Kamis, 25 Januari 2018

209. Menjemput Minho, Menyelamatkan Dunia

Resensi film Maze Runner The Death Cure 

Dengan mukadimah adegan penyelamatan remaja-remaja di kereta khas jedar-jedor film koboi padang tandus. Ketika Clint Eastwood ditembaki puluhan pelor musuh, lolos dia. Sekali saja pelor Eastwood muntah, mampus itu musuh. Perumpamaan.

Setelah molor setahun lebih akibat cedera Dylan O’Brien, muncullah judul The Death Cure di layar. Obat (menyelamatkan) Kematian. Ceritanya kenyal: darah Thomas mengandung serum yang membunuh virus. Cocok jadi vaksin dari wabah virus—jika terinfeksi jadi crank alias zombi. Korporasi WCKD yang bengis dibuat kalang kabut oleh pemberontakan mereka yang kabur ke Scorch Trial (seri kedua). Jadi sekelompok remaja itu dijadikan kelinci percobaan setelah fisik dan jiwanya ditatar di Glade (seri pertama). Dari penyelamatan kereta, tidak ada Minho (Ki Hong Lee). Cerita bergulir lah kembali ke Wall (kota dikelilingi tembok dari serangan crank). Thomas (Dylan O’Brien) dengan kesetiakawanannya menjemput Minho. Walau ditentang, Newt (Thomas Sangster) dan Frypan (Dexter Derden) ikut bersamanya. Serangan zombi sedikit di sini dibanding Scorch Trial.

Dan rasanya motivasi mereka melawan tirani WCKD luntur di sini. Seandainya Minho tertolong di menit awal, akankah Thomas dkk masuk ke jantung WCKD? Padahal di ending Scorch Trial mereka ngomong dengan sangat mengesankan, perlawanan mereka baru akan dimulai. Rasanya perlawanan mereka juga bukan roda utama cerita. Yah, Thomas mau nolong Minho. Thomas tidak percaya dengan Teresa kalau darahnya mengandung obat mujarab. Sampai kejadian Newt ada tanda-tanda jadi crank baru percaya. Paling tidak penutup Death Cure tidak semengenaskan Mockingjay Part 2 dari sisi cerita dan penutup Divergent dari penjualan tiket. Semoga.

Entah eksyen dan ledakan-ledakan mercon rasanya hambar, seolah sambil lalu. Bus berisi remaja-remaja menjerit diangkat crane itu tegang. Meski detail editing di dalam bus sebenarnya bisa lebih disorot. Total durasi semua film sekitar 380 menit, rasanya aku tidak lesap ke semesta cerita dan tokoh-tokohnya. Semisal kisah-kasih mereka sebelum dunia luluhlantak akibat virus mematikan. Cita-cita, percintaan, relasi orangtua bisa disisipi di antara laga ketimbang cuma kesetiakawanan dengan dialog opera sabun.

“Pergilah, Tommy!”

“Aku takkan meninggalkanmu, Newt!”

“Tinggalkan aku, Thomas.”

“Aku takkan membiarkan itu terjadi, Minho.”

(ini dialog ngarang tapi serupa)

Ya bunga-bunga dramanya nggak usah semekar khas Korea. Namun nggak semua dramatisasi Korea menjemukan ah. Asal diramu pas. Ini untuk keseluruhan trilogi cerita. Khusus Death Cure—berdurasi paling panjang, 143 menit—sebab disesaki kejar-kejaran, pembebasan, serangan kelompok separatis, rebutan vaksin, sehingga pada beberapa momen aku nggak peduli apa yang terjadi di layar. Lupa dan belum sempat tonton ulang, sepertinya Scorch Trial lebih bertaring suspennya. Maze Runner (film pertama) lebih terasa horornya. Percintaan subtil Teresa (Kaya Scodelario) dan Thomas suka lah. Nggak ada persenyawaan ya emang mereka belum jadian dan hubungan mereka dilingkupi dinding kaca, dinding ketidakpercayaan. Penampilan Lord Baelish eh Janson (Aiden Gillen) cukup menyebalkan dalam arti pelakonannya mantab.

Nonton di studio 1 Epicentrum XXI bersama moviegoers Panji Respati, tentu audionya Dolby Atmos. Kalau Dolby biasa suara cuma dipecah 3 bagian, kanan kiri belakang dengan 12 speaker. Dolby Atmos punya 128 elemen suara dengan 64 speaker! Entah sound editing The Death Cure lebih payah, waktu aku nonton The Scorch Trial di Atmos Gandaria City, bokong ini sampai tergelitik geli saking menggelarnya.

Tidak ada komentar: