Minggu, 02 Januari 2011

116. Pembalasan Anak-Cucu Iblis (Tulisan Terakhir)

Walau ini tulisan terakhir, namun Abu Waswas (?AnTo) masih aktif kok di dunia maya, misal di Facebook dan Twitter. Ya cuma update status doang sih.

Jam pada tembok mengukur waktu 5 subuh. Pintu rumah saya diketuk-ketuk oleh seorang tamu. Ternyata ia adalah sopir angkot KWK yang memanggil papa saya. Ia memohon agar papa saya menemaninya mengambil mobilnya yang ditambatkan di pohon randu. Mengapa mohon ditemani? Karena kemarin ia ditakuti oleh kuntilanak di pohon pisang. Apa sebab? Lantaran ia kencing sembarangan di pohon itu. Uh... SERAMBI BU!!!(seram). Halah, dasar lelaki! Jangankan air seni, air mani pun disebar sembarangan. Hobi bertualang seks maksudnya. Bisa-bisa tertular virus (HIV), kemudian menularkannya ke istri dan anak-anaknya. Saya benci lelaki! Lho? Saya kan juga laki-laki. Pasti Anda bertanya, masihkah saya perjaka? Aduhai, pertanyaannya bikin pipi saya merah merona.

Dari Abu Tsa'labah Al Khusyani, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
"Jin itu ada tiga macam. Jenis yang bersayap, dengannya mereka terbang di udara; jenis ular dan anjing; dan jenis bermukim dan berjalan." (HR. Baihaqi dan Al Hakim)



Barangkali Anda pernah membaca, mendengar, dan mengalami sendiri kencing sembarangan lalu dibalas oleh makhluk halus. Ini ekstrem. Saya pernah baca di Kompas, ada seorang dosen yang pipis di sungai, kemudian ia bagai dibopong makhluk nirwujud dan diceburkan ke sungai. Fortunately, his driver helped him.

Saya sih sering pipis di sembarang tempat, apalagi kalau kebelet kelamaan di mobil dan jauh dari WC. Enaknya jadi cowok, bila pipis darurat tinggal menghampiri pohon, dan cuuurr.... Lega bu. Bagaimana kalau saya perempuan coba? Kalau pipis di pohon, sudah pasti diintip oleh tukang ojek. (ngarep!)

Lain soal jika yang kencing sopir angkot dan kenek kopaja. Kala saya naik kopaja di Sunter, keneknya kencing di ban belakang ketika lampu merah. Tatkala lampu hijau berkedip, si kenek teriak, "WOI, TUNGGU! GUE LAGI KENCING TAHU...." Alhasil, ia pun kencing sembari berlari. Maka peribahasa lama mesti kita ganti menjadi,"sopir kencing berdiri kenek kencing berlari". Kendati peristiwa itu sudah empat tahun silam, tetap saja paling lucu dibanding adegan dalam film Warkop DKI. Hwa... ha... ha....

Menurut saya, gangguan kuntilanak dan makhluk nirwujud pada alinea awal adalah bermula dari manusia/insan yang tanpa sengaja membuang najis ke dirinya. Jasad bangsa jin, setan, dan malaikat adalah materi halus--jin dan setan tercipta dari api, sementara malaikat tercipta dari cahaya--sehingga tak kasatmata oleh manusia. Kecuali para nabi, paranormal, pemilik indera keenam, dan sebagian anak-anak nirmala (belum berdosa). Dan saking halusnya, jasad mereka dapat ditembus oleh cahaya; apalagi cahaya surya (siang). Tak heran kalau mereka (jin) lebih suka tampak pada kegelapan malam. Untuk menampakkan diri, mereka perlu energi yang sangat besar. Bisa dianalogikan mereka membutuhkan ribuan kalori atau joule. Makanya mereka jarang nongol, kecuali perlu-perlu amat. Seperti terganggu insan atau keinginan mereka menunjukkan eskistensinya. Kalaupun harus menggoda insan, toh mereka tak harus berwujud nyata. Cukup dengan bisikan-bisikan setan yang menyesatkan iman insan hingga akhir zaman.

Dan Allah berkalam: "Sesungguhnya setan dan para pengikutnya itu melihat kamu dari tempat yang kamu tak bisa melihat mereka." (QS. Al A'raf: 27)
Naga-naganya, mereka pakai jubahnya Harry Potter.

Insan yang kencing seenaknya tapi tak dibalas oleh jin, bisa berarti spot tersebut bebas jin (clear area). Atau bukan jin berkarakter setan. Nah, apa bedanya antara jin dan setan? Jin itu ada dua kelompok: kelompok setan-setan yang jahat dan kelompok jin yang saleh. Bangsa jin sama dengan bangsa insan; ada yang saleh, ada pula yang suka maksiat. Baca Al Quran Surat Al An'am ayat 112. Lantas, apa bedanya antara setan dan iblis? Al Hasan Al Basri bertutur, Iblis pun asalnya jin, sebagaimana Adam asalnya manusia. Berkata pula Az Zuhri, Iblis itu dari jin. Iblis ialah bapaknya jin, sebagaimana Adam dari manusia, dan Adam adalah bapaknya manusia.

Dahulu sebelum Allah memberi mandat pada Adam sebagai khalifah bumi, Iblis (single) masuk dalam jajaran martabat malaikat (plural), karena ketekunan Iblis dalam beribadah pada Tuhannya. Begitu Allah menciptakan Adam dan memerintahkan malaikat dan Iblis untuk memberi hormat pada Adam, hanya Iblis yang menolak sebab keangkuhannya. Iblis merasa paling senior dibanding Adam yang junior. Lantas Allah mengutuk Iblis dan mengeluarkannya dari surga, atau menurut tafsir Syeh Abdul Qadir Al Jilani adalah Iblis dikeluarkan dari jajaran martabat malaikat. Demi keagungan dan kekuasaan Tuhan, Iblis dan beserta pasukannya berjanji akan menyesatkan manusia, kecuali mereka yang ikhlas. Tengok Al Qurn Surat Shaad ayat 82-83 dan Al Kahfi ayat 50.

Dapat disimpukan bahwa Tuhan mengeluarkan Iblis dan mengutuknya hanya dengan satu dalih: melanggar perintahNya untuk sujud pada Adam. Iblis yang telah ribuan tahun beribadah tekun pada Tuhan, langsung dicap durhaka hanya karena satu kali melanggar perintah Tuhan. Sudah berapa banyakkah perintah Tuhan yang kita langgar selama (tiap) satu tahun? Lebih baik simpan saja jawaban itu dalam relung hati kita yang paling dangkal.

Dalam buku terjemahan karya Muhammad Bayumi, yaitu "Alam Jin dan Setan dalam Pandangan Al Quran dan Al Hadis" ('Alamul Jinni wasy Syayasithini fil Kitabi was Sunnati), Syeh Ibnu Taimiyah memaparkan penyebab gangguan dan kesurupan jin. Ringkasnya, jin itu marah dan dendam. Sebab ada sebagian insan yang tanpa sengaja menyakiti mereka, yang mana oleh jin itu dianggap menyakiti dirinya secara langsung. Misal mengencingi atau menyiram air panas atau membunuh sebagian dari kelompok mereka, walau insan tak tahu hal itu. Karena sifat jin yang zalim dan bodoh, maka mereka membalas dengan hukuman yang terlampau berat

Selama tak sengaja, insan itu tak berhak mendapat hukuman. Apalagi jika ia mengerjakan hal itu, kencing contohnya, di tempat pribadinya sendiri. Sebab semestinya jin itulah yang menyingkir dari tempat insan berada. Jin tak berhak bermukim di domain pribadi insan tanpa izin. Begitupun insan bersangkutan. Dilarang kencing sembarangan di hunian bangsa jin, amsalnya di lubang-lubang, kuburan, sungai, dan pohon yang besar.

Begitulah nasihat ulama besar Syeh Ibnu Taimiyah.

Waduh, saya kalau kebelet pipis kudu mengucur ke botol plastik dong. Bagi Anda yang wanita, bawalah baskom dari rumah dan jongkoklah di atasnya. Weleh-weleh!!!

Dikembangkan dari buku harianku, "Papaku Menggoreng Tempe" (Papi, apa di surga ada tempe?). Tanggal penulisan tahap awal, 31 Oktober 2010

Entri ke-116 blog METRO-POLUTAN

Tulisan horor lainnya bisa dicari di Google dengan kata kunci "Abuwaswas Siluman Monyet Putih ataupun Abuwaswas Kuntilanak Telanjang".

Selama 38 bulan ke belakang, saya sebagai blogger mengucapkan terima kasih kepada Allah yang Maha Cerdas dan Maha Menulis, kedua orangtua yang menyumbang dana untuk menulis, Google blog yang menyediakan rumah situs yang gratis, sang inspirator: Kang Bayu Gawtama dan Raditya Dika, sumber-sumber tulisan dari kamus bahasa Indonesia, bahan-bahan pustaka di rumah (sebagian dijual Mama ke tukang barang bekas), buku-buku harian, toko buku Gramedia (gak beli, cuma numpang baca, ho ho ho); para pembaca dan komentator dari blogger Indosiar, Wordpress, Blogspot, dan Kompasiana; sumber-sumber agama dari redakasi buletin dakwah Masjid Al Hidayah (maaf Pak Ustad Hambali, saya malas ikut majelis), koran Kompas yang tata bahasanya menginspirasi saya, para blogger dan pembaca dari Malaysia (semoga mereka paham bahasa saya yang berantakan), para pembaca dari kiriman email sansanwawa, para komentator dan pembaca dari Facebook yang pada gokil dan absurd, para pembaca dari Twitter, termasuk penyedia gambar/foto, macam allpsoter, sillyart, flickr, dan desainer Denmas Jati Kusumo yang rela mengedit gambar.

Karena saya berhenti menulis, giliran kamu dong yang melanjutkannya. Happy writing... :)

Tidak ada komentar: