Rabu, 22 April 2009

75. Kuntilanak Telanjang


Kakakku bercerita, bahwa tukang bakwan malang langganannya ketemu kuntilanak di pemakaman Tanah Kusir, Senin (16/9 2009), pukul 10 malam.

Kakak (k) dan saya (s) memulai pembicaraan hari Selasa siang.

K :"Eh, si David (bukan nama sebenarnya) ketemu kuntilanak di Tanah Kusir."
S :"Masa? Di mananya?"
K :"Di belakang komplek makam Bung Hatta, di antara jalur rel kereta api.Dia telanjang, bo!"
S :"Telanjang? Biasanya pake gaun putih, apa jangan-jangan gaunnya dilaundry? Dia langsung menakuti-nakuti?"
K :"Langsung, dan ketawa-tawa."
S :"Ih, tanpa basa-basi. Harusnya dia menyamar dulu jadi manusia, dan pura-pura mesan sepuluh mangkuk. Kan mirip hantu di film Suzana."
K :"Si David langsung terbirit-birit."
S :"Pasti terbirit-birit sampai terkentut-kentut. Mungkin aja kuntilanaknya lapar, dan mau bakwannya. Dia dagangannya laris gak?"
K :"Nggak lah!"

Percakapan berlanjut hari Rabu, inti dialognya yaitu, si David ternyata dagangannya laris. Hanya dua jam langsung habis! Dan hal yang sama terulang lagi hari Kamis, yaitu dagangannya laris.
Benar kan! Apa kataku, pasti dapat hoki. Begitulah kalau "orang kecil" mengais rezeki, bersusah payah sampai bertemu makhluk halus. Demi anak istri dan masa depan.
Bukankah kita wajib bersyukur pada Tuhan, atas apa yang Dia berikan pada kita. Meskipun kita sering lupa pada-Nya, toh Dia tak pernah lupa pada kita.

Dari Catatan Harian Non Digital

Tidak ada komentar: