Minggu, 11 Desember 2011

125. WonderNancy: Jamu Kuat Waria (cerpen superhero)


Malam telah merengkuhi bumi yang menggigil. Telah tiga hari rembulan mati tenggelam rotasi. Tabir-tabir malam yang kelam kian membuat lorong-lorong ruang remang temaram. Begitupun gelapnya hidup Nancy yang dicoba disamarkan dengan make up yang menor.



Di depan tolet berbingkai ukir-ukiran jawa itu, Nancy membubuhkan alas bedak di mukanya yang feminin. Lantas ia menindihnya lagi dengan bedak padat warna emas.



"Eh bo, tahu tinta lekong yang namanya Mas Adam?" (Tahu tidak lelaki yang namanya Mas Adam). Dia bertanya pada rekannya, Angela, sembari menggoreskan pensil alis diiringi eyeliner dan mascara.

"Oh diana yang bawa moblang mersong, yang cucok, yang six pack bo?" (Oh dia yang bawa mobil Merci, yang ganteng, yang six pack). Angela menegaskannya, ia menyemprotkan eau de toilette aroma lily of the valley.

"Embeeeerrr...!!!"

"Diana lucica ya bo, tintah pelita, hahaha." (Dia lucu, nggak pelit).

"Dompetnya lemuk. Pokoknya akika mawar ngesong diana malam indang," tekadnya berkobar. Dipulaslah gincu red coral di bibirnya yang tebal.

"Good luck, yah."



*

Nancy sudah mangkal di taman seperti biasa. Taman yang bunga-bunga merekah warna-warni bak pelangi. Taman yang suram dan panas. Tempat bagi golongan-golongan yang rem hawa nafsunya blong. Dia duduk di sebuah bangku batu yang membisu. Gaun ungu terusan yang hanya sepaha melilit tubuh mungilnya. Menyamarkan lekuk-lekuk tegas khas maskulinitas. Sapuan rona emas di pipinya berkilau terpantul lampu sorot dari city car yang menghampirinya. Dia berdiri seperti menyambut tamunya yang naga-naganya masih brondong. Dan benar masih brondong. Laksana buah mangga mengkal, biarpun rasanya kecut-kecut imut, tapi tetap enak diemut.



Sang calon tamu itu mengedip centil pada Nancy. Nancy tersipu malu dan membuang muka ke sisi kiri. Kemudian dia menatap lagi ke pengemudi brondong itu.



”Say, masuk donk," ajak si brondong itu genit.

"Tintah mawar ah!" (Nggak mau ah!). Tolak dia dengan merendahkan intonasi suaranya. Dia sok jual mahal. Bagaimana tidak? Dia adalah waria primadona di kawasan ini. Dia juga pernah terpilih sebagai juara harapan kontes kecantikan waria di Bangkok tahun lalu.



Si brondong itu keluar dan membukakan pintu untuknya. Mempersilakannya masuk bak putri keraton yang dipingit 40 hari 40 malam. Nancy mendekat dengan langkah gemulai dul megal megol bagai macam luwe. Si brondong menutup pintu dan bergegas ke bangku kemudinya.

"Cantik banget...," puji dia pada Nancy.

"Thanks."



Malam bergerak. Bintang berserak. Cahaya berselerak. Gigi malaikat bergemilitak. Dan setan tertawa berjingkrak-jingkrak.

"Namamu siapa?"

"Nancy Swan."

"Uh... keren! Mirip Elizabeth Swan dan Bella Swan."

"Kalau kamu?" Dia ingin tahu meski jawabannya pasti nama samaran.

"Leonardo. Hmm, nama siangmu siapa?"

"Nandoooooo...," ceplos Nancy.

Leonardo tertawa terpingkal-pingkal. Pun Nancy tertawa lebar-lebar seakan dia lupa menyadari bahwa dirinya lagi berperan sebagai Nancy yang seduktif.



Mobil Leo ditambatkan di dekat kedai jamu yang menyeruak aroma rempah-rempah bubuk. Leo duduk, memesan jamu.

"Yei masih brendy tapi sukria jamu. (Kau masih brondong tapi suka jamu). Anak muda lebih sukria wine," puji Nancy sembari mengelus pahanya. Leo menggelinjang

"Wine kan haram, say...." Nancy tersentak. Jidatnya terjitak. Dia bingung. Bagaimana ada manusia yang menolak satu keburukan tapi menerima satu keburukan yang lain. Menghindari alkohol namun menggemari zina. Keluar kandang serigala, masuk sarang anaconda.

"Kamu pesan apa? Aku jamu kuat pria."

"Hmm... apa ya, Leo?"

"Jamu rapet wangi aja," gurau Leo.

"Ih emang akika wanita!"

Lagi-lagi Leo terbahak-bahak sampai napasnya sesak.



"Bang, akika mawar belalang jamkuwar!" (Bang, aku mau beli jamkuwar). Ia memesan setengah berteriak.

"Jamkuwar apa?" tanya Leo.

"Jamu kuat waria!" Jawaban Nancy terdengar oleh penjual jamu tanpa ia kudu mengonfirmasi apa yang diujarkan Nancy dalam bahasa planet. Planet Derby Sahertian dan pengikutnya.

"Nggak ada, Mbak." Abang penjual jamu itu bimbang juga dengan pesanan calon pembelinya itu. Yang ia tahu hanya ada jamu kuat pria dan kuat wanita. Jamu pasak bumi dan jamu sundul langit. Hingga racikan jamu yang sanggup bikin para janda kembali legit.



Nancy cemberut, parasnya kusut. Sedangkan Leo tengah meminum jamunya beserta air jeruk manis penawar pahit. "Bang, bikin jamu dari setengah bungkus jamu kuat wanita dan setengah bungkus jamu kuat pria." Leo mengusulkan ide brilian.



Nancy menganga. Begitupun si abangnya. Tetapi si abang segera paham usul Leo dan meracik jamkuwar buat Nancy.

Jamkuwar plus telur telah terhidang di hadapan Nancy. Alih-alih diminum, ia mengabaikannya sebab takut keracunan.

"Jamu apa sih ini, Leo?"

"Itu jamkuwar pesananmu."

"Akika takara. Nanti metong." (Aku takut. Nanti mati).

"Nggak. Coba dulu deh.”



Dia menghirupnya, lantas menenggaknya dengan keyakinan penuh dan menyeluruh. Dipejamkan matanya. Namun sekonyong-konyong, wignya mental ke atas. Berikutnya dari tubuhnya keluar getaran kuat seperti gelombang radioaktif; sinar alfa, beta, dan gamma. Dinding-dinding udara yang memadat menghempaskan siapa pun dan apa pun yang ada di sekitarnya. Luluh lantak semuanya. Hancur lebur segalanya.



Nancy menangis sesenggukan. Semua orang tersungkur ke lantai terjauh. Kaca-kaca pecah meriah. Suasana tampak sunyi dan mencekam. Gelap. Lampu-lampu padam terbenam. Insiden tadi terasa amat cepat dan dahsyat.

Leo bangkit dari kolapsnya, mendekati Nancy.



"Nancy, kamu tak apa?"

Nancy masih menangis.

"Kenapa ini? Aku sudah merugikan dan melukai banyak orang," isaknya menyesal.

"Aku yang akan ganti rugi. Ini salahku." Leo ikut menangis. Ia mengangsurkan sapu tangan merah pada Nancy untuk menyeka air matanya yang melunturkan riasannya.



*

Nancy dan Leo masih menerka-nerka apa yang baru saja terjadi. Mereka membisu dan mengatur irama napas. Degup detak jantung mereka sudah berakselerasi normal. Kejadian itu mirip kebangkitan superhero Captain America di laboratorium uji coba.



“Maaf ya, gara-gara aku semua jadi berantakan.” Kata Leo lirih karena merasa berdosa.

“Nggak papa, cuma aku aja yang syok. Kok bisa begitu ya?” Kini nancy tak lagi ngondek, bukan waktunya yang tepat.

“Ya udah, itu nggak usah dipikirkan.”



Nancy mengangguk. Kendati insiden tadi lumayan janggal, tapi ia sangkal. Baginya peristiwa tadi hanyalah aktivitas makhluk astral yang usil mengganggu manusia. Yang membuatnya bingung, mengapa dirinya yang dijadikan media. Akan tetapi yang dikatakan Leo ada benarnya juga. Barangkali dari efek jamkuwar itu. Ah… itu berlebihan, gumamnya di batin.



“Sampai sini aja, Leo.”

“Lho? Rumahmu masih jauh.”

“Aku bisa jalan sendiri. Makasih ya say sudah mengantarkanku pulang.” Tuturnya seraya membetulkan posisi wignya yang acakkadut.



“Tunggu, Nando, ups, Nancy. Aku punya ini.” Leo menunjukkan sesuatu. Nancy terbelalak. Ia belum pernah melihat barang sebesar itu.

“WOW! UKURAN SWISS!” Ia berteriak lantang. Meraihnya, menggenggamnya, dan menikmatinya perlahan. Dijilatinya sebelum menggigitnya. Ia merasakan sensasi yang berbeda saat meleleh di mulutnya, dan menelannya dengan nikmat menganulir kepalanya yang sedang penat.

“Masa gitu aja sampai merem sih.” Leo meledek, cengengesan.

“Habis coklat Swiss-nya lezat sih. Baru kali ini aku makan coklat yang enak, gede pula. Selama ini aku cuma makan coklat cap Ayam Jago.”

“Coklat kan bisa mengurangi stres. Jangan takut, entar aku belikan yang banyak.”

“Thanks ya. Ya sutralah, aku turun ya. Bye.” Nancy keluar dari sedan dan melambaikan tangan ke Leo yang menjauhinya.



Dia menyusuri malam bersama jejak-jejak kesunyian yang masih membekas di aspal. Dia amat lelah harus bertarung melawan nuraninya yang berteriak-teriak saban hari. Dia hendak naik dari lembah hitam menuju padang terang dengan sejumput azzam. Sungguh, ia pun jijik dengan pekerjaannya sendiri. Tak terasa, air mata menganak-sungai di pipi.



Langkahnya terhenti saat mengamati tiga orang di depannya. Ada yang tak beres rupanya, gumamnya. Ada seorang pria tegap yang sedang ditodong oleh dua perampok. Pria yang sepertinya ia kenal itu diacungi pistol oleh seorang perampok. Sementara perampok satunya sedang beraksi mengobrak-abrik barang-barang di dalam mobil si korban.



“Hai bajingan, hentikan!” Nancy memekik mengejutkan mereka.

“Hey bencong! Jangan macam-macam lu, gue tembak nih!” Ancaman datang dari si perampok itu.



Nancy lari mendekat, perampok itu mengacungkan pistol agar Nancy mundur. Tapi Nancy tak gentar. Begitu dekat, ia melompat dan menendang penjahat itu hingga mental sejauh 20 meter. Dan naas, kecebur ke got yang dalam.

Nancy terkejut. Ternyata sanggup juga ia menendang orang sejauh itu. Ia merasa mempunyai kekuatan super yang canggih. Namun, sejak kapan? Apa sejak ia mengonsumsi jamkuwar yang berkhasiat itu. Atau jangan-jangan ia lupa pernah berguru di kuil Tiongkok sebagai seorang shaolin. Tidak mungkin! Dia feminin.



“Hahahaha… ternyata ini pistol mainan.” Si korban tertawa saat memegang pistol yang terjatuh.”

“Mas Adam?”

“Kamu?”

“Aku Nancy,” akunya.

“Oh, Nancy Swan ya.”



Adam ingat tentang Nancy, waria yang suatu malam pernah melayani syahwatnya. Tak dinyana, ada juga waria yang begitu kuat sampai bisa menghempaskan orang laksana meniup sehelai kapas dari tangan.



“AWAS!” Adam mengingatkan Nancy, ada perampok lain menyerang dari belakang.



Nancy menunduk, mengepalkan tinju ke perutnya. Terlempar hanya 3 meter. Sekilat perampok itu segera bangkit. Perampok yang satu ini lebih kuat seolah-olah punya ilmu bela diri yang mumpuni. Dan benar! Dia memutar badannya melawan arah jarum jam, menihilkan gaya gravitasi bumi sehingga mampu terbang dan ancang-ancang untuk melumpuhkan Nancy. Nancy gentar. Nancy ciut.



“Nancy…” Adam cemas akan nasib pahlawannya.

“Mas Adam, pergilah sejauh-jauhnya dengan mobilmu!”

“Tapi….”

“CEPAT!!!”



Adam segera mengebut dengan pikiran kalut. Di situ, nancy memejamkan mata, konsentrasi mengumpulkan tenaganya. Ia teringat insiden gelombang ultrakuat yang menghempaskan tiap obyek yang ada di sekelilingnmya. Kala detak-detik kaki perampok menyentuhnya, ia membuka mata dan berteriak. Sontak saja getaran menggelegar menangkis perampok itu sampai ke ujung atomsfer menabrak awan-awan.



Ia tersadar dengan ilmu gelombang yang ternyata tidak destruktif itu. Cukup konsentrasi dengan satu obyek sasaran, maka obyek lain takkan terkena resonansi. Ia mulai menerima bahwa kekuatan dari dalam dirinya bersumber dari Tuhan melalui jamu kuat waria. Ia tersungkur malu.



“Nancy, kamu baik-baik saja?” Adam telah kembali.

“Tak apa, Mas.”



Adam menghampirinya, merengkuhnya sebagai balasan terima kasih.

“Nancy, kamu adalah wonderwoman-ku. Kamu adalah WonderNancy yang hebat dan kuat.”



Malam ini telah lahir WonderNancy, superhero terbaru, tanpa kostum, tanpa senjata.



Dunia Dalam Cerita. Jakarta, 6-7 Desember 2011.



Terima kasih buat Argha Premana yang telah menjadi penasihat bahasa gaul versi Derby Sahertian ^_^v

Tidak ada komentar: