Senin, 24 Maret 2008

34. Ayah, Aku Sangat Mencintaimu....


Penulis: Gus Wai (WikiMu, bisa-bisanya kata)

Prolog: Hayat Fakhrurrozi (buletin dakwah Masjid Al Hidayah)

Editor: Abu Waswas (Metro-Polutan, Bacalah apa yang tak mampu kaubaca)



Pernahkah kita berpikir sesaat seperti apa sosok ayah di mata kita? Seperti apa ayah kita? Atau seperti apa sebutan ayah itu melekat pada diri kita? Bahkan sudahkah kita berlaku sebagai seorang ayah yang didambakan istri atau anak-anak kita?



Tulisan ini paling tidak akan mengantarkan kita sedikit bernostalgia tentang ayah dan mungkin akan mengoreksi keayahan kita selama ini.



Ayah ingin anak-anaknya punya lebih banyak kesempatan daripada dirinya, menghadapi lebih sedikit kesulitan, lebih tidak tergantung pada siapa pun , dan (tapi) selalu membutuhkan kehadirannya.



Ayah membiarkan kamu menang dalam permainan ketika kamu masih kecil, namun dia tidak ingin membiarkanmu menang ketika kamu sudah besar.

Ayah selalu tepat janji! Dia akan memegang janjinya untuk membantu seorang teman, meskipun ajakanmu untuk pergi sebenarnya lebih menyenangkan.



Ayah selalu sedikit sedih ketika melihat anak-anaknya pergi bermain dengan teman-teman mereka. Karena dia sadar itu adalah akhir masa kecil mereka.



Ayah mulai merencanakan hidupmu ketika tahu bahwa ibumu hamil (mengandungmu). Tapi begitu kamu lahir, ia mulai membuat revisi.

Ayah membantu membuat impianmu jadi kenyataan. Bahkan dia pun bisa meyakinkanmu untuk melakukan hal-hal yang mustahil, seperti mengapung di atas air setelah ia melepaskannya.



Ayah mungkin tidak tahu jawaban segala sesuatu, tapi ia dengan sukacita membantumu untuk mencarikannya.

Ayah mungkin tampak galak di matamu, tetapi di mata teman-temanmu dia tampak baik dan menyayangi.



Ayah lambat mendapat teman, tapi dia bersahabat seumur hidup.

Ayah benar-benar senang membantu seseorang... namuni ia sukar meminta bantuan.



Ayah di dapur. Membuat memasak seperti penjelajahan ilmiah.

Dia punya rumus-rumus dan formula racikannya sendiri, dan hanya dia sendiri yang mengerti bagaimana menyelesaikan persamaan-persamaan rumit itu. Ia begitu pelan-pelan memotong cabai dan bawang. Ia akan menimbang bahan-bahan sesuai yang tertulis di majalah wanita.

Dan hasilnya? Hmmmhhh... tidak terlalu mengecewakan ^_~. Dan lebih lezat dari Farah Quinn. Yummmy!



Ayah mungkin tidak pernah menyentuh sapu ketika masih muda, tapi ia bisa belajar dengan cepat.



Ayah paling tahu bagaimana mendorong ayunan cukup tinggi untuk membuatmu senang tapi tidak takut.



Ayah akan memberimu tempat duduk terbaik dengan mengangkatmu di bahunya, kala pawai ondel-ondel lewat.

Ayah takkan memanjakanmu ketika kamu sakit, tapi ia tidak akan tidur semalaman. Siapa tahu kamu membutuhkannya.

Ayah menganggap orang itu harus berdiri sendiri, jadi dia tidak mau memberitahumu apa yang harus kamu lakukan, tapi ia akan menyatakan rasa tidak setujunya.

Ayah percaya orang harus tepat waktu, karena itu dia selalu lebih awal menunggumu.



AYAH ITU MURAH HATI...

Ia akan melupakan apa yang ia inginkan, agar bisa memberikan apa yang kamu butuhkan.

Ia menghentikan apa saja yang sedang dikerjakannya, kalau kamu ingin bicara padanya....



Ia selalu berpikir dan bekerja keras untuk membayar uang kuliah atau sekolah tiap semester. Walaupun kamu tidak pernah membantunya menghitung berapa banyak kerutan di dahinya....

Ayah mengangkat beban berat dari bahumu dengan merengkuhkan tangannya di sekeliling beban itu....



Ayah akan berkata , "Tanyakan saja pada ibumu." Manakala ia hendak berkata ,"Tidak."

Ayah tidak pernah marah, tetapi mukanya akan sangat merah padam ketika anak gadisnya menginap di rumah teman tanpa izin.

Dan dia pun hampir tidak pernah marah, kecuali ketika anak lelakinya kepergok mengisap rokok di kamar mandi.

Ayah mengatakan , "Tidak apa-apa mengambil sedikit risiko asal kamu sanggup kehilangan apa yang kamu harapkan."



Pujian terbaik bagi seorang ayah adalah ketika dia melihatmu melakukan sesuatu hal yang baik persis seperti caranya.

Ayah lebih bangga pada prestasimu, daripada prestasinya sendiri.

Ayah hanya akan menyalamimu ketika pertama kali kamu pergi merantau meningalkan rumah. Sebab bila dia sampai memelukmu mungkin ia tidak akan pernah bisa melepaskanmu.



Ayah tidak suka meneteskan air mata . Bilamana kamu terlahir dan dia mendengar kamu menangis untuk pertama kalinya, dia sangat senang sampai-sampai keluar air dari matanya (ssst... tapi sekali lagi ini bukan menangis:).



Saat kamu masih kecil, ia bisa memelukmu untuk mengusir rasa takutmu waktu kau mimpi akan dibunuh monster. Tapi, ternyata dia bisa menangis dan tidak bisa tidur sepanjang malam, ketika anak gadis kesayangannya di tanah rantau tak memberi kabar selama hampir satu bulan.



Ayah pernah berkata, " Kalau kau ingin mendapatkan pedang yang tajam dan berkualitas tinggi, janganlah mencarinya di pasar apalagi tukang loak. Melainkan datang dan pesanlah langsung dari pandai besinya. Begitupun dengan cinta dan teman dalam hidupmu, ia kan berkata, "Jika kau ingin mendapatkan cinta sejatimu kelak, maka minta dan pesanlah pada Yang Menciptakannya."



Untuk masa depan anak lelakinya ayah berpesan, J"adilah lebih kuat dan tegar daripadaku dan pilihlah ibu untuk anak-anakmu kelak wanita yang lebih baik dari ibumu. Berikan yang lebih baik untuk menantu dan cucu-cucuku, daripada apa yang yang telah kuberi padamu."



Dan untuk masa depan anak gadisnya ayah berpesan, " Jangan cengeng meski kau seorang wanita. Jadilah selalu bidadari kecilku dan bidadari terbaik untuk ayah anak-anakmu kelak! Laki-laki yang lebih bisa melindungimu melebihi perlindungan ayah. Dan ingat, jangan pernah kau gantikan posisi ayah di hatimu."



Ayah bersikeras bahwa anak-anakmu kelak harus bersikap lebih baik daripada kamu dulu....

Ayah bisa membuatmu percaya diri, karena ia percaya padamu.

Ayah tidak mencoba menjadi yang terbaik, namun dia hanya mencoba melakukan yang terbaik.

Dan yang terpenting adalah... ayah tidak pernah menghalangimu untuk mencintai Tuhan. Bahkan dia akan membentangkan seribu jalan agar kau dapat menggapai cintaNya, karena dia pun mencintaimu karena cintaNya.

Tidak ada komentar: