Rabu, 25 November 2009

95.Sandal Jepit Sang Mantan Koruptor


Untuk keluar rumah dengan jarak dekat, saya hanya pakai sandal jepit seharga Rp 5.000-Rp 7.500. Jarak dekatnya semisal ke minimarket, ke masjid, dan ke warnet. Hingga pada suatu kala sandalku yang masih gres sirna, seusai shalat Isya. Yang tersisa cuma seonggok sandal yang buruk rupa. Dengan berat hati kuayunkan kaki dengan sandal itu. Ternyata ada juga jemaah masjid yang bernaluri maling. Bibirnya mengucap bismillah, namun kelakuannya na'uzubillah.

Tunggu, kasusnya belum rampung. Karena jengkel sandalnya hilang, maka saya pergi ke warnet. Begitu urusan dengan jemaah dunia maya usai, sandal murahanku tak ada. Yang ada sepasang sandal baru dari jenis yang sama. Ya sudah, mau tak mau saya kenakan sandal swalow baru itu, daripada nyeker. Memang antara musibah dan anugerah hanya setipis kondom. Dan supaya tidak hilang lagi, sandal temuan itu saya mandikan dengan air dari sumber tujuh mata air. Diperoleh dari air mineral yang kemasannya tertera, "Dari Mata air Babakan Pari, Gunung Salak"; "Mata air Gunung Salak"; "Mata air Babakan Pari, Sukabumi"; "Mata air Sigedang, Klaten"; "Mata air Pati"; "Mata air Cipondok, Subang"; dan "Mata air sumur". Ha-ha-ha, kurang kerjaan! Sedangkan si pemakainya mandi dengan bunga/kembang tujuh rupa, yaitu Bunga citra lestari; bunga desa; kembang janda; kembang perawan; kembang tahu; kembang kempis; dan kembang biak. Wah, tambah ngaco deh gue....

Walaupun sandal jepit hilang, saya tak jera untuk shalat berjamaah lagi di masjid. Naasnya sandalku yang sudah dimandikan dengan air keramat, hilang lagi. Tertukar jadi lebih buruk. Lu sich musyrik, pakai agenda mandi tujuh mata air segala. Sekarang matalu yang berair (nangis). Lalu selang sepuluh jam kemudian, saat shalat Subuh, sandal buruk itu tertukar menjadi lebih kinclong. Hingga waktu terus berlari, sandal kinclongku menjadi jelek, usang digerogoti usia. Saya pun mengembara ke warnet dengan sandal gembel mirip pengemis keadilan. Ketika keluar (dari warnet) saya bertanya, "Lho koq, sandal gembelku raib?" Yang tersisa ialah sandal bagus yang dicampakkan pemilknya. SIKAAAAT!!! Bila ada istilah istri atau piala bergilir, dalam sejarahku ada istilah sandal bergilir.

Terkadang di malam remang-remang yang mana semilir angin membelai jenggot tipisku, saya merenung sok bijak bak seorang nabi akhir zaman, Rasulullah SAW, bahwa hakikatnya manusia tak punya apa pun di dunia ini. Allah-lah yang memilki segalanya. Saya lahir dalam keadaan lemah dan miskin, begitupun saat mati kelak. Saya juga mesti belajar kehilangan sesuatu yang saya cintai, kehilangan ponsel, kehilangan kendaraan, dan kehilangan anggota keluarga. Menurut hemat saya, kehilangan terbesar adalah terampoknya keperjakaan di malam pertama nanti. He-he-he, ini malah kehilangan yang saya harapkan. Karena peristiwa inilah saya jadi malu, sebab justru sandal jepitlah yang mengajarkan saya bahwa saya tak memiliki apa pun di dunia ini. Jadi, saya tak usah protes pada Sang Pemberi kalau permintaan saya tak terkabulkan, juga tak perlu menjadi sosok yang serakah. Karena keserakahan (korupsi) yang pernah saya perbuat, saya dipecat dari tempat kerja yang dulu. Untung belum ketemu cicak....

Tidak ada komentar: