Senin, 20 Juli 2009

82. Rp 1.000 Untuk Pengemis Cinta - Rp 0 Untuk Pengemis Nenek



Pengalaman Sudarmanto Syaukanie

Ini unik. Sepulang dari kantor pos, usai kirim surat ke redaksi Kompas, saya bersua dengan pengemis nenek. Dari jauh, saya sudah ancang-ancang, "Nanti gue kasih seceng (Rp 1.000)." Begitu dekat, malah tak jadi. Bukan lantaran saya pelit, saya terkejut. Sebab, dia mengacungkan tangannya ke arah saya secara tiba-tiba. Karena kaget, maka goyahlah pendirianku. Bodoh nian kau!

kala si oma itu menjauh, saya menemukan selembar kertas bergambar Kapitan Pattimura berpose dengan goloknya, telentang di bibir trotoar. Mau kukasih, ia telah raib. Kenapa si pengemis nenek itu tak awas jika ada uang di sini. Bukankah nenek renta dan peyot itu melewati jalan ini tadi.... Apa matanya -yang mungkin presbiopi- hanya menyelidiki wajahku nan tampan paripurna? Tampan itu "tampak ancur".

Bilamana pengemis itu memerhatikan badan jalan, harta ini 'kan jadi haknya. Sesungguhnya, ia punya dua peluang: mendapatkan Rp 1.000 dari aspal robek dan Rp 1.000 dari saya. Sayangnya, ia tak awas, ditambah lagi dengan mengejutkanku -yang niat awalnya mau memberi.

Ya Allah, Tuhan yang romantis, mengapa rezeki ini justru untukku, sang "pengemis cinta". Rp 1.000 bagiku, paling untuk membakar selinting tembakau. Kalau untuk pengemis, mungkin bisa buat tambahan beli sekepal nasi kucing. Yang jika dilahap, kenyang kagak, lapar lagi dech. Dasar geragas!(rakus). Miaaauuuwww...miaaaauwwww....

From my diary, "Bertelanjang Dada - Berbaju Takwa". Date 6 Juli 2009

Tidak ada komentar: