Selasa, 14 Februari 2012

126. Kado untuk Stefani (Episode 1)



"Kamu harus tahu bahwa Andrew masih sering menangis di kamarnya walau sudah satu tahun berlalu!”



Suara wanita bernada ketus dari membran ponselku putus tanpa permisi. Peringatan itu bagai menyisihkanku ke teluk penyesalan. Kubaringkan ponselku di meja dapur. Adonan kue untuk hidangan Hari Valentine yang sempat terbengkalai aku lanjutkan lagi. Namun percuma saja. Tanganku yang bergemetar saat memegang spatula mendamparkaanku mundur ke masa silam tatkala aku melakoni kecerobohan cinta yang berdampak pada tragedi klise. Menghempaskanku ke pojok tempat tidurku nan dingin. Memerah tetes per tetes air dari bola mataku. Sementara hidup harus berjalan tanpa ampun. Hingga aku berani berkeputusan dan takdir menjemputku sampai ke sini.





Aku terjaga dari kilas balik masa lampau. Sekonyong-konyong serbuk kastor terbang dan menyembur wajahku.



“Ya Tuhan, uhuk uhuk!”

Serbuk gula halus itu masuk ke hidung dan mataku. Tersedaklah hidungku dan memedihkan mataku. Apa yang baru saja terjadi? Siapa yang meniupnya? Aduh… anehnya.





"Kenapa, Bu?" Asisten rumahku datang memasang raut heran.

"Enggak papa, Bi. Tolong lanjutkan adonan itu, lalu tuang ke loyang, masukan ke oven suhunya 170'C dan harus 12 menit. Bentar aja, saya balik lagi.



**

Ah... Hari Keagungan Cinta tahun ini berhambur air hujan warna merah jambu dari langit nan sendu. Dengan senyum merekah di wajah, aku memilih busana yang wajib kukenakan untuk menemani suamiku makan malam sederhana di rumah kami. Memusnahkan cahaya-cahaya lampu yang pongah. Memekarkan kuntum-kuntum lilin yang remang. Menyemprotkan partikel pengharum ruangan aroma mawar di kamar tidur. Amboi... romantisnya layaknya cerita dalam novel.



Hmm, aku tak boleh saltum malam ini. Cardigan kuning yang berpadu dengan kemeja merah muda dan pleated skirt warna ungu sekiranya cocok. Kuperagakan padu-padan busana itu di hadapan cermin lebar bersama senyumku yang menyebar. Ahai, namun dress selutut warna magenta bermotif mawar merah sejatinya menampilkan kesan romantisme merah jambu.



Huh, bimbang aku dibuatnya. Sudahlah... cardigan lebih pas membalut ragaku pada musim hujan yang menggigil ini. Andaikan suamiku ingin yang lebih panas, sebelum naik ke “arena” aku akan memakai lingerie yang menggodanya.



"Fani, ayo turun." Suamiku sudah siap. Dia bersandar di daun pintu. Kemilau kemeja biru terangnya memendarkan kesan elegan. Aroma minyak rambutnya menyengat sekali.

"Tunggu, Tom, aku sedang merias."



And even if the sun refuse to shine

Even if romance ran out of rhyme

You would still have my heart until the end of time

You're all I need, my love, my Valentine



Lagu My Valentine mengalun syahdu di ruang makan. Lidah api sudah membakar metanol supaya menjilat panci logam yang berisi minyak kacang. Hmm… sudah menyeruak bebauan pancingan yang meneteskan liur. Ya, kami akan menyantap daging founde malam ini.



"Aku paling suka coklat fondue yang dicelupkan stroberi segar. Hmm...." Rupanya Tom nafsu pada coklat fondue.

"Coklat fondue kapan-kapan ya...."



Kucelupkan ham ke minyak panas dan menunggu beberapa saat.

"Okay, that's why there's no war if we eat fondue, he he he," guraunya.

"Agree. Lagi pula aku punya strawberry mouse cake lho."

"Hingga serbuk kastor bikin kamu keselak?"

"Sudah ah. Aneh sekali insiden itu."



Kuperhatikan sampai topik obrolan usai dan menu habis, belum juga Tom memamerkan kadonya padaku. Bentuk dan warna sampulnya pun tak mampu keterawang. Apa dia benar-benar tak mempersiapkan kado Valentine untuk istrinya tersayang....





"Tom...." Senyumku kecut. Rahangku kaku. Ada darah mengalir tulus dari keningnya ke hidungnya yang agak bangir. Baunya teramat anyir. Kental. Horor.

"Iya."

Dengan gemetar aku menyeka hidungnya. Darah itu teramat dingin dan anyir. Teramat ganjil. Apakah Tom diam-diam punya penyakit?

"Fani, kenapa?"

"Darah."



Dia mengusap dahinya, hidungnya, dan pipinya. Dilihatlah tangannya sendiri. Kemudian telapaknya digosokkan di serbet putih.

"Tak ada darah. Hanya keringat sebab banyak api di meja ini."

"Aku nggak bohong."

"Tetapi tidak ada fakta."



Tom mengeluarkan kotak bersampul merah jambu berpita biru tua dari kursi di sebelahnya. Ekspresinya separuh tertawa separuh tersenyum seraya menimang benda pamungkas itu.

"Mungkin kamu sedang kalut. Dan di malam Keagungan Cinta ini aku persembahkan kado spesial untuk istriku tercinta, Stefani Widjaja. You would still have my heart until the end of time. You're all I need, my love, my valentine." Tembang yang dia lagukan amat merdu di hati. Dia berpindah kursi. Menghampiriku lantas menarik tanganku yang masih bergetar untuk menerima pemberiannya.



"Terima kasih, suamiku tercinta." Maka dikecuplah pipiku.

"Apakah pria tak pantas dapat kado?" Tagihnya menggoda.

"Hadiah untuk pria selalu ada di ranjang sutra." Aku balas menggoda. Kubelai pipi putihnya. Dia menggenggam pergelangan tanganku sambil menciumnya. Terpejamlah kedua mata sipitnya. Dia menggigiti kecil jemariku. Geli nian. Oh dia sudah melakukan foreplay di sini.



***



Aku masih di kasur hangat dengan separuh ragaku yang lisut dihisap kumbang raja. Sisa-sisa napasku juga masih menyangkut di selangkangannya. Aku melepaskan diri dari rangkulannya. Tak sabar mau kucium kalung berlian hadiah dari Tom. Alamak... model macam ini pasti nilainya belasan juta. Tak salah alamat aku memilih dia sebagai nahkoda hidupku. Saat seperti ini aku jadi teringat masa lalu. Masa lalu yang tak mau beranjak dari tiap pagiku yang ungu.



Nada diam ponselku berbisik. Ada pesan singkat dari Jenny rupanya. Aku tersenyum geli kala membaca isi pesannya. Duh... tadi siang dia berencana nimbrung makan malam dengan kami. Namun dia berdalih takut memorak-porandakan malam Keagungan Cinta milik kami. Sebenarnya dia iri pada kami lantaran valentine ini tak ada gandengan. Semoga dia tetap tangguh dan antigalau.



BagongGermanotta (Bagong Wicaksono): RT @kecebonggenit Ada cewek mokat di mobil pas lagi pacaran di suropati @LilMon666 Valentine berdarah tuh @AlfaHooligans



beritakilat (beritakilat.com): 23.23 Seorang gadis remaja tewas di mobil dengan leher memerah. Sementara pacarnya masih syok belum bisa diajak bicara bit.ly/xyS35a



Aku terusik oleh rentetan linimasa di jejaring sosial itu. Berita kilat yang lumayan mencekat. Malam hujan masih saja keluyuran.



katyperih (Nana Pasaribu): Mank betul y di kaca mobil korban di tamsur itu ada tulisan 'aku ingin pergi tak mau menginjak bumi'. Hii siapa yg nulis? Takara!



Rasa penasaran membawaku agar membuka tiap URL berita yang disebar. Aku menelisik ke situs berita tersebut, sayang infonya masih kerdil. Mungkin esok mulai melebar.



Lantas, tirai jendela dibelai, melambai santai di pojok keremangan yang panjang. Mataku terbelalak mulutku mangap. Ada sosok yang berdiri di luar jendela. Mewujudkan siluet bayangan sejati meremas hati. Malingkah itu yang berhasrat menggondol kalung mewahku? Ah tidak! Mungkin itu tirau pengacau. Astaga, ada tirau di rumah ini.



"

Wo yao qu, wo bu yao zai di chu. (我要去 我不要在地处). [1]" Hantu itu berbisik dalam bahasa mandarin.



"Tom! Bangunlah!" Kuguncang tubuhnya yang bugil berbalut selimut.

"Kenapa?"

"Ada setan!!!" Napasku memburu. Kalimatku menyeru.



"Kita di mana?" Dia menyelidik ke berbagai sisi. Kesadarannya terbangun paripurna. "Sepertinya di hutan...."

Baru kusadari kami berpindah ruang ke belantara tak bernama bersama tempat tidur besi. Dipagari pepohonan jangkung yang menjulang menyundul gemintang terang. Kembang-kembang kabut menyesakkanku ke perasaan serba takut. Kupandang Tom bergegas mengenakan setelan piamanya. Lalu dia mendekapku dengan damai, kendati rona-rona panik memerah di pipinya.



"Apakah kita bermimpi?" bisikku.

"Aku baru bangun dari mimpi dikejar sapi. Apa aku mengalami mimpi lapis kedua kayak The Inception?"

"Kenapa kita malah berdiskusi!" Kuomeli dia atas kepayahannya yang enggan mencari jalan keluar tetapi cuma bisa memelukku.



Suara langkah menuju posisi kami. Perlahan.

"Tom, ada yang mendekat."

"Itu Jeepers Creepes."

"Kamu pikir leluconmu itu lucu!" Teriakanku menggema, berayun-ayun dengan liukan dahan pohon yang disembur angin. Kucubit puting teteknya sampai dia meringis.



"Mana hapemu. Aku mau menelpon Mas Luki." Tom menyebut nama paranormal kenalannya.

"Apa ada sinyal?"



Mengatupkan kelopak mata adalah cara paling jitu mengenyahkan rasa takut dari suasana mengerikan yang terbangun di tengah rimba tak berkompas. Dengkingan anjing hutan bersahutan mengurung gelap yang sudah terlelap. Koor aneka serangga menggenapi aroma liar. Roma-roma di badanku berdiri ditegakkan angin malam. Sementara suamiku belum berhasil menghubungi sang dukun itu.



Tak tuk tak tuk... Suara langkah kuda sepertinya. Ya tepat sekali. Juga ada ringkik kuda yang memantul ke tiang-tiang kayu. Siapa lagi itu tengah malam berkuda di hutan. Apa pangeran istana yang dikejar Angling Dharma? Atau mungkin kuda siluman yang ditunggangi jin gondrong?

"Tom, suara langkah kuda."

"Abaikan saja. Sepuluh menit lagi kita akan dikembalikan ke rumah." Syukurlah, Tom sukses minta tolong pada dukun itu. Tapi....

"Sepuluh menit? Kuda itu keburu menginjak-injak badan kita!" Protesku rewel.

"Paling si penunggang akan merampas harta kita. Berikan saja kalung berlianmu itu."



Aku cemberut. Pelan-pelan rasa takutku memudar akibat celetukan-celetukan Tom yang menjengkelkan akan tetapi terasa menghibur ketegangan.



Suara itu membesar. Sesuai Efek Doppler, itu berarti kuda dan penunggangnya telah memangkas pita jarak mendekati kami. Ya Bapa di surga, kirimkanlah malaikat penyelamat dari langit.



"Awas, Tom!!!" Tom tiarap. Merengkuhku sambil menarik kemul menutupi seluruh tubuh kami yang menggigil. Kuda itu seperti menerjang, melompati kasur kami bak sirkus di pasar malam. Sialnya mereka berhenti dengan ringkikan kuda yang melentur laksana guntur. Aku mendengar dia hengkang dari pelana, langsung menjejak bumi tanpa meniti sanggurdi.





Ketukan kaki manusia atau iblis? Aku membayangkan sebilah keris menghunus ke arahku. Tom, bangkitlah sebagai pria sejati. Lindungilah wanitamu ini.



Dia duduk di sebelahku. Dia menggumam geram. Aku belum siap mati. Aku belum memesan peti kayu jati.



"Tom!" Aku kaget, bokongku disentuh oleh makhluk itu. Meremas dengan binalnya. Kurang ajar sekali dia. Belum pernah seumur hidup aku dilecehkan macam ini bahkan oleh pria brengsek sekalipun. Kini pantatku diremas bagaikan adonan donat. Aku ingin bangun dan menjotos muka jurig itu. Tapi aku takut.... Janganlah takut, Stefani. Ayo sang wonder woman, bangkitlah!



"Kurang ajar kau!!!"



Kosong. Tiada penunggang. Tak ada kuda. Tak ada hutan. Ini kamar tidurku. Ah... aku akhirnya kembali ke muasalku. Ruangan yang hangat dan sentosa. Puji Tuhan.



"Tom, kita sudah berganti tempat."

"Tadi seru banget. Kayak nonton film horor 4 dimensi."

"Kamu diam saja pantat istrimu dilecehkan dedemit itu." Aku komplain.

"

Ni de pi ku mei you mo yi mo gen nan shen bu ran, hahaha…. “(你的屁股没有摸一摸跟男生不然) [2]



PLAK! Kutampar pipinya.



**

Petang ini aku ada janji kongkow di mal bersama Rahayu. Sekadar menyeruput kopi racikan bartender tampan dan menonton di sinema. Meski aktivitas ini hanya seminggu dua kali namun ampuh menetralisir kesumpekanku akibat menjadi istri rumahan yang wajib melayani keperluan suami serta menyambut kedatangannya dari kantor dengan senyum segar manis.



Biarlah Tom tak mendapati coklat fondue di meja makan. Aku lagi kesal dengan si muka Wuu Chun itu.



"Hai, Ayu, sudah panas bokongmu?" Aku memesan secangkir kopi toraja agar kompak dengan dia.

"Banget ha ha ha...." Behelnya tersibak manakala dia terbahak.



Setelah cas cis cus dan bla bli blu hampir setengah jam, tajuk obrolan kami berpindah ke kasus kematian superaneh yang berlangsung kemarin malam di Taman Suropati.



"Oh ya?" Aku terperanjat.

"Iya. Si cewek yang namanya Marisa itu berselingkuh. Yaa selingkuh model ABG gitu. Cowok yang di sampingnya masih bengong sampai sekarang. Dari hasil visum, leher Marisa seakan-akan dililit tali bukan cekikan tangan manusia. How peculiar!"



Rahayu begitu lancar membeberkan berita yang tengah hangat di masyarakat. "Satu lagi cin. Kaca mobilnya ada kalimat 'aku ingin pergi tak mau menginjak bumi'. Oh my God! Apa itu?"



Deg. Katup jantungku tertutup mendadak. Sesak sekali dadaku mendengar kalimat itu. Kalimat itu aku dengar dari hantu di luar jendela sebelum aku dan Tom bertamasya ke rimba berantah.



Kejanggalan bermula dari serbuk gula yang bagai ditiup, darah amis dari kening Tom, hantu di luar jendela, hingga perpindahan dimensi ruang yang terjadi dalam setengah detik. Semua itu berjalan di antara kami. Sebuah valentine horor. Lantas aku melihat labirin buntu antara valentine horor di rumah dengan valentine berdarah di taman itu.

Kalimat misterius itulah yang membuntukannya. Aku harus membongkar misteri ini. Kudesak Tom agar dia rela membantuku.



"Halo, Tom, masih di kantor?"

"Iya, aku sebentar lagi pulang kok."

"Kamu mau aku buatkan coklat fondue?"



[1] Aku ingin pergi tak mau menginjak bumi



[2] Untung bokongmu tidak diremas laki-laki genit.



Bersambung...

Tidak ada komentar: