Minggu, 21 Oktober 2018

222. Cobaan Cinta Sang Bintang Baru [A Star Is Born 2018]

Mungkin ada bocoran! 

A Star Is Born sudah tiga kali dibuat ulang sejak film pertamanya tahun 1937—total ada empat. Kesemuanya punya premis serupa, seorang aktris atau penyanyi perempuan mendompleng penyanyi pria yang kecanduan alkohol.

Era 2018, A Star Is Born (ASIB) disutradarai dan dibintangi oleh aktor Bradley Cooper (karya debut sutradaranya) dan penyanyi Lady Gaga—sebagai aktris dia pernah membawa piala Golden Globe sebagai aktris terbaik untuk perannya di serial American Horror Story: Hotel.

Ally (Lady Gaga) bekerja di dapur resto dan menyanyi layaknya waria di bar khusus waria. Karena suara Ally bagus, para waria memperbolehkan dia tampil di situ dengan berpura-pura jadi waria penyanyi. Kredit untuk para waria yang membawa suasana komedi ke film. Apalagi adegan tanda tangan di payudara.

Muncul penyanyi rock country, Jackson Maine (Bradley Cooper), mampir ke bar waria itu. Bukan suara nyanyian falseto-bariton (apalah itu istilahnya) yang banyak dijumpai pada suara waria, suara Ally cenderung feminin dan tetap bertenaga. Merdu ketika menyanyikan tembang kondang berbahasa Perancis La Vie En Rose. Jack kepincut dengan Ally. Seperti kebanyakan orang Amerika yang terbuka, langsung Ally diajak ke bar. Minum lagi.

Ada sepatah dua patah dialog, kalau Ally yang bersuara emas tapi belum menembus rimba industri musik Amerika. Katanya, wajah Ally kurang komersil, hidungnya terlalu besar! Agak receh alasannya. Kayak Barbra Streisand yang memerankan ASIB tahun 1973, di mana hidung Barbra Streisand memang besar. Hidung Gaga sih biasa saja.

Cerita seterusnya, yaa Ally diajak manggung Jack. Awalnya Ally menolak. Cowok pemabuk, gila ya, kata Ally ke Lorenzo, ayah Ally. Lorenzo itu suka halu, kalau suara dia lebih bagus dari Frank Sinatra. Karena tak kuasa menolak tawaran manggung, Ally dan temannya Mason akhirnya datang. Untuk pertama kalinya lagu ciptaan Ally, Shallow, dinyanyikan di muka umum. Resepsinya positif. Kanal Youtube Jackson Maine kebanjiran viewers. Sebuah batu loncatan Ally menuju gemerlap dunia musik.

Intrik sebenarnya dari ASIB bukan pada liukan dan terjalnya Ally di dunia musik, justru pada Jack, suami Ally. Penonton tidak mendapati sudut pandang utuh tentang judul Lahirnya Sang Bintang itu sendiri. Malah film ini baru benar-benar main ketika layar tertutup. Bagaimana Ally yang baru cerlang sebagai bintang tetiba menghadapi kenyataan suaminya meninggalkan dia.

Metamorfosa Ally dari penyanyi bar waria ke penyanyi penggondol Grammy, mirip judul film tahun 1934, It Happened One Night, semuanya terjadi dalam semalam. Tetap ada kegagapan Ally saat mengikuti prosedur rekaman di studio dan gugupnya manakala menyanyikan Shallow pertama kalinya. Bagian klip Shallow ini menurut saya paling mengharukan. Untuk bagian Jack memang mendominasi. Aktingnya menjadi alkoholik patut diacungi satu jempol, dua jempol kalau perut dia buncit kayak Christian Bale di American Hustle. Orang yang suka teler mestinya badannya nggak terurus, buncit alih-alih sixpack. Aku rada heran, judulnya harusnya A Star Is Boom. Filmnya buat Bradley Cooper. Analogi begini, umpama bintang di galaksi, ada yang pada fase nova dan ada yang fase protobintang (proses lahirnya bintang). Secara kiasan lahirnya bintang penyanyi Ally. Tapi ada siklus, bintang lain mati, oleh ulahnya sendiri.

Kendati durasinya panjang, babak setelah nikah antara Jack-Ally, pelan-pelan intensitasnya mengendur. Ada momen-momen yang kurang jeli ditangkap Cooper sebagai sutradara untuk mendalami relasi Ally dan Jack usai nikah. Setuju sih, saat pacaran kayaknya lebih indah daripada menikah, di mana Ally diuji kesabarannya banget menghadapi Jack pas jadi istrinya. Sayangnya, potensi Lady Gaga, penyanyi yang punya nama resmi Stefani Joanne Angelina Germanotta, kurang mendapat jatah mendramatisir perannya. Dramatisir dalam hal yang baik. Ketahuan sih, Gaga terpasung sama naskahnya sendiri. Dan, applause buat Sam Elliot yang memerankan Bobby Maine, kakak tiri Jack.

Film musik yang premier di Festival Film Venesia ke-75 ini punya sinematografi yang rancak bana, kata orang Minang, artinya cantik banget. Ditangani sinematografer Matthew Libatique, yang pernah memoles Black Swan dan mother!. Sorot-sorot lampu panggung dimanfaatkan banget untuk mempertegas nuansa dan atmosfer. Lagu-lagu originalnya ditulis keroyokan, di antaranya ditulis kedua pemeran utamanya. ASIB digadang-gadang sebagai calon nominasi Academy Awards tahun depan. Berlebihankah? Untuk kategori best cinematography dan best original song, peluangnya besar sih.

A Star Is Born mencatatkan pemasukan akhir pekan pertama sebanyak 43 juta dolar yang rilis 5 Oktober. Di bawah Venom yang rilis di tanggal sama (80 juta). Lima belas hari berjalan, pundi-pundi dolarnya bertambah jadi 164 juta. Di Indonesia yang baru tayang 19 Oktober, film yang mendapat skor agregat 90 % dari RottenTommatos ini, masuk klasifikasi 17 tahun ke atas karena mengandung adegan seks dan ketelanjangan.

Tidak ada komentar: