Rabu, 30 Agustus 2017

203. Tawa Pahit Seorang Pion Kekuasaan [American Made review]

Amerika Serikat (AS) adalah polisi demokrasi (huh!). Tengok saja yang paling anyar, Musim Semi Arab yang dipelopori Tunisia 2011. AS selalu jadi garda terdepan menyokong para pemberontak atau oposisi melawan keotoriteran padang pasir dengan dalih berlindung di ketiak demokrasi. Tarik sejenak ke tahun 1970-1980an, ketika wilayah Amerika Tengah sedang membara oleh perang sipil menggulingkan rezim-rezim diktator, di antaranya Nikaragua, Guatemala, El Salvador, dan Honduras. Tidak mungkin AS berpangku tangan, apalagi prokomunis ikut berjuang mengudeta rezim-rezim di sana. Nggak mau juga dong kekalahan AS atas aliansi komunis di Vietnam terulang.

Nah saat Amerika Tengah lagi panas itu seorang pilot TWA Barry Seal (Tom Cruise) terjebak dalam silang sengkarut revolusi. Dia dipekerjakan CIA melalui agen Schafer (Domhnall Gleeson) memotret wilayah musuh dengan kamera pesawat. Zaman itu belum ada drone nirawak. Karena Barry mata duitan, dia terima saja tawaran kirim kokain dari Kartel Medelline. Mereka bandar narkoba. Paling terkenal Pablo Escobar. Ada Jorge Ochoa dan Jose Gacha. Untuk pemeran pendukung Escobar dkk sulit dicari nama aktornya di Imdb. Lanjut. Tentu Barry dan istri Lucy (Sarah Wright) bahagia dunia akhirat. Bagaimana tidak, saking banyak uang tunainya sampai dikubur di halaman rumah. Adegan lucu saat dia mau buka lemari kejatuhan uang. Sempoyongan. Karena jika semua disimpan di bank akan mencurigakan. Itu pun dia money laundering. Lucy punya adik remaja yang bengal, JB–mungkin singkatan Justin Bieber–(Caleb Landry Jones) si biang kerok. Mencuri uang Barry untuk beli mobil sampai berurusan dengan polisi yang berakibat amat fatal bagi bisnis haram Barry Seal.

Jika kamu menganggap American Made yang disutradarai Doug Liman (The Bourne Identity, Jumper, Edge of Tomorrow) merupakan film berhormon adrenalin, kurang tepat juga, mungkin dosisnya tidak banyak. American Made film drama kriminal dari kisah nyata tentang Barry Seal yang pernah juga dilayarperakkan tahun lalu, The Infiltrator. Di poster pun Cruise tidak pegang senjata. Sepanjang film seingatku dia tidak duel pakai Ak-47. Bikin gemas! Hanya orang biasa yang tamak lagi licik. Yang membuat hidup istri dan anak-anaknya kerap berpapasan jurang bahaya. Filmnya dibuat lebih lucu tapi pahit (bagi yang terbiasa dengan komedi Amerika). Perkembangan karakter Cruise yang berkubang dengan kegalauan akibat perbuatannya kurang menggigit di sini. Mungkin dia bukan aktor watak sehingga menonton film ini yang sejatinya biografi orang lain kita takkan peduli. Kita hanya sadar kalau ini film fiksi Tom Cruise yang kebetulan berlatar Amerika Tengah. Beberapa adegan terasa klasik mulai dari sudut kamera, teks kronologi, tentu saja gaya rambut dan baju, lagu pengiring, rekaman VHS Barry yang jadi motor cerita, logo Universal, dan tone warna. Kredit untuk sinematografer César Charlone (City of God).

Bisa dibilang Barry adalah pahlawan Amerika yang tidak diakui, khususnya bagi kepentingan hegemoni AS di Amerika Tengah. Dia seperti pion konspirasi Gedung Putih. Dengan dalih narkoba, Amerika Serikat lewat Ronald Reagan mengintimidasi komunis Amerika Tengah pada Dunia. Menyinyirinya dengan jidat sendiri bertulis “munafik”. Tak pelak Kartel Medelline merasa dikhianati dan memburu Barry Seal.

American Made yang sebelumnya hendak berjudul Mena baru akan rilis di AS 23 September 2017 kelak. Dengan sensor 21 tahun film mengandung beberapa adegan seks.

Tidak ada komentar: