Kamis, 11 November 2010

115. Chihuahua Menggonggong Indosat Berlalu

Hai Pamete, my latest diary. Saya mau curhat nih.

Curhat aja. Kan kamu sudah 12 tahun menulis di buku harian. Perkenalkan namaku Pamete (Papaku Menggoreng Tempe). Aku temannya Pamela, Papamu Mengulek Lada.

Aduh, Pamete garing! Saya itu anggota Pagoda Pastiles Club, Pasukan Penggoda Janda yang Pastinya Tidak Lemah Syahwat. CLEB...! Karena garing, Ken Arok menusuk bokongku dengan keris. AAWWW...!!!



Saya lagi dongkol dengan ulah operator seluler Indosat. Setiap isi ulang senilai Rp 5.000, maka pulsaku "dirampok" Rp 2.000, dari kiriman sms bernomor 9898 atau varian empat digit lainnya. Menerima pesan ini, saldoku jadi tinggal Rp 3.000. Padahal dengan Rp 2.000, ponselku bisa dapat quota broadband 2 MB atau untuk membeli dua sachet minuman serbuk Kuku Bima biar saya lebih berstamina. Stamina stamina eh eh waka waka eh eh. ROSO!!!

Ingat, saya tak pernah sekali pun registrasi ke nomor empat digit itu. Kalaupun nomor saya terdaftar (reg) secara otomatis saat saya baca pesan dari nomor UMB (misal *123#), maka itu adalah jebakan betmen! Dan asal tahu saja, sebelum saya berlangganan operator GSM Indosat, saya dulu juga pernah mengalami kejadian serupa ketika berlangganan operator CDMA Esia. Sami mawon, sama saja.


Mending saya saja yang bikin content bermutu untuk provider itu. Bisa juga content-nya berupa kartun Doyok, Ali Oncom, si lebay Mice, atau si polos Sukribo. Atas nama kejujuran, syaratnya pelanggan harus mengirim pesan registrasi atau instruksi daftar dari nomor UMB. Setuju atau batal. Jangan tiba-tiba menyedot Rp 2.000 tanpa permisi. Andai saja ada satu juta pelanggan (bisa lebih) malang senasib dengan saya. Rp 2.000 X satu juta = Rp 2.000 juta alias Rp 2 miliar per kirim dari pusat. Nilai 2 miliar atau berapa pun itu memang bukan keuntungan langsung dalam bentuk tunai, kecuali tagihan pelanggan pascabayar. Namun, bagi pelanggan prabayar, pemotongan Rp 2.000 adalah penciutan nilai pulsa Rp 5.000, yang dibeli di counter dengan harga Rp 6.000. Jadi dapat disimpulkan bahwa gembar-gembor pariwara tarif panggilan dan SMS murah, bahkan gratis, hanyalah pepesan kosong! Bila Anda goblok, pasti setuju dengan saya.Ternyata pakar IT dan telekomunikasi yang berdasi dan bertitel sarjana atau master ternyata lebih licik dan kejam dibanding preman Pasar Tanah Abang. Kalimatnya sarkastik ya?

Tadinya saya hendak mengkritik Alfamart dan Indomaret, terus saya sebar ke customer care-nya dan blog serta facebook. Kedua minimarket itu sungguh menjengkelkan, sebab sering mengembalikan recehan dalam bentuk permen. Bahkan, kembalian saya yang Rp 400 pernah ditukar permen. Ini sangat melanggar HAM: Hak Asasi Menabung (di celengan). Namun entah kenapa, sekonyong-konyong mereka berubah lebih baik. Kembalian Rp 100 pun diserahkan bulat-bulat. Mungkin mereka masih punya nurani, jadinya introspeksi diri (muhasabah). "Apa ya yang salah dengan minimarket saya?"

Bagaimana dengan Indosat? Introspeksi dirikah? Indosat itu ada di bawah pengawasan siapa sih? Paling Depkominfo kali. Menterinya siapa ya? Oh, Pak Tifatul Sembiring.
Pantas beliau dapat nilai merah. Kenapa Pak SBY belum juga reshuffle kabinet? Paling takut dapat tekanan dari Setgab. Pengawas Indosat tahu enggak ya kalau operator tsb punya bad image sebagai operator yang doyan menyedot pulsa pelanggannya. Ada juga sih operator lain yang punya bad image, seperti yang tarifnya mahal atau jaringannya (sinyal) buruk. Dan Indosat yang paling lucu: nyedot mulu! Tetap keukeuh (ngotot), meski sudah dikecam jutaan pelanggannya di surat pembaca di koran; mulai dari Lampu Merah hingga Kompas. Dari si penjahit sampai si penjahat. Ibaratnya, "Anjing menggonggong kafilah berlalu". Ngapain takut, kan cuma anjing chihuahua. Kaing... kaing... kaing...!

Tapi biar bagaimanapun, Indosat itu mulia lho. Kan dia punya program CSR di bidang kesehatan dan pendidikan. Ia juga membantu korban di Merapi. Oh, baguslah. Semoga duitnya bukan hasil penyedotan pulsa pelanggan.

Seorang tukang tahu gejrot berlari ke arah saya dengan membawa sebilah pisau. Karena waswas, saya berlari menghindarinya. Dengan napas terengah-engah, ia teriak, "MAS, JANGAN LARI! INI KEMBALIANMU KURANG GOPEK (Rp 500). Alhamdulillah, kupikir bokongku yang montok ini bakal ditusuk lagi.

Biarpun miskin dan buta huruf, tukang tahu itu adalah pedagang yang jujur, berbudi luhur, doyan makan bubur, dan tampangnya mirip Mastur. Tapi lebih mulia kalau ia menaruh dulu pisaunya sebelum mengejar coowok tampan, pendiam, religius, apa adanya, dan atletis seperti saya ini, he-he-he.... KLAAANGG!!! Karena narsis abis, kini giliran Ken Watanabe yang mengeluarkan samurainya dan menghunuskan ke arahku.

"HARAKIRI!" hardiknya, menyuruhku bunuh diri.
"HARAKANAN!" tepisku sengit.
Dengan muka kesal, ia menggertakku, "MOTO MOTO!!!"
"AJINOMOTO! MIYABI!"
Watanabe balik bertanya, "You like Miyabi?"
"No. I like Misoto."
"What is Misoto? Is that Misoto Midori?"
"False. This is Misoto Madura from Indofood."
Tak tahan dengan leluconku yang tak lucu, ia memilih harakiri. CLEEBB!!! Sayonara....

Ngomong-ngomong penyedotan, jadi mau disedot sama Agnes Monica. WC-ku mampet Nez. Tolonglah! "Karena kusanggup... walau ku tak mau..." Alamak...

Developed from my diary, "Papaku Menggoreng Tempe (Papi, apa di surga ada tempe?)". October 19-25, 2010

METRO-POLUTAN Blog 3rd Anniversary http://abuwaswas2.blogspot.com

Please follow my account Twitter @abuwaswas and also add my Facebook Abu Waswas

Tidak ada komentar: