Kamis, 05 Oktober 2017

205. Pengabdi Setan, dari Sekte Kesuburan ke Teror Kuburan

Setelah satu dasawarsa Rapi Films merestui Joko Anwar untuk menggarap ulang (termasuk menulis naskahnya) Pengabdi Setan. Bersama CJ Entertainment, rumah produksi raksasa dari Korea Selatan, Pengabdi Setan menjadi film Indonesia pertama pada wahana teater 4DX (4 Dimensions Experience) dan akan dipasarkan ke negeri-negeri seberang. Gimmick promo keranda di bioskop CGV adalah ide CJ.

Kerai disibak adegan Rini (Tara Basro) bertamu ke kantor label musik untuk menagih royalti album ibunya (Ayu Laksmi) tapi gagal. Teks layar menginformasikan tarikh 1981. Bus, rumah, busana, tatanan rambut, perabotan, siaran RRI, dan dialog semua tersentuh era di mana lagu Guru Oemar Bakri-nya Iwan Fals tengah meledos di pasaran–sayang lagu ini tidak masuk sebagai penanda zaman sebab memang tidak senapas dengan film. Ditulislah lagu Kelam Malam yang dinyanyikan Aimee Saras dan digubah Tony The Brandals. Satu nomor tembang yang lebur bersama sinematografi redup (sinematografer Ical Tanjung, pemenang Citra untuk film May pada 2008).

Syahdan, satu keluarga sedang kesulitan ekonomi. Ibu sakit aneh, tak bisa bicara tak mampu berdiri, mengandalkan lonceng kecil untuk meminta bantuan. Lonceng  itu pula menjadi keleneng mencekam ketika sang ibu telah tiada. Terlebih sosok Bapak (Bront Palarae) yang gagah mesti kerja ke luar kota. Mengganggu seisi rumah, hendak menculik anak bungsu, Ian (M. Adhiyat), yang konon anak terakhir buah pemujaan setan untuk “ditumbalkan”. Rini pun dibantu Hendra (Dimas Adhitya) memecahkan misteri. 

Padanan pengabdi(-an) setan bersama sektenya hanya dideskripsikan lisan Tony (Edni Arfian) berdasar artikel yang dimuat majalah Maya tulisan Budiman (Egy Fedly) tanpa adegan eksposisi. Tokoh ibu bisa dikatakan steril lalu gabung sekte hitam kesuburan. Punya anak-anak. Anak terakhir berusia genap 7 tahun mesti diserahkan pada komunitas sekte. Zombi-zombi dari tokoh yang mati bangkit kembali meneror seisi rumah dan menyeret Ian.

Sekuen zombi dengan riasan yang seram kurang maksimal hadirnya. Kekalahan Ustad (Arswendi Bening Swara) dari zombi anaknya kurang berkesan. Memang zombi ini bukan roh halus yang secara tradisional ditaklukan ayat-ayat suci. Joko Anwar mengonfirmasi kalau setan-setannya dibuat seorganik mungkin tanpa bantuan CGI kecuali mungkin selimut terbang dan tangan di pintu yang bikin refleks mengangkat tangan tanpa perlu menjerit. Tokoh ikonik Darminah yang diperankan oleh Ruth Pelupessy digeser timeline-nya dan muncul di ending sebagai Darminah muda (Asmara Abigail). Dibanding film 1980-nya, versi 2017 lebih dimatangkan sebab akibat ceritanya, apa itu pengabdian setan dan sektenya, apa konsekuensinya, bagaimana terornya bekerja menggigilkan tokoh-tokohnya.

Pelakonan aktor-aktor bocah berhasil memancing humor jujur di antara atmosfer horor. Ian si anak tunarungu mencuri perhatian, karena lucu, itu saja.  Visualnya mantap menebalkan hawa seram. Banyak lampu yang mati. Kamar mandi dengan sumur, astagfirullah.... Karena digeber kehororan terus, seperti tidak ada ruang bagi aktor-aktornya untuk merasa diteror. Istilahnya mengembangkan karakter seperti diteror. Mirip di film Babadook, ketika aktor diberi ruang untuk stres. Mungkin tidak perlu selebar Babadook, sedikit saja. Hanya tokoh Bondi (Nasar Anuz) cukup stres menghadapi keganjilan di rumahnya. Kalau ditanya film horor lokal apa yang seramnya komplit? Humornya, musik dan lagu, visual, jumpscare, dan cerita yang solid. Pengabdi Setan bisa jadi jawabannya. 

Perolehan film horor 2017, tiket Pengabdi Setan hari pertama sekitar 91 ribu, mengalahkan Danur, 80 ribu tiket. Seminggu tayang Pengabdi Setan memborong 958 ribu tiket.


Tidak ada komentar: