Kamis, 19 Januari 2017

197. Rezim Yang Takut Kata-kata [resensi film Istirahatlah Kata-kata]

Seumpama bunga, Kami adalah bunga yang tak kau hendaki tumbuh, Engkau lebih suka membangun rumah dan merampas tanah, Seumpama bunga, kami adalah bunga yang tak kau kehendaki adanya, Engkau lebih suka membangun jalan raya dan pagar besi (sepenggal sajak Wiji Thukul “Bunga dan Tembok” yang dimusikalisasi dalam film oleh Merah Bercerita feat. Cholil).

Istirahatlah Kata-kata disutradarai dan ditulis Yosep Anggi Noen. Layar dibuka lewat teks narasi dan siaran radio tentang kritikan dan tuntutan Partai Rakyat Demokratik (PRD) seperti pembentukan multipartai dengan latar Solo tahun 1996. Ini berguna bagi penonton muda yang tidak banyak acuan mengenai siapa dan apa yang dilakukan penyair Wiji Thukul hingga bersembunyi di Pontianak. Wiji Thukul atau Wiji Widodo merupakan penyair dengan sajak-sajak yang vokal melawan rezim diktatorial Orde Baru. Sajak-sajaknya tidak terlalu mabuk kata-kata dekoratif yang berjarak dengan realita. Dari buruh pabrik, pemilu yang cuma formalitas, sampai sajak-sajaknya yang membakar reformasi 1998.

Sebelum dinyatakan hilang tahun 1998, dia bersembunyi ke pulau seberang. Sementara Intel menginterogasi dan mengobrak-abrik keluarga dan rumah Thukul. Adonan ketegangan kian kalis. Di pulau seberang, ia bersahabat dengan sunyi dan gelap. Pindah dari satu rumah kawan ke rumah kawan lain. Dihantui paranoia. Ya plotnya setipis itu. Mengambil sepenggal kehidupan Wiji Thukul (Gunawan Maryanto) di Pontianak dan Solo. Di Pontianak, ia juga menginap di rumah Martin (Eduward Manalu), orang Batak yang juga masuk daftar perburuan bersama Thukul. Kendati nuansa poster dan sinematografinya cenderung guram-muram, bukan berarti tidak ada sisi komedinya, malah semembahana dinamit. Martin membawa sisi humor di bibir sungai Kapuas, dengan mata kamera statis yang menangkap panorama sungai dengan puitis. Film hening dengan gambar jujur.

Penokohan wanita diisi oleh Melanie Subono (Ida, istri Martin) dengan candanya yang mengubur ketakutan. Dan Marisa Anita (Sipon), istri Thukul, yang meluapkan kegetiran dalam diam dan ledakan emosi di akhir. Istirahatlah Kata-kata tidak menutup dirinya dengan titik namun koma. Sebab perjuangan belum berakhir.

Tidak ada komentar: