Sabtu, 04 Juli 2009

81. Paman Tampan Belajar Jadi Ayah Gadungan



Melisa (3), "Lik, lihat dompetnya ya. Aku mau lihat foto paklik waktu masih kecil." Melisa manggil saya 'le', kependekan dari 'paklik', yang jika dilafalkan berbunyi 'pakle'. Artinya paman. Biasanya kalau lihat dompet, pasti ada maunya. Jajan. Saya ucap, "Tapi, jangan beli es ya." Kalau dia mau es, harus izin ke saya. Dia lebih takut saya dibanding orang tuanya. Ho-ho-ho-ho-ho (tertawa bangga).

Kami sekeluarga pernah terkejut, lantaran dia sudah latah. Jika latah, menyebut 'k**t*l', alat kelamin pria. "JANGAN NGOMONG GITU!!!!!" teriak saya. Karena anak-anak, dinasihati bukannya nurut, malah ngeledek. Jika ada anak-anak ngomong kotor, kita jangan teriak. Malah mereka akan mengulangi kata yang kita larang.

Keponakan menangis. Inilah yang menyebalkan, telingaku panas! Saya joget aja, dan dia pun terhibur. Menghadapi balita, harus berani tampil konyol, maksudnya membadut. Aku nyanyi sambil joget, nungging dan ketut. Malu juga, harus membadut di depan keluarga. Perangai asliku kan pendiam. Bodoamat! Yang penting keponakan terhibur.

Dia hafal lagu-lagu pop. Waktu masih kecil, aku nyanyi lagunya pak Ateng, "Del ta ko del/ko del/ta ko del/ko del." Lagu band Seventeen, dia hafal. Saya modifikasi syairnya, "Jelaskan padaku, isi dompetmu/ Seberapa tebalkah, untuk jadi pacarku/ Mengapa harus aku yang membayar/ Tak pernahkah kau berpikir, sedikit tentang gajiku." Termasuk lagunya band Netral, "Garuda di uang gope/ Garuda di uang seribu/ Kuyakin, hari ini pasti jajan." Melisa protes, "Bukan gitu. Salah!" Toh, akhirnya dia nyanyi versi modifikasi saya. (Pernah) Waktu aku gajian, aku belikan susu. Ternyata susunya salah. Tak sesuai dengan kategori usianya. Sok tahu, sih!

Kalau hanya berdua, terus dia mau BAB, itu menyebalkan! Kan mesti dicebokin. Aku menggerutu, "Jijik, Amit-amit! Aku belum siap punya anak, apalagi harus menyentuh kotorannya." Lalu dia berujar, "Terima kasih ya, Lik." Hatiku pun luluh, tersentuh nian. Ucapan terima kasih dari seorang balita polos lebih berharga dibanding ucapan dari orang dewasa, yang terkadang hanya basa-basi dan tak ikhlas. Imbalannya, aku persembahkan tembang cantik milik biduan terseksi, Julia Perez. Kami pun bersenandung dan bergoyang bersama. "Semua orang, pasti suka belah duren/Apalagi malam pengantin/ Sampai pagi pun, yo wis ben." Ci ye...malam pengantinnya Mas Riza dan istrinya yang bahenol, Nyonya Ima Azmi. Tempat tidur sampai ambruk, tuh. Tak apa ambruk, asalkan bahtera rumah tangganya awet sampai jompo, bahkan hingga mati. Amin. Maaf Mas Riza, aku tak bisa datang ke resepsinya. Aku sedang kerja di Selandia, selatan Gondangdia.

"Lik, cerita-cerita dong!" Jawabku, "Ini bukan Kompas. Ini Republika. Nanti hari Minggu." Saya sering mendongengkan cerita dari Kompas Anak untuknya. Kalau mau minum, pakai baju, ambil mainan, buang sampah, dan kencing, maka kusuruh mandiri. Dia susah kalau mandi. Padahal ibunya sudah bicara panjang x lebar= "Mandi Mel! Bla-bla-bla." Tetap saja tak mau. Cukup satu kata dariku, "Mandi!" Langsung dia mandi. Anak-anak tak suka jika kita bicara bertele-tele alias cerewet. Apalagi jika kita seorang bapak, bapak yang cerewet, hilang wibawa kebapakannya. Lagipula seorang ayah tak layak jika cerewet.

Bapaknya Melisa, masih muda banget. Sebaya dengan saya. Waktu masih putih abu-abu, kami bolos bareng, main PS, lalu ke Blok M. Gemez!! Masih muda, namun sudah punya anak (fresh father). Saking gemasnya, aku tonjok pantatnya. Ternyata pantatnya tepos/kempis. Kalau sudah kawin, pantat kita tepos kali ya? Kan di tiap malam yang dingin, kita "kerja bakti" sama istri/suami. Jadi, lemak di pantatnya terbakar. Bokong gue mah pandat dan montok, sebab badan gue agak sintal.

Huuuuuhh...mendidik anak itu lucu juga, dan menyebalkan pastinya. Karena aku serumah dengan keponakan, maka secara langsung terlibat dalam pengasuhan. Serasa punya momongan, hi-hi-hi-hi. Tinggal kawin, nich! Biayanya? Minta orang tua dan mertua aja. Ah...sontoloyo!!!!!!!!
Q:"Memang mau nikah sama siapa, sih?"
A:"Sama Agnes."
Q:"Monica?"
A:"Bukan, Sumarsih!"
Q:"Lho, Agnes Sumarsih itu kan ibunya Katon Bagaskara?"
A:"Benarkah??? TIDAAAAAAAAAAAKKK!!!! [screaming].

Tidak ada komentar: