Sabtu, 05 Agustus 2017

201. Perayaan Visual Kelahiran Nabi Akhir Zaman


Tidak seperti Kristen dengan Hollywood-nya yang rajin membuat film Isa Almasih, di antaranya yang monumental The Last Temptation of Christ (1988), Ben Hur (1959), dan The Passion of the Christ (2004). Di komunitas Muslim penggambaran Rasulullah masih dilingkupi kekultusan dan hadis tentang pencitraan wajah makhluk, yang kini bisa diredaksikan pada gambar bergerak macam film. Youssef Wahbi seorang aktor Mesir yang berencana melakonkan sosok Nabi dalam film yang akan dibiayai Turki pernah dikecam Raja Fuad dan terancam tercabut kewarganegaraan Mesir-nya. Kejadian itu berlangsung 1926.

Hollywood pun pernah memfilmkan Muhammad dalam Message (1976) walau tanpa memperlihatkan sosoknya. Maka tak heran kalau sinema Iran yang secara storytelling meloncati film-film Asia lain membuat kisah Muhammad ke layar perak yang digawangi sutradara kawakan Majid Majidi (Children of Heaven, 1998). Pengembangan naskah dan pembangunan set dimulai sejak 2007 dibantu asisten penulis Kambuzia Partovi (The Circle, 2000), sinematografer Vittorio Storaro (Apocalypse Now, 1979), dan komposer A.R. Rahman (Slumdog Millionaire, 2008). Dengan lokasi di Tehran dan Afrika Selatan.

Film dibuka dengan negosiasi Abu Sofyan (Dariush Farhang) dan Abu Thalib (Mahdi Pakdel) agar Nabi menghentikan dakwah. Abu Thalib menolak dan mendengar Nabi tengah shalat, membaca surat al Fiil. Gambar kembali ke masa lalu, ketika Abraha (Arash Falahat Pisheh) hendak menyerang kota Mekah kemudian dibombardir burung ababil. Sekuen ini sangat singkat dan kehilangan efek magisnya dengan rekayasa visual yang masih kurang. Ketika Nabi lahir dari rahim Aminah (Mina Sadati), Storaro memanfaatkan teknologi melukis terang gemintang langit dan seberkas cahaya dari kamar Aminah. Berhala yang ambruk di Kabah. Sumur zamzam melimpah. Dan terpenuhinya nubuat-nubuat dalam kitab Yahudi dan Nasrani. Tokoh Yahudi rahib Ismail/Samuel (Mohsen Tanabandeh) diperankan abu-abu. Dia menerima nubuat kelahiran Nabi baru namun tidak diterima para petinggi Yahudi. Sebagian keantagonisan Ismail bersanding dengan keantagonisan Abu Lahab (Mohammad Asgari) yang kerap nyinyir akan kelahiran keponakannya dan berselisih ke bapaknya, Abdul Muthalib (Alireza Naori).

Film mesti ada dramatisasi sekalipun senyap, Majid mengolahnya dengan suspense kejar-kejaran keluarga Halimah, ibu susuan Nabi, bersama Abu Thalib versus kelompok Yahudi yang ingin merebut Nabi. Romansa Aminah dan Abdullah sedikit melankolis. Wajah Nabi dari bayi hingga remaja 13 tahun tidak diperlihatkan di mata kamera. Hanya sudut samping dan belakang. Karena cerita dibuat dengan konsultasi tim sejarawan dan arkeolog, tidak banyak improvisasi cerita kecuali pengekspresian akting pemain di samping kehambaran aktor yang memerankan Muhammad (sebab wajah aktor tidak diperlihatkan), musikalisasi apik A.R. Rahman, dan tentu saja visual film baik sentuhan rekayasa komputer dan mekanika buatan. Menonton Muhammad: The Messenger of God (2015) ibarat melihat dokudrama biopik kelahiran Nabi akhir zaman dari bayi hingga remaja. Menebalkan kecintaan kita dengan Rasulullah SAW dalam bahasa budaya yang paling populer yaitu sinema. Dengan anggaran 40 juta dolar, film ini rontok di pasaran.

Tidak ada komentar: