Sabtu, 09 Juni 2018

215. Memusnahkan Kembali yang Pernah Punah [Jurassic World: Fallen Kingdom]

Setelah prekuelnya, Jurassic World, laris manis jadi film pendapatan kotor terbanyak kelima, waralaba tentang reptil purba berdarah dingin ini melanjutkan dunianya lagi di Jurassic World : Fallen Kingdom. Dengan sutradara baru (lagi) asal Spanyol yang terkenal dengan horor The Orphanage, Juan Antonio García Bayona, Fallen Kingdom tidak punya cerita yang benar-benar segar. Jika di Jurassic Park III latar habitat dinosaurus di Isla Sorna, di Fallen Kingdom di Isla Nubar, pulau vulkanik dengan gunungnya yang kembung memuntahkan lahar panas. Mengancam kehidupan pelbagai dinosaurus dan reptil prasejarah umumnya. 

Benjamin Lockwood, rekan Alfred Hammond (pencipta dinosaurus di film Jurassic Park), menugaskan Claire dan Owen ke Isla Nubar bersama Dr. Zia dan Franklin (pakar IT) demi membawa pulang sebagian kawanan dinosaurus demi kelestarian. Kendatipun Pengadilan Federal sedang mempertimbangkan apa mesti menyelamatkan hewan-hewan melata itu atau membiarkannya punah secara alami. Claire dan Owen dipandu oleh tim bersenjata pimpinan Eversol yang mata duitan, tujuannya menjual para dinosaurus itu ke tauke-tauke tajir dari seluruh dunia—termasuk dari Indonesia yang membeli Ankylosaurus. Gunung yang sedang menggelegak, tentu meletus. Meski ada beberapa bagian tidak masuk akal supaya dramatis, saat Owen berhasil hidup setelah digulung wedhus gembel (awan panas gunung api bersuhu 300 sampai 1000 derajat). Kecepatan awan panas 30 m per detik, sedangkan manusia pelari tercepat ialah Usain Bolt, itu pun cuma 10 m/s. Oke, namanya film. Bagian mengharukan sewaktu dinosaurus bongsor dari kelompok ordo Sauropoda, Apatosaurus (bukan Brontosaurus), mengaum di balik awan-awan panas dan bebatuan dari letusan gunung.

Tidak ada film pabila tidak ada problem. Eli Mills, orang kepercayaan Lockwood, berkhianat. Dia dan Dr. Wu yang merancang dan menciptakan jenis baru dinosaurus bernama Indoraptor, hibrida Indominus rex dan Velociraptor. Indoraptor bisa dibilang mesin perang. Anti peluru. Insting terancamnya kuat. Meski bentuk tubuhnya biasa banget. Teror benar-benar terjadi tatkala para binatang yang hidup di Era Mesozoikum itu membabi buta menyerang tauke-tauke internasional, tak terkecuali tokoh protagonis dan antagonisnya. Beberapa adegan mengingatkan akan Jurassic Park, seperti petak umpet di dapur dengan Velociraptor, di Fallen Kingdom petak umpet dengan Indoraptor di museum dengan meja sebagai penghalang. T-Rex yang mencaplok Ceratosaurus mirip Velociraptor yang juga dilahap T-Rex di Jurassic Park, apalagi cara Indoraptor tewas, sama, ketusuk tulang. Indoraptor punya kecerdasan tinggi, misal ketika memasuki kamar Maisie Lockwood (cucu Lockwood) dia memilih memutar kenop jendela ketimbang menghancurkannya. Sekuen kamar Maisie dengan hujan dan rembulan sangat horor daripada magis. Meski kurang epik, lawan tak seimbang Indoraptor adalah Blue, Velociraptor peliharaan Owen. Blue, mirip kucing kampung yang tetap mengenali bau tuannya. Ini bagian yang tidak ada di trilogi asli Jurassic Park. Hubungan tuan dan hewannya.

Memang beberapa hal lebih bagus, menurutku, daripada Jurassic World. Jurassic World mungkin “cuma” mengambil latar penyelamatan theme park dari kebuasan dinosaurus. Di Fallen Kingdom, spektrum ceritanya lebih luas, tentang keajaiban dan kelestarian alam melalui teknologi dan ancaman di rantai makanan bagi keberlangsungan manusia itu sendiri. Meski terasa ironi seperti kutipan pendiri Taman Jurassic terdahulu dalam novel karangan Michael Crichton (Jurassic adalah novel yang dilayarlebarkan), “Itu ide yang buruk. Penggunaan teknologi baru yang sangat buruk ... membantu manusia adalah bisnis yang sangat berisiko. Secara pribadi, saya tidak akan pernah membantu umat manusia.” Itu yang dikatakan Hammond ketika Dr. Wu bertanya, mengapa uang dan teknologi Anda tidak digunakan untuk kemaslahatan manusia, malah bikin taman? Di sekuen penutup, digambarkan secara parsial bahwa reptil purba itu hidup berdampingan dengan damai bersama manusia. Ada domestikasi barangkali seperti serigala ke anjing. Dari ending itu terbuka lebar cerita yang bisa dibuat lebih segar bahkan revolusioner. Tidak tertutup kemungkinan ala-ala Planet of the Apes, untuk dino dari buas menjadi lebih jinak dan cerdas. Sebenarnya ketakutan lebih pada dino karnivora, padahal mungkin saja dino herbivora tetap berbahaya semisal menginjak manusia. 

Jurassic World : Fallen Kingdom, menurutku, punya cerita lebih menarik dari Jurassic World (2015) dengan cerita safari dino bak Jurassic Park. Bangun taman—insiden—serangan—hancurkan taman! Secara pengalaman sinematik memang lebih berkesan. Sementara Fallen Kingdom, setelah manusia dan dino babak belur, baru mengambil sikap. Nah, cerita potensial itu terganjal alur membosankan, meski tidak semua. Tokoh manusia lebih dominan di penceritaannya, dan menyisakan Blue dan sedikit pesona Indoraptor. Ada komedi juga. Romansa antara Claire dan Owen dinihilkan untuk sekadar ritual ciuman saja. Bagus lah. Tokoh antagonis Mills kurang memberi kesan kecuali serakah dan perlakuan kasar pada Maisie saja, dan mimik-mimik muka membosankan. Seserakah bos-bos Universal dan Amblin mengeksploitasi reptil purba itu dengan alurnya yang agak membosankan. 

Tidak ada komentar: