.



"Aku tak suka dengan ustad. Antarkan saja ke paranormal, yang lebih paham okultisme."



"Jika sampai ada lebih dari tiga arwah atau manifestasi dari orang-orang yang kau kutuk lantas minta dikembalikan nyawanya dan kau tak mampu, maka kau yang akan melunasi dengan nyawamu sendiri." "Kenapa bisa, Pak?" tanyaku pada paranormal berpeci yang pernyataannya menggalaukan hatiku.

"Karena kau telah bersekutu dengan setan yang menipumu dan menginginkanmu agar mati dalam kekafiran. Juga semakin banyak arwah yang balas dendam dengan menagihmu hingga membuat jiwamu makin lemah dan bisa mati. Maka berhentilah mengutuk dan kembali ke jalan Tuhanmu."

"Baiklah, Pak."



Aku pulang dengan jiwa yang teduh. Tiada lagi di dada ini gulungan gemuruh. Segalanya telah luruh. Lenyaplah berbagai keluh.



Mobilku ditabrak dari belakang. Sudah tentu pelakunya sopir jalang. Ia tak suka melihatku girang. Ia mendahuluiku di kiri. Sebuah truk. Truk yang kukenal. Gelap. Masya Allah, tanpa sopir. Truk hantu. Aku berakselerasi cepat menghindari arwah keparat. Alih-alih tertinggal, truk itu menghalangiku di depan. Segera kuberbalik namun mesin mendadak mati. Kepepet. Terdesak.

"Hey keluar kau setan bejat, belum tahu rasanya kulumat!"



Aku menunggu dengan cemas. Uh naas. Dahulu aku yang mempermainkannya kini aku yang dipermainkannya. Seharusnya aku belajar ikhlas yang bilamana dihina tak berubah beringas. Pertanyaan besar bahwa aku seorang pengikut setan. Akan tetapi bukan berarti aku bebas dari teror setan. Bukan. Bukan karakteristik setan. Mereka hanya jin ataupun arwah penasaran. Kurang lebih begitulah terminologi yang berlaku di pasaran.



Kucuri pandang. Ada yang duduk di jok belakang. Aku tegaskan lewat spion tengah yang terpasang. Bulu-bulu romaku yang panjang mulai tegak menjulang.



Aku panik. Buka pintu terkunci. Macet. Najis dan menggelikan saat matanya copot beserta darah di mukanya.

"PERGI KAU SETAN TERKUTUK!!!"

"Kembalikan nyawaku...!"

"Waa... tidak!"



Aku menangis disoraki rinai gerimis. Peluh menyemburat dari kulit ariku yang tipis. Kudengar di saat kritis ini hantu itu cuma mendesis. Aku jiper parah sampai terpipis.



Semua kukerjakan disambi menyalakan mesin yang belum juga hidup. Sebab sial aku terperangkap di mobil yang tertutup. Gendengnya arwah itu meniup-niup rambutku hingga menguncup. SUDAH CUKUP!!! Teriakku pasrah merasa sudah tak sanggup. AKU TAK SUDI SETAN ITU MENGECUP!!!



Mesin langsung menyala. Seketika kupacu tanpa ragu. BRRUUMM...!!!

Aku plong. Lega. Sejuk. Makhluk brengsek itu raib. Ini hal yang ajaib.



BUUGG!!! Mobilku menabrak sesuatu saat cuma dua detik aku menoleh ke belakang. Sepertinya aku menabrak orang. Atau jangan-jangan kucing berbuntut panjang.



Aku bangkit untuk menolong korban yang sekarat. Tubuhnya menghadap ke barat. Dari wajahnya terpancar darah merah pekat. Tergambar derita yang tersurat. Aku sudah mendekat.



Aku memangku kepalanya di pahaku. Tercekat. Merinding lagi. Berkeringat lagi. Menangis lagi ketika sadar korban ini wajahnya persis Aditya, anak bosku yang wafat dua hari lalu. Bukan. Cuma mirip. Tenangkan jiwamu, Rayno...



"Kita ke rumah sakit!" Aku mengangkatnya dan hendak kubawa ke mobil. Tapi apa dikata apa dinyana. Tak kutolong mungkin ia mati. Namun kubopong beratnya kayak seribu pocong.

"Siapa namamu?"

"Aditya bin Romo."

"APPAAA?!"

"Kembalikan nyawaku...!"



Aku membuka mata mendapati diriku di dalam kamar. Bersamaku, sebuah lampu pijar yang berpendar samar. Aku sadar berada di sebuah kamar sobatku yang sabar.



Ia masuk. Sinar matanya sejuk. Perawakannya gemuk sebab ia penggemar nasi uduk.

"Kursemangat!" membaca mantra.

"Hahahaha..."



Aku segera paham maksudnya. Ia duduk di tepi kasur. Kami bercengkerama tentang apa yang membuatku semaput tadi malam. Hanyalah ia, seorang sahabat yang tak jenuh mengingatkanku supaya kembali ke jalan yang terang.



"Tadi pagi buta saya ke rumahmu."

"Tanpa izin?" aku curiga.

"Tanpa izin mencuri kunci rumah di kantongmu. Tanpa izin masuk ke rumahmu, ke kamarmu, hanya untuk mengambil ini." Ia menunjukkan sebatang flashdisk. Dahiku mengernyit, lalu mengangguk.

"Yup, di situ ada file Power Point yang belum diselesaikan buat rapat nanti siang di fPod."

"Ayo mandi. Berangkat!"

"Siap bos."

"Tunggu, Rayno. Habis subuh ke rumahmu tadi, ada tetanggamu yang meninggal."

"Siapa dia."

"Aku buru-buru. Tapi ia seorang janda."

Info darinya membuat tekanan darahku anjlok.



Aku menarik bajunya hingga ia pun terjungkal dan menindihku.

"Kamu ingin memerkosaku?"

"Aku ingin mati."

"Berapa banyak lagi yang akan menagihmu. Kamu memang setan, Rayno!"

"Ini terakhir. Janganlah arwah itu mengetuk pintu rumah ini dan menagih nyawa padaku."

"Bayar saja! Apa kamu takut mati, wahai setan pengecut!"



Aku tercenung. Jiwaku benar-benar terpasung. Di antara bulan-bulan yang menjadikanku murung. Laksana burung dalam sangkar-sangkar kabung.



"Ketut, lindungi aku..."

"Mintalah perlindungan pada Tuhanmu! Bukan aku. Bukan Lucifer. Kembalilah padaNya, Rayno..." Ia bersungut-sungut.



Malam telah menjelang. Purnama bersinar cemerlang. Beberapa punguk melintas terbang. Merintih di selembar cabang. Kabut kesunyian mengendap di antara ilalang. Begitulah irama sebait lagu malam yang menggigilkan seorang bujang. Aku masih di rumah Ketut, belum pulang.



Aku belum bisa tidur. Sementara di kamarnya, Ketut tak lupa mendengkur. Di ruang tamu, aku memilih tontonan yang menghibur. Yaitu Barclays Premier League antara Arsenal versus Tottenham Hotspur. Alih-alih menghibur, pikiranku melantur. Kabur. Hancur.



Aku spontan melompat kala lampu sekarat. Mati sendiri. Kupandang ada bayangan berkelebat. Kumatikan televisi. Lantas lampu hidup kembali.

Tok-tok-tok!

"Siapa itu?" Hening. Tiada jawaban. Diam. Mencekam. Seram.



Tok-tok-tok! Lagi. Neon mati kembali. Iseng. Usil.

"Siapa sih, kurang kerjaan banget!"

Setelahnya aku merinding lagi, mendidih lagi, berkeringat lagi.



Serta merta pintu terdobrak. Terbanting. Disertai angin dingin yang kering. Aku menutup wajahku dengan bantal sofa. Merinding lagi, mendidih lagi, berkeringat lagi, dan menangis lagi saat kuyakin dia adalah Mak Jumi, janda yang mangkat kemarin subuh.



Aku tak mampu kabur dari ruang tamu. Kaku dan beku. Tubuhku bagai ditahan ribuan paku. Aku berharap Ketut bangun dan menggendongku.

"Rayno..." Oh tidak.

"Maafkan aku, Mak Jumi. Aku telah mengutukmu jadi menderita batuk sampai merenggut nyawamu. Maafkan aku, Mak Jumi," lirihku. Aku mengintip keangkeran paras pucatnya di depan pintu.

"Kembalikan..." Kusumbat telingaku.



JEEGGAAARRRR!!!

Aku terpental mendengar ledakan bom. Dan aku masih hidup. Ternyata hantu Mak Jumi meledak. Kenapa? Bagaimana?



Di balik kepulan asap ledakan, tergambar siluet Tuan Setan. Ia tegak bersama pedang yang dihunuskan. Pedangnya ia jatuhkan ke lantai dan berubah jadi ular berkulit keemasan. Jubahnya tertiup angin dan berkibar perlahan-lahan.



Tuan Setan datang dengan kekuatannya melepaskan mala bahaya. Ia menggenapi tiap-tiap dendam yang kelam.





"Siapa yang kau sembah, wahai anak Adam?"

"Yang mulia dengan nama Tuan Setan, engkaulah yang aku sembah."



Aku bersimpuh di hadapannya. Bersujud ragaku. Bersujud jiwaku. Bersujud hatiku.

JEEEGGGGAAARRRR!!!



"Ya Tuhan! Rayno! Rayno! Kenapa kamu?!"



Jakarta, 1-5 Oktober 2011

Jumat, 12 Agustus 2011

120. Mengejar Masa Lalu


kemarin kita tertawa bersama
kemarin kita menangis bersama
aku mengajarkan padamu
bagaimana menyembunyikan cahaya
kau mengajarkan padaku
bagaimana menjadi laki-laki sempurna

kini kita terpisah
takdir menjauhkan raga kita
dinding-dinding udara menghempaskan semua impian kita
kita terpental di radian yang berpunggungan
dinding-dinding udara menghempaskan semua impian kita
kita terpental di radian yang berpunggungan



kau berlari cepat bak Usain Bolt
kau juga cepat menuju finis
meraih separuh harapanmu
hanya bayangan hitamku yang menyusul di belakangmu
terlambat sepersekian ribu detik

kau telah pergi, sobatku
kau telah sanggup menyembunyikan ratu cahaya
sebagaimana yang dulu kuajarkan padamu
kepada siapa lagi aku belajar menjadi laki-laki sempurna

masih ingat saat mulutmu yang bau asap kretek
kau membisikkan ke telingaku
"Jadilah laki-laki yang sempurna, bukan hanya sejati."

masa lalumu tertinggal di buku harianku
masa laluku tertinggal di seragam sekolahmu
masihkah kau menyimpan bajumu?

aku kan mengejarmu, kawan
sekencang A1 milik Rio Haryanto
melintasi sirkuit di Spanyol



kau kan tertinggal, kawan
jauh... nan jauh... menyeberangi Selat Gibraltar
sekarang lebih baik aku yang tertawa
nanti kita tertawa bersama lagi
dan kubisikkan dari mulutku yang bau bir pilsener ke telingamu
"Jangan hanya menyembunyikan ratu cahaya, ambillah sumber cahaya."
Kau pun berkilah, "Aku tak percaya pada ucapan orang yang mabuk!"

From my diary,"Pamete" 25 November 2010

Selasa, 26 Juli 2011

119. Hujan Batu


Hujan batu yang berselerak bergemuruh geledek di dadaku
Tombak malaikat maut menghujam dada-dada kalian
Fosil-fosil itu telah membatu, mengeras menggigil oleh suhu waktu

Rau sarau!
Tak ada ruang berwaktu
Rintihan aku dan kamu takkan pernah menjuarai desau angin

Lantas apa yang kau kehendaki jikalau kepalamu harus tertunduk siku
Bacalah sabda itu
Tulisan kursif itu buatmu merasa apa?
Aku tak bisa merasa, hanya membeda: benar atau salah

Kolt mereka tergigit di mulut suci mereka yang getol berzikir saban pagi hingga malam, dari hati sampai gigi mereka keram

Aku meyerah saja, sayang…
Kau mau apa? Kok kepala batu sih!
Aku ingin mabuk dan mengawang-awang
Wow, indahnya kiswah di negeri Arab itu
Aku hendak ke sana dan belajar jadi kaum munafik yang kerap alpa bermuhasabah
Ngomong-ngomong muhasabah, di mana ya kuletakkan syahwatku saat hujan batu turun di kampung tetanggaku?

Kirjah dosa dosa kirjah
Kau takut akan dosa, cinta…
Bukankah itu indah sekali, maduku…
Pak ustad kami yang berjenggot , tampan, lulusan negeri Piramid, bergamis dan berpeci saat di masjid pernah bilang: dosa adalah ibu kandung kesengsaraan dan pemutus rahmat

Magrib itu kami bergetar sampai muka kami berpelukan dan terisak sesenggukan
Kau menelan air mataku nan rasa umami
Kami pun terbahak lagi tatkala menonton kethoprak di Taman Ismail Marzuki

Kau telah pergi…
Keparat! Kirbatku tertinggal di rumah roti keju itu

Jangan menoleh ke belakang dengan cinta, sayang…
Aku baru saja pulang dari masjid pak ustad itu sesaat setelah kalian berdua ditandu
Jubah tegarummu berkibar oleh sepoi doa dan restu

Tak perlu menengok diriku
Aku tengah payah menggendong anak kandung yang lampau ibunya sering kami tiduri

Diary “Be a calm man”. 22-07-2011

Jumat, 22 Juli 2011

118. Jerawat Oh Jerawat...


jerawat ialah sahabatku yang sudah pulang ke Cirebon
jerawat oh setia padaku semasa SMK
jerawat oh jerawat

aku masih ingat
kalian menempel di wajahku tanpa SIM (Surat Izin Menempel)

tanya saja pada kawan dan guruku
Apri, Edward, Didi S, dan Pak Rolly
mungkin mereka berbisik amit-amit dalam sanubari

manakala aku ke toko buku
ada cewek yang mendekatiku
aku malu dengan wajah rombengku
lalu kututup mukaku pakai majalah Bobo

lantas aku terbang ke pasar super
aku genggam produk antijerawat
aku selalu beli
mahal!
sampai tak jajan dan kelaparan
kemudian aku turun 1 kg saat ditimbang di posyandu

ah periblis dengan Riobe, Sulfur, Bersih & Cemerlang, Bunga Tulip
tetap saja jerawat nongol

roman-romannya formula farmasi produk mereka dirancang kurang ampuh
ya jika ampuh jerawatu hilang
bilamana hilang lalu aku tak beli produk mereka
apabila produk mereka tidak aku beli, ya perusahaan mereka gulung tikar
aci-aci gulung tikar maka jajaran direksi, manajemen, staf, dan buruh pabrik mereka enggak bisa kerja
jumlah pengangguran akan melonjak
dan mereka jadi beban negara

seandainya negaraku bangkrut
terus aku tinggal di mana?
di Republik Rakyat Kongo? Turmenistan apa? Atau di Kepulauan Barbados?
lebih baik aku hidup di Kepulauan Solomon...
bersama Doraemon sembari melayang dengan balon

suatu siang yang bertabur cahaya surya di lorong kelas, Bu Anita yg killer berujar tengik, "Jerawat sampai gak bisa parkir (di muka, karena sudah penuh)."
sesampainya di rumah aku menangis terbahak-bahak
aku terluka
aku ngesot saja ke dapur
kuraih tiga siung bawang putih
kuparut dan kububuhkan di muka
masker ini panas nian, alamak... rasanya mukaku digampar Malaikat Jabaniyah

namun demi Allah yang nyawaku ada dalam genggamanNya
aku mencoba ikhlas dan tawakal dalam menghadapi ujian ini
aku selalu berdoa dan berusaha
meski aku merana
aku percaya, ujian ini akan berakhir
badai pasti berlaluuuu (nyanyi)

hingga pada suatu masa
aku dengar iklan produk sabun antijerawat terbaru di radio Prambors yang penyiarnya Imam Darto
yeah... mama mia
mereknya Tambatan Hidup: Kulit Cemerlang

tanpa basa-basi aku lompat ke Indoapril, tuing tuing
aku dapat! murah bu... cuma 3.500 perak
kan kalau Bunga Tulip Rp 15.000
hanya dalam 2-3 minggu legium jerawat terpukul mundur dibombardir proyektil
hingga keluar Jakarta (kini Cirebon)

mukaku yang dulu bak kulit kodok bangkong
kini cemerlang bagaikan pengantin keraton yang pakai blankon
Alhamdulillah, wajahku bercahaya
ini sebab karunia Allah yang memberikan ketampanan di parasku ^_^

jerawat oh jerawat
kembalilah ke Jakarta dan kota-kota lain
benteng pertahanan sedang lemah
selemah hati para penduduk kota
yang kerap uring-uringan
perihal asmara di status FB dan Twitter mereka

From my diary, "Be a calm man". July 20, 2011

Minggu, 10 Juli 2011

117. Sepuluh Orang yang Dilaknat Rasulullah SAW sebab Khamar


Terinspirasi dari obrolan antara saya dan Imam Samudra II pada statusnya (Facebook). Yang mutual friend dengan dia, pasti sudah tahu.

Nah, dari ide obrolan yang spontan itu, saya akan memfiksikannya kembali. Iseng aja, sudah enam bulan enggak nulis notes. Kok lucu ya ^.^. Sekalian dakwah yang lucu kayak alm. KH. Zainudin Mz.



Di sebuah masjid yang megah berkubah emas, terdapat seorang ustad yang sedang memberikan tausiyah kepada muridnya yang bodoh. Sang ustad yang bernama Imam Samudra (Pasifik kali yee, wkwkwk, bukan teroris ya) membacakan sebuah hadis pada muridnya si Abu Waswas (roman-romannya cicitnya Abu Nawas).



Dengan jenggotnya yang menari-nari dibelai angin dari AC, sang ustad berujar, "Rasulullah saw bersabda, aku melaknat 10 orang yang berkenaan dengan khamar (minuman beralkohol), yaitu orang yang memerasnya, orang yang minta diperaskan, orang yang meminumnya, orang yang membawakannya (menghidangkannya), orang yang dibawakan ,orang yang menuangkannya, orang yang menjualnya, orang yang memakan harganya (uang hasil penjualan) ,orang yang membelinya, dan orang yang minta dibelikan.(HR.Tirmidzi,Ibnu Majjah).

Sekarang ente paham, Abu?" selidiknya pada Abu Waswas, yang malah asyik Facebookan dari ponselnya yang boleh dapat dari hadiah kwaci.



"Iya, Pak Ustad Imam," angguknya.

"Baguslah, ente memang cerdas dan tampan," pujinya seraya menutup kitab hadis.

"Kalau ana disambit pakai botol bir, apa ana termasuk yang dilaknat, Pak?"

"Ya tidak dong, paling endasmu yang benjol, hehehehe ^_^," guraunya.



Seekor kecoa mengintip obrolan mereka dari kusen masjid. Kecoa itu tersenyum mengamati keakraban antara guru dan muridnya di senja yang jingga, saat kumandang azan akan segera menggema di langit Jakarta.



"Pak Ustad Imam, tanya dong, kenapa ana disambit botol bir?"

"Memang kenapa murid ana yang baik dan saleh ini disambit botol. Yang nyambit dilaknat Allah," belanya.

"Karena habis minum bir, ana enggak bayar, langsung kabur."

"@#(*&^!!*^#7&41," Pak Ustad pingsan.

Minggu, 02 Januari 2011

116. Pembalasan Anak-Cucu Iblis (Tulisan Terakhir)

Walau ini tulisan terakhir, namun Abu Waswas (?AnTo) masih aktif kok di dunia maya, misal di Facebook dan Twitter. Ya cuma update status doang sih.

Jam pada tembok mengukur waktu 5 subuh. Pintu rumah saya diketuk-ketuk oleh seorang tamu. Ternyata ia adalah sopir angkot KWK yang memanggil papa saya. Ia memohon agar papa saya menemaninya mengambil mobilnya yang ditambatkan di pohon randu. Mengapa mohon ditemani? Karena kemarin ia ditakuti oleh kuntilanak di pohon pisang. Apa sebab? Lantaran ia kencing sembarangan di pohon itu. Uh... SERAMBI BU!!!(seram). Halah, dasar lelaki! Jangankan air seni, air mani pun disebar sembarangan. Hobi bertualang seks maksudnya. Bisa-bisa tertular virus (HIV), kemudian menularkannya ke istri dan anak-anaknya. Saya benci lelaki! Lho? Saya kan juga laki-laki. Pasti Anda bertanya, masihkah saya perjaka? Aduhai, pertanyaannya bikin pipi saya merah merona.

Dari Abu Tsa'labah Al Khusyani, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
"Jin itu ada tiga macam. Jenis yang bersayap, dengannya mereka terbang di udara; jenis ular dan anjing; dan jenis bermukim dan berjalan." (HR. Baihaqi dan Al Hakim)



Barangkali Anda pernah membaca, mendengar, dan mengalami sendiri kencing sembarangan lalu dibalas oleh makhluk halus. Ini ekstrem. Saya pernah baca di Kompas, ada seorang dosen yang pipis di sungai, kemudian ia bagai dibopong makhluk nirwujud dan diceburkan ke sungai. Fortunately, his driver helped him.

Saya sih sering pipis di sembarang tempat, apalagi kalau kebelet kelamaan di mobil dan jauh dari WC. Enaknya jadi cowok, bila pipis darurat tinggal menghampiri pohon, dan cuuurr.... Lega bu. Bagaimana kalau saya perempuan coba? Kalau pipis di pohon, sudah pasti diintip oleh tukang ojek. (ngarep!)

Lain soal jika yang kencing sopir angkot dan kenek kopaja. Kala saya naik kopaja di Sunter, keneknya kencing di ban belakang ketika lampu merah. Tatkala lampu hijau berkedip, si kenek teriak, "WOI, TUNGGU! GUE LAGI KENCING TAHU...." Alhasil, ia pun kencing sembari berlari. Maka peribahasa lama mesti kita ganti menjadi,"sopir kencing berdiri kenek kencing berlari". Kendati peristiwa itu sudah empat tahun silam, tetap saja paling lucu dibanding adegan dalam film Warkop DKI. Hwa... ha... ha....

Menurut saya, gangguan kuntilanak dan makhluk nirwujud pada alinea awal adalah bermula dari manusia/insan yang tanpa sengaja membuang najis ke dirinya. Jasad bangsa jin, setan, dan malaikat adalah materi halus--jin dan setan tercipta dari api, sementara malaikat tercipta dari cahaya--sehingga tak kasatmata oleh manusia. Kecuali para nabi, paranormal, pemilik indera keenam, dan sebagian anak-anak nirmala (belum berdosa). Dan saking halusnya, jasad mereka dapat ditembus oleh cahaya; apalagi cahaya surya (siang). Tak heran kalau mereka (jin) lebih suka tampak pada kegelapan malam. Untuk menampakkan diri, mereka perlu energi yang sangat besar. Bisa dianalogikan mereka membutuhkan ribuan kalori atau joule. Makanya mereka jarang nongol, kecuali perlu-perlu amat. Seperti terganggu insan atau keinginan mereka menunjukkan eskistensinya. Kalaupun harus menggoda insan, toh mereka tak harus berwujud nyata. Cukup dengan bisikan-bisikan setan yang menyesatkan iman insan hingga akhir zaman.

Dan Allah berkalam: "Sesungguhnya setan dan para pengikutnya itu melihat kamu dari tempat yang kamu tak bisa melihat mereka." (QS. Al A'raf: 27)
Naga-naganya, mereka pakai jubahnya Harry Potter.

Insan yang kencing seenaknya tapi tak dibalas oleh jin, bisa berarti spot tersebut bebas jin (clear area). Atau bukan jin berkarakter setan. Nah, apa bedanya antara jin dan setan? Jin itu ada dua kelompok: kelompok setan-setan yang jahat dan kelompok jin yang saleh. Bangsa jin sama dengan bangsa insan; ada yang saleh, ada pula yang suka maksiat. Baca Al Quran Surat Al An'am ayat 112. Lantas, apa bedanya antara setan dan iblis? Al Hasan Al Basri bertutur, Iblis pun asalnya jin, sebagaimana Adam asalnya manusia. Berkata pula Az Zuhri, Iblis itu dari jin. Iblis ialah bapaknya jin, sebagaimana Adam dari manusia, dan Adam adalah bapaknya manusia.

Dahulu sebelum Allah memberi mandat pada Adam sebagai khalifah bumi, Iblis (single) masuk dalam jajaran martabat malaikat (plural), karena ketekunan Iblis dalam beribadah pada Tuhannya. Begitu Allah menciptakan Adam dan memerintahkan malaikat dan Iblis untuk memberi hormat pada Adam, hanya Iblis yang menolak sebab keangkuhannya. Iblis merasa paling senior dibanding Adam yang junior. Lantas Allah mengutuk Iblis dan mengeluarkannya dari surga, atau menurut tafsir Syeh Abdul Qadir Al Jilani adalah Iblis dikeluarkan dari jajaran martabat malaikat. Demi keagungan dan kekuasaan Tuhan, Iblis dan beserta pasukannya berjanji akan menyesatkan manusia, kecuali mereka yang ikhlas. Tengok Al Qurn Surat Shaad ayat 82-83 dan Al Kahfi ayat 50.

Dapat disimpukan bahwa Tuhan mengeluarkan Iblis dan mengutuknya hanya dengan satu dalih: melanggar perintahNya untuk sujud pada Adam. Iblis yang telah ribuan tahun beribadah tekun pada Tuhan, langsung dicap durhaka hanya karena satu kali melanggar perintah Tuhan. Sudah berapa banyakkah perintah Tuhan yang kita langgar selama (tiap) satu tahun? Lebih baik simpan saja jawaban itu dalam relung hati kita yang paling dangkal.

Dalam buku terjemahan karya Muhammad Bayumi, yaitu "Alam Jin dan Setan dalam Pandangan Al Quran dan Al Hadis" ('Alamul Jinni wasy Syayasithini fil Kitabi was Sunnati), Syeh Ibnu Taimiyah memaparkan penyebab gangguan dan kesurupan jin. Ringkasnya, jin itu marah dan dendam. Sebab ada sebagian insan yang tanpa sengaja menyakiti mereka, yang mana oleh jin itu dianggap menyakiti dirinya secara langsung. Misal mengencingi atau menyiram air panas atau membunuh sebagian dari kelompok mereka, walau insan tak tahu hal itu. Karena sifat jin yang zalim dan bodoh, maka mereka membalas dengan hukuman yang terlampau berat

Selama tak sengaja, insan itu tak berhak mendapat hukuman. Apalagi jika ia mengerjakan hal itu, kencing contohnya, di tempat pribadinya sendiri. Sebab semestinya jin itulah yang menyingkir dari tempat insan berada. Jin tak berhak bermukim di domain pribadi insan tanpa izin. Begitupun insan bersangkutan. Dilarang kencing sembarangan di hunian bangsa jin, amsalnya di lubang-lubang, kuburan, sungai, dan pohon yang besar.

Begitulah nasihat ulama besar Syeh Ibnu Taimiyah.

Waduh, saya kalau kebelet pipis kudu mengucur ke botol plastik dong. Bagi Anda yang wanita, bawalah baskom dari rumah dan jongkoklah di atasnya. Weleh-weleh!!!

Dikembangkan dari buku harianku, "Papaku Menggoreng Tempe" (Papi, apa di surga ada tempe?). Tanggal penulisan tahap awal, 31 Oktober 2010

Entri ke-116 blog METRO-POLUTAN

Tulisan horor lainnya bisa dicari di Google dengan kata kunci "Abuwaswas Siluman Monyet Putih ataupun Abuwaswas Kuntilanak Telanjang".

Selama 38 bulan ke belakang, saya sebagai blogger mengucapkan terima kasih kepada Allah yang Maha Cerdas dan Maha Menulis, kedua orangtua yang menyumbang dana untuk menulis, Google blog yang menyediakan rumah situs yang gratis, sang inspirator: Kang Bayu Gawtama dan Raditya Dika, sumber-sumber tulisan dari kamus bahasa Indonesia, bahan-bahan pustaka di rumah (sebagian dijual Mama ke tukang barang bekas), buku-buku harian, toko buku Gramedia (gak beli, cuma numpang baca, ho ho ho); para pembaca dan komentator dari blogger Indosiar, Wordpress, Blogspot, dan Kompasiana; sumber-sumber agama dari redakasi buletin dakwah Masjid Al Hidayah (maaf Pak Ustad Hambali, saya malas ikut majelis), koran Kompas yang tata bahasanya menginspirasi saya, para blogger dan pembaca dari Malaysia (semoga mereka paham bahasa saya yang berantakan), para pembaca dari kiriman email sansanwawa, para komentator dan pembaca dari Facebook yang pada gokil dan absurd, para pembaca dari Twitter, termasuk penyedia gambar/foto, macam allpsoter, sillyart, flickr, dan desainer Denmas Jati Kusumo yang rela mengedit gambar.

Karena saya berhenti menulis, giliran kamu dong yang melanjutkannya. Happy writing... :)