Selasa, 06 Juni 2017

200. Sang Dewi Pencinta Kedamaian [Wonder Woman]

Jika dalam kultur Superman tokoh si maskulin selalu menyelamatkan Lois Lane, menerbangkannya di angkasa, lalu mencium bibirnya. Di Wonder Woman Diana Prince (Gal Gadot) yang mencoba menyelamatkan pria termasuk Steve Trevor (Chris Pine) di gang dari kawanan pihak Jerman yang mengejar Trevor.

Wonder Woman dilahirkan dari tangan penulis & psikolog William Marston dan seniman Harrys G Peter. Marston dapat ilham dari Margaret Sanger aktivis KB Amerika. Dalam film di Themyscira sebuah pulau tropis, hanya ada kaum amazon wanita saja. Tokoh Diana Prince si demigoddes (setengah dewi) pun konon terbuat dari tanah liat dan ditiupkan roh oleh Dewa Zeus. Reproduksi seksual jantan betina tidak terjadi di sana.

Wonder Woman disutradarai Patty Jenkins, film terakhirnya tahun 2003, Monster. Tidak banyak wanita sutradara mengarahkan proyek superhero, di antaranya Lexi Alexander dalam Punisher: War of Zone (2008) dan Patty Jenkins sendiri, sebab di Amerika pun masih kental hierarki gender. Ditakutkan wanita sutradara tidak cakap menerjemahkan kemachoan superhero, bahkan wanita superhero sekalipun, Elektra (2005) dan Catwoman (2004) yang disutradarai pria dan secara kalkulasi flop di pasaran. Maka itu bursa film pahlawan super dari komik mayoritas adalah pria pahlawan.

Di rantaian keempat DC Extended Universe—DCEU, Man of Steel, Batman V Superman, Suicide Squad, dan Wonder Woman —film bercerita awal mula Diana Prince mengenal dan masuk ke dunia manusia semasa Perang Dunia I. Dengan grafis ala (lukisan) naturalis fragmen-fragmen cerita tentang siapa suku Amazon dan mengapa terjadi banyak peperangan akibat ulah Dewa Ares, cukup memanjakan mata penonton. Dari situlah bibit cerita berplot ke Jerman versus Sekutu yang diwakilkan Inggris. Di London Trevor mesti memberikan buku catatan formula yang dia curi dari Dr. Isabel Maru (Elena Anaya) ahli racun yang berkongsi dengan Jenderal Erich Ludendorff (Danny Huston). Mereka ingin terus berperang, membunuh orang dengan racun mematikan. Diana Prince yang naif dan bergelora jiwa kawula muda maju ke garis depan bersama Trevor, Sameer agen rahasia jago menyamar (Saïd Taghmaoui), Charlie si penembak yang tukang teler (Ewen Bremner), dan Chief si Indian penunjuk jalan (Eugene Brave Rock). Diana Prince hendak membunuh Ares (Dewa Perang) yang merasuki tiap individu manusia untuk saling berperang, Trevor sedikit geli dengan ucapannya. Manusia akan tetap berperang walau dengan dan tanpa Ares, sanggah Trevor.

Pertarungan di Tanah Tak Bertuan merupakan paling indah dan menakjubkan, meski banyak gerak lambat yang agak sedikit mengganggu. Bahkan pertarungan final Diana Prince dengan Dewa Ares / Sir Patrick Morgan (David Thewlis) rasanya biasa saja. Megah tapi tidak indah. Efek visual atau CGI juga lemah di beberapa bagian khususnya pergerakan Diana ketika lompat sana-sini. Pun penampilan Gal Gadot terlalu bersih dan cantik, saya mengharapkan ia sedikit kotor dari luka dan debu. Toh tetap saja cantik dan mulus, seperti ketiaknya yang disensor tim CGI menjadi putih bersinar hingga memicu polemik kemerdekaan tubuh perempuan oleh feminis Amerika. Pembawaan Chris Pine juga mampu mengimbangi keperkasaan Diana Prince. Romansa mereka berdua terpintal lambat bersama plot utama. Bagi penonton eksyen sejati mungkin bagian ini agak menjenuhkan. Namun terbayar lunas di ujung film.

Wonder Woman dapat sensor 13 tahun ke atas oleh LSF.

Tidak ada komentar: