Rabu, 12 Juli 2017

202. Umroh Seorang Marbut


Petang menjelang. Sekejap jua surya kan tertelan ufuk angkasa. Pak Abdul repot mempersiapkan jamuan buka puasa dibantu beberapa remaja masjid. Tangannya ringkih namun gigih. Helai-helai ubannya ialah bilangan usia. Dia sejak muda sudah memakmurkan masjid. Istrinya telah tiada. Salah satu anaknya merantau ke pinggir kota.

Sebagian warga menyedekahkan makanan sebagian lain mempercayakan uang. Berkahnya Ramadhan membuat warga berlomba-berlomba bersedekah.

Masjid Mujahidin punya ketua masjid baru, Brotoseno. Seno–sapaannya–selain mengurus masjid juga bekerja di firma hukum. Baru lima bulan menikahi Asmirandah. Desainer cantik yang menghijabi keayuannya.

Seno tumbuh dan besar di lingkungan masjid. Ayahnya dulu ketua masjid yang menerima Pak Abdul sebagai marbut. Seno selalu mengaji usai magrib. Rajin shalat berjamaah. Pesantren kilat saat Ramadhan. Abdul, semasa muda, pun kerap mengarahkan shaf anak-anak yang sering ribut. Bilamana amarah sudah membuncah, hanya pelototan kecil cukup bikin mereka menggigil. Namun sesabar-sabarnya manusia dia pernah menyiram anak-anak yang bermain petasan ketika khusyuk bertarawih. Terlebih Seno meraung-raung tangannya terpanggang mercon. Kejadiannya sekitar 20 tahun silam. Abdul membopong Seno, berlari-lari, menggedor pintu klinik yang sudah tutup. Sejak itu tiada lagi petasan meletus di halaman masjid.

****

“Alhamdulillah!” Seru jamaah mendengar azan maghrib dari tv kantor masjid. Mereka karyawan, pedagang, anak-anak, dan warga sekitar.

Setelah muazin membatalkan puasa dengan setenggak air, ia sesegera mungkin melantangkan kalimat-kalimat kebesaran Allah.

Habis shalat, Pak Abdul menghampiri Seno.

“Ustad, kipas angin di shaf perempuan rusak dua.” Seno biasa dipanggil ustad. Lulusan S2 di Kairo.

“Sejak kapan Pak? Habis ini saya sampaikan ke bendahara untuk mereparasi atau beli baru.”

Dering hp Pak Abdul bernyanyi. Si bungsu cowok menelepon. Dia meminggir ke ujung serambi. “Waalaikumsalam, Jefri. Kenapa?” Deru napas di ujung telepon terengah. Jefri baru tiga bulan bekerja di minimarket setelah lulus SMA. Kini dia tinggal di mes karyawan.

“Aku dihipnosis, Pak.” Jawabnya kelesuh-kelesah.

Pak Abdul bingung, mau kaget atau panik. Belum sempat panik, Jefri mengeluh kembali. “Motor temanku hilang! Dia masih kredit, belum lunas, Pak! “

“Apa tidak diasuransikan?” Ada perasaan plong ketika Pak Abdul spontan saja mengatakannya.

Tetapi itu tidak lama. “Pihak asuransi nggak meng-cover kasus hipnosis. Sekarang aku nelpon karena temenku minta ganti rugi, setengahnya aja.”

Bagaimana kalau minta ganti semuanya?

***

Pak Abdul tak juga nyenyak. Jam dinding menuding 02.30. Ia basuh wajahnya. Tak puas sekalian ia mandi. Baju kokonya samar-samar wangi minyak jaffaron. Dalam cermin ia menggumam, bersyukur aku pernah haji dan punya simpanan untuk umroh di luar sana banyak umat yang susah berangkat haji umroh. Ia berjalan ke masjid hendak membangunkan sahur. Di sana Ustad Seno tengah bertadarus. Selayang pandang Seno melihat baju koko merah terakotanya. Pak Abdul memberi isyarat padanya untuk menyalakan mikrofon. Seno mengangguk.

“Ada apa nih Pak? Ada masalah?” Orang terdekat orang yang paling cepat tahu masalah kita. Tadinya Pak Abdul mau menyangkal tapi apa daya, dia pernah menyembunyikan masalahnya dari Seno, tak berhasil.

“Jefri, dihipnotis, Ustad. Motor temannya hilang.”

“Astagfirullah…. Kok ya bisa? Lagi sendirian?”

“Iya. Kejadiannya sore kemarin dekat jembatan susun pasar. Dia mau ganti rugi. 6 juta.”

Seno terperangah dan heran, beberapa detik berlalu dia paham. Pak Abdul pernah cerita kalau usai lebaran haji dia mau berangkat umroh. Sebenarnya keinginan dia umroh Ramadhan dengan keutamaan pahala setara haji sebagaimana dalam hadis. Tapi Pak Abdul memang belum daftar umroh. Selain dananya belum cukup, paspornya belum diperpanjang. Dia sudah punya tabungan 13 juta, katanya enam bulan lalu. Tujuh tahun lalu Pak Abdul naik haji dari biaya yayasan. Tahun ini entah awal tahun depan ia ingin ibadah umroh.

Ada alasan Pak Abdul tidak mau merepotkan anak perempuannya yang sudah beranak tiga. Saat itulah ada perasaan tak enak di benak. Mengapa tidak dia saja yang menanggung biaya umroh Pak Abdul? Biarkan Pak Abdul menolong putranya dulu.

“Ya sudah Pak. Bebannya saya minta setengahnya. Kita makan sahur dulu,” kata Seno sebagai pelipur lara. Di meja tersuguh nasi hangat. Sayur lodeh buatan Asmirandah. Tempe tepung dan telur balado.

***

“Kalau begitu kita daftarkan Pak Abdul ke travel umroh seperti Abu Tour. Ada promo umroh murah 2019, mulai 12 juta,” usul Asmirandah setelah dia diceritakan.

“Dia maunya tahun ini, paling nggak awal tahun depan, Umi.”

“Apa itu berat buat kamu, Abi?” Istrinya mendekat,mengusap jambang suaminya dengan cinta.

“Ya enggaklah. Cuma apa-apa kan mesti diomongin dulu.”

****

Takbir hari raya bertalu-talu di sehamparan Bumi. Sesudah halalbihalal, Seno dan Asmirandah merapat ke sisi Pak Abdul yang tengah duduk di teras seorang diri. Menunggu kedua anaknya berkunjung.

“Bagaimana Pak, masalah Jefri sudah beres?” Asmirandah menyapanya.

“Alhamdulillah, mbak.”

“Pak, rencananya tahun depan kami mau umroh. Bapak ikut. Masalah ongkos dan administrasi kami urus.”

Air mata Pak Abdul berlinang. Bahkan ucapan terima kasih saja dia malu mengatakannya, dia hanya sanggup memeluk Seno. Anak kecil yang dulu ia gendong ke klinik.

***

Tulisan ini dibuat dalam rangka sedang mengikuti Blog Contest Ramadhan Bersama Abutours & Travel. Tulisan lain berupa diary Ramadhan bisa kamu klik ini.

#LebihDariSekedarNikmatnyaIbadah #SemuaBisaUmroh

Tidak ada komentar: