Kamis, 22 Februari 2018

210. Monster Hunt 2... Dongeng Monster yang Belum Seger

Setelah film pertamanya meraup pundi-pundi RMB2,5 miliar, Monster Hunt 2 siap berburu lagi keping-keping kimpo bersama tukang judi Tony Leung alias Tu Sigu. Selain pemasaran globalnya ditangani Sony International, efek visualnya juga salah satunya ditangani oleh Industrial Light & Magic yang memoles film Star Wars.

Film dibuka semarak tari dan nyanyi sekelompok manusia berbaju warna-warni. Warna-warni musim semi perayaan tahun baru China. Ada Wuba di situ. Para penari itu adalah monster—monster baik. Sekonyong-konyong muncul monster jahat berperawakan besar, berwajah sangar, ingin membunuh Wuba, sang pangeran kerajaan monster yang pada film sebelumnya tahta kerajaan digulingkan para pengkhianat. Wuba tercebur sungai dan mengembara sampai Kota Air Jernih. Bertemu BenBen, monster baik dan bongsor dengan kemampuan berkamuflase, dan Tu—tukang judi pengeksploitasi monster demi keuntungan dirinya. Tu punya utang pada Zhu dengan jaminan dirinya akan menikahi Zhu jika jatuh tempo belum bisa bayar. Zhu tampil sebagai pendukung cerita dan karakternya satu dimensi saja—ingin kawin sama Tu, sama seperti tokoh tukang reparasi senjata yang diperankan dengan karikatural oleh Huang Lei. Ada juga pengisi suara dari aktor kawakan Eric Tsang dan Sandra Ng, tampil sebentar berjoget dan mengisi suara monster Zhugao dan Ying.

Tu punya pilihan antara kawin atau menyerahkan Wuba yang jadi buronan dengan upah menggiurkan. Sekuelnya tidak mengembangkan ceritanya sendiri. Mungkin sama dengan Paddington 2. Paddington dan Monster Hunt sah dibandingkan sebab sama-sama film makhluk ajaib, diadopsi dan dirawat manusia, dan film keluarga, meski LSF melabelkan 13 tahun untuk Monster Hunt 2. Paddington 2 meski tetap pada latar yang sama tapi beruang coklat itu dicampakkan ke problem yang lebih besar dan segar, penjara! Dan aksi-aksi yang secara sinematik mengagumkan. Monster Hunt 2 malah kembali ke metode awal. Pendekatan relasi antara Wuba dan Tu, seperti pendekatan “biologis” antara Tianyin (Boran) dan Wuba. Di sekuel, Jing Boran malah menjadi aktor pendukung. Aktor utamanya Tony Leung dengan porsi lebih besar. Untungnya penampilan Tony Leung cukup menghibur.

Monster Hunt 2 tidak benar-benar memburu dan diburu. Hanya seperempat film dengan aksi dan visual mengagumkan untuk mengingatkan film ini Wuba masih dalam “status awas” diburu monster jahat yang menyusup di tubuh Biro Pemburu Monster. BPM yang diharapkan lebih kejam, kurang dapat panggung. Narasi Wuba sang pangeran adalah sosok yang mampu mempersatukan permusuhan manusia dan monster pun luntur di sini. Mungkin berlanjut di bagian ketiga—semoga ceritanya benar-benar segar. Monster Hunt 2 terasa ringan dan aman, makanya aku bingung dengan LSF kenapa mesti klasifikasi usia 13 tahun, sementara ceritanya mudah dimengerti dan aksi kekerasannya minim. Bila dibandingkan dengan Paddington 2 untuk semua umur.

Visualnya memesonakan. Warna-warni. Gunung Zhangjiajie yang menginspirasi gunung melayang di Avatar ditampilkan sebagai latar pertarungan. Meski monster-monster bergerak cepat CGI mereka tetap halus. Secara garis besar, Monster Hunt 2 yang ganti penulis skenarionya dari film pertama, ditulis dalam zona aman dan takut kusut jika bertutur terlalu kompleks. Bisa dibenarkan sebab ini film fantasi keluarga. Namun, takut berisiko dengan tidak mengembangkan ceritanya menjadi besar merupakan risiko juga.

Monster Hunt 2 memang berhasil meraup 190 juta US dolar pada akhir pekan Tahun Baru China, menyalip Monkey King 3 yang ikhlas bergelayutan cuma membawa 79 juta US dolar.

Tidak ada komentar: