Rabu, 21 Maret 2018

212. Manusia yang Dikadalin oleh Kadal [resensi Pacific Rim Uprising]

Film pertamanya, Pacific Rim, lima tahun lalu yang disutradarai Guillermo del Toro (Pan's Labyrinth, Hellboy, The Shape of Water) menggalang dolar kurang dari 500 juta dari anggaran 190 juta dolar dan meraih kritik moderat. Sekuelnya yang tidak lagi di bawah bendera Warner Bros., kini Universal, tidak lagi diarahkan del Toro. del Toro dan John Boyega, aktor utamanya, bertindak sebagai produser. Pacific Rim Uprising berkronologi satu dasawarsa usai peristiwa film pertama.

Breach atau celah Samudra Pasifik telah tertutup. Itu adalah portal keluarnya kaiju, monster kadal mutan yang reseh dan hobi menghancurkan gedung seperti meremukkan kerupuk. Tidak ada film apabila masalah selesai. Muncul jaegar ilegal dari laut Tiongkok dan menentang jaegar legal PPDC (Pan Pacific Defense Corps). Jaegar itu robot yang dikendalikan oleh dua pilot pakai sensor gerak tubuh, dan kedua pilot mesti tersinkron secara psikologis—agak bingung di bagian ini. Jake (John Boyega) salah satu pilotnya, anak jenderal Stacker Pentecost (Idris Elba) yang memimpin perang 10 tahun lalu. Cerita juga mengikuti Amara (Cailee Spaeny, debut keaktorannya di film panjang, mengingatkan pada Daisy Ridley di Star Wars 7) remaja pengepul rongsokan sisa perang Jaeger vs Kaiju dan merakit menjadi Jaeger kecil tapi ilegal. Mereka gabung ke PPDC bersama kadet-kadet lain untuk berlatih mengendalikan jaeger (ye-ger).

Tidak seperti Pacific Rim (selanjutnya PR), adegan-adegan pelatihan di Pacific Rim Uprising (Uprising) kurang kental dan disajikan instan dan seadanya jika dibandingkan saat Raleigh Becket (Charlie Hunnam) latihan tarung di sanggar dengan macho di PR. Meski Hunnam terlalu dieksploitasi kemachoannya dengan buka baju lebih dari tiga kali demi memamerkan keatletisannya ibarat patung periode klasik karya Phadias. Juga tokoh-tokoh di PR terkesan murung dengan melodrama Raleigh galau-galau mirip Fantastic Four (2015). Di Uprising, meski lawakannya tipikal, John Boyega dan Cailee Spaeny sukses menghilangkan awan kelabu di PR. Patut diakui, narasi Uprising sedikit kreatif dengan memanfaatkan otak dan jaringan hidup Kaiju untuk mengendalikan Jaeger musuh. Terlebih jaringan Kaiju itu seperti “cuci otak” dan berparasit di salah satu petinggi Shao Company (perusahaan riset dan pengembangan Jaeger) untuk menyerang balik dan mengganyang seisi Bumi. Tujuan Kaiju ialah Gunung Fuji, yang mengandung mineral-mineral komplit—komplitan Gunung Sinabung. Nah tugas para Jaeger lah—di antaranya bernama Gypsy Avenger, Bracer Phoenix, Saber Athena, Titan Redeemer, dan Guardian Bravo—mesti mencekal Kaiju ke Fuji. Jaeger Saber Athena paling menarik dengan postur ramping lincah warna oranye bak ninja hatori.

Memang Uprising seperti menandingi waralaba Transformers, dan Pacific Rim tidak urgen banget untuk dilanjutkan. Pertarungannya lebih banyak robot dengan robot, baja lawan baja, bukan baja lawan daging sebagaimana PR lima tahun lalu. Tatkala baja Jaeger sebagai lambang modernisme-teknologi kontra daging kadal-monster lambang kepurbaan hewani yang liar semua terasa eklektik. Tidak terlalu banyak yang bisa diharapkan dari Uprising kendati tetap menghibur dan tidak menyakitkan mata lantaran warna robot jahat dan baiknya kontras. Pacific Rim Uprising tayang perdana hari ini dan tersedia format 3D reguler dan IMAX 2D. Aspek rasio pada IMAX 1.89:1 tidak penuh dan menyisakan balok hitam di atas bawah layar. 

Tidak ada komentar: