Rabu, 12 Mei 2010

108. Ada Uang di Balik Otak


Miris hati ini apabila menyaksikan pemberitaan di media massa mengenai kelulusan ujian nasional (UN). Otak saya sampai berputar 360 derajat karena mendengar ada satu sekolah yang seluruh siswanya tak lulus. Bahkan, merata hingga satu kecamatan. HA...!(teriak). Terlepas dari polemik tentang penyelenggaraan UN, apa yang sih yang salah dengan otak murid-murid itu? Entahlah!

Sepanjang saya berpartisipasi dalam ujian (EBTANAS/UAN/UN), saya selalu lulus, meski bukan peraih nilai tertinggi. Lulusnya bisa jujur ataupun tidak. Sejujurnya saya ingin lulus dengan jujur, namun sistem (sekolah) memaksa saya untuk tidak jujur. Kalau jujur seorang diri, saya dicap munafik atau sok suci. Huh...! Pernah menjelang UN tahun 2006 untuk bahasa Inggris, satu kelas dipungut Rp 10.000/siswa. Hanya saya yang sengaja belum membayar waktu itu. Kemudian guruku bilang ke saya, "Sudarmanto yang ganteng, kamu belum bayar Rp 10.000 (untuk contekan), ya? Apa kamu nggak grogi saat ujian nanti?" Balasku singkat, "Nggak tuch!" Mendengar jawabanku yang judes, guruku kebingungan. "Tapi kan nanti kamu kesulitan, karena ini soalnya lisan." Lalu, "Ih, capek, dech. Sekarang saya lancar berbahasa Inggris karena sering mengonsumsi kecap inggris," gurauku. "Yeh...baru kecap. Kalau saya makan kunci inggris tiap hari," timpalnya tak mau kalah. Akhirnya terpaksa dech saya beli karcis menuju neraka firdaus.

Tahun itu (2006) jumlah mata pelajarannya masih tiga. Tentunya saya dielu-elukan oleh guru-guru dan teman-teman. Katanya saya harus memberi jawaban ke teman-teman pas ujian berlangsung. Padahal saya itu nggak pernah belajar lho, tapi kok mereka bilng saya itu pandai. Narsis lo! Apalagi untuk pelajaran yang namanya matematika. Wuih,saya bolos terus kali. Males jeng!

Masa-masa sekolah memang masa yang paling indah. Kecuali saat SMK (STM), cowok semua! Untungnya mereka selalu menyayangiku dan menasihatiku agar saya tak merokok, miras, narkoba, tawuran, seks bebas, dan judi. Padahal mereka yang menasihatiku itu adalah orang yang justru melakukannya. Aneh. Mirip pepatah, "seorang penjahat tak mau anaknya menjadi seorang penjahat, ia akan menasihati anaknya agar menjadi seorang penjahit". Mereka (dari teman SD hingga SMK) juga selalu membayarku untuk mengerjakan soal-soal mereka. Lumayan buat jajan. Nominalnya mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 20.000. Uangnya dipakai untuk beli alat tulis, nonton di bioskop, nonton bokep di warnet, beli komik, dan macam-macam dech. Termasuk saya menjadi "guru privat" bagi tetangga-tetanggaku yang buah hatinya B 3 GO. Bagi yang orangtuanya kaya, saya diberi imbalan yang pantas. Namun, bagi yang orangtuanya miskin, mereka hanya bilang, "Arigato (terima kasih)." Seketika kujawab, "Ai, sakumurata (dasar bokek lu!)."

Tidak ada komentar: