Rabu, 16 November 2011

124. Anak Hujan


Gadis cilik itu selalu bersukacita tiap kali menonton hujan dari jendela rumahnya. Ia juga mendengar nyanyian kodok, denting percikan air hujan, seruling angin, hingga dentum geledek yang malah membuatnya senang. Namun sungguh, bocah 9 tahun itu hatinya pilu, lantaran bapak-ibunya melarangnya bermain dan menari di antara bulir-bulir air rahmat dari langit yang pekat.



"Kamu mandi hujan, kan! Nanti kamu sakit, dasar anak badung!" Ibunya yang baru saja pulang kerja sore itu menyeretnya masuk saat memergoki anak semata wayangnya berjoget genit dalam guyuran hujan.

"Biar saja, nanti bapak pukul!" Kali ini bapaknya yang angkat bicara dengan muka setegang baja.



Gara-gara kejadian kemarin, gadis cilik itu tak lagi bermain bersama grup hujan yang riuh dan menggigil. Dia takut dihardik dan dicambuk gesper oleh bapaknya. Untuk mengusir rasa sepinya di rumah ketika orangtuanya sibuk di luar, ia menunggu kelompok hujan (air, mega, angin, guntur, kodok) dari jendela kamar tidurnya.



Namun pasukan hujan belum juga bertandang. Mereka sedang di kota lain rupanya. Dia makin diselimuti kesunyian usai pulang sekolah. Tak ada kawan barang sekepala pun di rumahnya. Hanya pasukan hujan yang menemaninya saat hanya cuaca mendukung kedatangan mereka. Maka baginya, musim kemarau ialah penantian terpanjang di terminal kesunyian untuk sekadar melihat hujan yang berlalu lalang.

*

Tidaklah sia-sia penantiannya. Petang ini mega segera menghitam dan desau angin menjadi penata awan. Guntur telah jatuh di bukit nun jauh. Butir air perdana sudah tercurah ke burung yang gerah.



Ia singkap tirainya yang lebar. Ia buka matanya yang nanar. Kelompok hujan sedang berdendang dan menari di luar sana. Dentuman petir bagai hantaman simbal. Sepoi angin laksana tiupan seruling. Dan kodok, si diva, bernyanyi melantunkan kidung pujian pada Tuhan. Semua begitu ramai dan megah. Gadis cilik itu tertawa riang dan tak hentinya berjingkrak di balik jendela kamarnya.



"Kemarilah, bernyanyi dengan kami," ajak air hujan yang mendekati jendela kamarnya.

"Aku takut dipukul oleh bapak-ibuku," tolak dia menyesal.

"Aku akan melindungimu." Si angin bicara, menerpa tubuh mungil lagi ringkih milik si gadis itu.



Hujan kian deras dan lama. Pasukannya tambah gaduh senja ini. Volume air di luar tumpah ruah. Selokan memuntahkannya ke hamparan jalan. Sungai kembung dan tak sanggup menelan debit air yang besar. Akan tetapi pasukan hujan belum juga beranjak. Mereka pesta pora bernyanyi dan menari menemani si gadis yang kesepian.



"Keluarlah!" Pasukan hujan serentak menyeru bocah kencur itu untuk bergabung dengan mereka.



Tanpa sangsi, ia berlari keluar, dan disambut tarian dan nyanyian pasukan hujan yang gegap gempita. Kuyuplah badannya menyeluruh. Dia berenang dalam kubangan keruh. Ia berayun-ayun di angkasa bertalikan kawat petir. Lalu jiwanya terbang ke langit dalam timangan angin.

*

Pada awal malam, bapak dan ibunya panik dan cemas menyusuri tiap lorong ruang untuk menemui buah hatinya yang hilang diculik sekelompok pasukan garang. Teriakan dan panggilan miris membahana ke penjuru praja. Waktu mereka yang dahulu mengucur deras, kini cuma menetes detik demi detik dengan malas. Harta yang buat mereka bangga, dalam sekerlip menguap menjadi jelaga.



Sejak saat itu, kedua orangtuanya harus menanti kelompok hujan singgah di kota mereka supaya bisa menyaksikan anaknya menari rancak diiringi musik hujan yang menawan. Terbang melayang bersama angin dan angan. Berduet dengan sang diva dalam dentingan hujan. Dan yang paling menyedihkan bagi bapak-ibunya yaitu manakala anak gadisnya meluncur bebas dari perosotan pelangi. Pelangi yang melengkung di akhir hujan. Setelah pelangi itu memudar, mereka mesti menunggu kelompok hujan mampir lagi ke kota mereka yang tengah dilanda kemarau. Entah kapan.



Dunia Dalam Cerita. Jakarta, 15 November 2011.

Tidak ada komentar: