Kamis, 16 November 2017

206. Paddington, Beruang Ikhlas yang Terjebak di Lapas

Hikayat beruang coklat dari pedalaman Peru mendapat sambutan hangat penonton 2014 silam. Ingin mengulang kesuksesan, StudioCanal dan Heyday Films mendapuk kembali Paul King sebagai pengarah dan penulis skenario dibantu Simon Farnaby–dengan akar karakter dari buku anak-anak terkenal di Britania Raya, A Bear Called Paddington karangan Michael Bond. Masih Ben Wishaw mengisi suara Paddington, beruang dalam teknik live action itu.

Setelah Paddington cukup diterima oleh keluarga Brown di London, Paddington kangen pada Bibi Lucy si beruang dan ingin menghadiahi buku pop-up tema landmark kota London. Di prolog film, Lucy dan Pastuzo suaminya punya harapan merantau ke Inggris. Namun impian mereka pupus. Paddington-lah yang diserahkan impian tersebut. Sekuel ini Paddington bekerja keras agar mampu membeli buku pop-up seharga 1000 keping (satu keping berapa sen ya?) dari toko antik Samuel Gruber (Jim Broadbent). Seperti manusia umumnya, Paddington membersihkan kaca-kaca apartment dan jadi asisten di barber shop. Sebab dia beruang, ada insiden menggelikan semisal badannya tertarik ember cuci. Paddington 2 menampilkan Hugh Grant sebagai aktor pasar malam Phoenix Buchanan, yang lihai menyamar untuk mencuri buku pop-up yang akan dibeli Paddington. Naasnya, Paddington tertuduh sebagai pencuri, tertangkap basah di TKP. Dipenjaralah dia.

Paddington merupakan beruang anthropomorphis yaitu entitas non manusia yang bergerak, merasa, dan berbicara seperti manusia, lazim dalam film animasi. Pada film pertamanya Paddington tidak dianggap sebagai “beruang aneh yang berbicara” (misal ditangkap NASA lalu dikarantina) ketika ditemukan oleh keluarga Brown di stasiun Paddington. Nama beruang ini diambil dari nama stasiun itu, atau justru sebaliknya, nama stasiunnya dari nama karakter karya Michael Bond (?).

Tokoh antagonis Phoenix tidak sebengis Millicent Clyde (Nicole Kidman) di film sebelumnya. Tapi petualangan Paddington dan keluarga Brown—Henry (Hugh Bonneville) si ayah, Mary (Sally Hawkins) si ibu, Mrs. Bird (Julie Walters), Jonathan (Samuel Joslin), dan Judy (Madeleine Harris)—tetap seru dan mengagumkan secara sinematik visual. Walau porsi mereka sedikit di belakang dari Paddington yang selalu disorot. Dalam film pertama Paddington hadir lebih domestik (maksudnya lebih banyak dalam lingkungan rumah Brown) bersama keluarga Brown yang kedua anaknya tengah melewati krisis prabelia. Di situ Paddington punya peran sebagai perekat. 


Di film kedua Jonathan yang sudah bujang mengembangkan  ketertarikannya pada kereta uap dan Judy pada jurnalistik. Minat dan bakat mereka  bermanfaat dalam petualangan membersihkan nama Paddington dari dakwaan pencurian. Jangan lupakan penampilan menarik dari Brendan Gleeson menjadi Chef Knuckles McGint, juru masak lapas yang semula dingin dan garang mencair karena keluguan dan keikhlasan Paddington. Itu karena Knuckles tanpa sengaja memakan marmalade sandwich (roti lapis isi selai jeruk). Paddington dan marmalade bak penyeimbang ekosistem urban yang individualis. Keramahtamahannya ibarat lidah penyambung kehangatan tetangga-tetangganya yang terkotak rapat dalam kubus beton—flat. Lihat saja ketika Paddington dipenjara dan tidak hadir dalam lingkungan flat. Suasana menjadi muram. 


Paddington 2 lebih lucu dengan warna-warni dominan pastel. Penutup film terlihat megah dan klasik dengan kejar-kejaran kereta uapnya. Paddington 2 lolos klasifikasi semua umur (SU).

Tidak ada komentar: