Jumat, 20 Juli 2018

218. Koboi California Pulang Kampung ke Tanah Jawa [Buffalo Boys]

Di tengah kemarau film laga Indonesia, sedang menjamur horor jurik, muncul film laga gaya koboi khas Indonesia. Tajuknya Buffalo Boys, citra ulang harfiah dari nama Cow Boy. Di bawah rumah produksi Screenplay Infinite, yang juga menelurkan Headshot 2016 lalu. Film debut Mike Wiluan ini tayang lebih dulu 14 Juli di Kanada dalam Fantasia International Film Festival, sebelum tayang 19 Juli di Tanah Air.

Arana (Tio Pakusadewo) dan Sultan Hamzah (Mike Lucock) serta dua anak Sultan, Jamar dan Suwo, dikejar pasukan kolonial. Konon, perjanjian Kesultanan (yang dipimpin) Sultan Hamzah dengan kolonial Belanda berakhir pengkhianatan oleh Belanda. Seluruh keluarga kerajaan dibantai, hingga Arana mesti kabur menyelematkan dua ponakannya jauh ke negeri berantah—kemudian merantau di California, AS. Ada adegan tarung di sini, dengan darah CGI khas film 300. Adegan Sultan Hamzah dieksekusi di bibir sungai, dan Arana beserta kedua ponakannya di sungai, juga lepas dari logika. Entah pasukannya buta atau gimana, tidak melihat Arana di perahu, padahal tinggal dor! Kalau seperti itu, film yang joinan dengan Singapura ini tidak akan pernah ada.

Naskah tepos yang mungkin cuma dua halaman itu mengisahkan balas dendam Jamar (Ario Bayu) dan Suwo (Yoshi Sudarso). Jamar dan Suwo itu hidup di era Clint Eastwood menjadi koboi saat perang sipil Amerika. Nah dari situlah karakter koboi Jamar dan Suwo dengan topi fedoranya. Koboi (dan habitat padang gersangnya) bukan fantasi yang dibangun di tanah Jawa seperti film Korea tema serupa The Good, The Bad, The Weird yang secara fantasi dibangun di Manchuria. Koboi dengan dua tokoh Jamar dan Suwo hanyalah impor budaya pop Amerika dan spaghetti western Italia.

Mau balas dendam pada Van Trach (Reinout Bussemaker), namun penduduk yang dulunya di bawah kekuasaan mendiang Sultan Hamzah sedang tertindas kerja paksa menanam opium ketimbang padi. Satu lagi kelemahan cerita yang ditulis sang sutradara sendiri dibantu skenario Raymond Lee. Ketertindasan masyarakat hanya dibangun lewat dialog tanpa kejadian, hanya dampak kejadian. Maka di sinilah substansi jargon membela keadilan menjadi tampak lesu. Belum lagi dialog campur-campur Inggris Amerika dan Indonesia kaku dengan teks di layar cukup membuat penonton lokal kurang nyaman. Jika ingin otentik, kompeni mestinya berbahasa Belanda, dan ada bahasa Jawa juga. Seperti film Soegija dengan beragam bahasa tumplek blek di situ, Jepang, Jawa, Indonesia, Belanda, dan Latin. Aneh ketika kompeni mengerti bahasa lokal namun sepanjang film berbahasa Inggris. Hanya satu baris dialog ketika Jamar dan keluarganya terperangkap di gudang pakai bahasa Indonesia luwes.

“Jika bukan balas dendam, ngapain kita di sini? “ Ngapain adalah satu-satunya kata tidak baku namun terdengar nyaman di telinga penonton tanpa harus pakai bahasa gaul kekinian.

Persenyawaan aktor Ario Bayu dan Yoshi Sudarso sebagai tokoh utama juga ejakulasi dini. Dialog Suwo yang katanya sering diremehkan karena anak bungsu tidak memberikan gambaran utuh dari bibit konflik itu yang akhirnya pecah di sungai. Kelakuan koplak duo bersaudara yang pura-pura mati dua kali ini memang mengundang gelak. Kita hanya mendapati Suwo dan Jamar sebagai satu jiwa dua tubuh, tidak ada dua kutub jiwa di sana. Mereka nyaris sama. Mungkin yang menghibur kaum pemuja kebugilan adalah ketika mereka telanjang bulat mandi di sungai, diikuti gelak canda bidadari-bidadari khayangan. Lucu adegan itu, termasuk orang Tiongkok yang menawarkan kondom jumbo ke Jamar. Tokoh Kiona (Pevita Peace) pun layu sebelum disiram. Awalnya dia gagah menunggang kerbau dengan bidikan panahnya yang presisi. Setelah kedatangan duo koboi, dia seperti bergantung pada pangeran itu. Air mata melankolianya pun anyep, tidak sesedih ketika menjadi Hayati di Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk.

Seruni yang dimainkan tragis oleh Happy Salma memberi langgam Jawa yang lembut, kuat, dan pasrah. Memang secara keseluruhan irama film ini berlanggam Jawa, pelan, kuat, dan perkasa. Sayang, sepertinya cuma keris properti yang menegaskan kejawaan dalam film. Ada tokoh keren Adri (Hannah Al Rasyid) yang memberi warna komikal dan misterius. Dia lucu, agak gila, dan membabi buta mirip Bellatrix di Harry Potter. Melengkapi warna karakter-karakter lain yang menjemukan.

Buffalo Boys bukan film fiksi sejarah (tidak meminjam secuil pun kejadian sejarah) karena banyak anakronisme di sana. Seperti sudah dijelaskan di atas. Dia ibarat fusion di kuliner, Barat bertemu Timur. Ceritanya minimalis, tokoh-tokohnya tipis, dan visual sinematografinya estetis. Set artistik, properti, tone warna, gelaran laga, dan panorama Buffalo Boys sangat mumpuni dan niat. Di situlah kelebihannya. Tak ketinggalan instrumental etnik, drum, dan basic nada gubahan Ennio Morricone dari film-film Dollars Trilogy. Film yang rumornya beranggaran 40 miliar, sepertinya punya pendapatan penonton hari pertama yang lesu. Saking lesunya, tidak dipublikasi berapa tiket terjual.

Tidak ada komentar: